Tandaseru — Malam baru saja turun di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Di balik rimbunnya dedaunan pohon sirih, kersen, dan awar-awar, sepasang mata bulat bersinar dalam kegelapan. Itulah Kuskus Obi (Phalanger rothschildi), satwa marsupial endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Obi, Pulau Bisa, dan Obi Latu.

​Dengan bulu tebal berwarna jingga kecokelatan berpadu abu-abu kehitaman, serta perut putih kekuningan, satwa nokturnal seberat 1,36 kilogram ini bergerak lincah. Ekor panjang prehensil-nya menggenggam erat ranting pohon, sementara sang induk mendekap hangat anaknya di dalam kantung perut mirip seekor kanguru mini yang mengawal masa depan hutan Maluku Utara.

​Kuskus Obi bukan sekadar penghuni hutan. Mereka adalah “petani alami” yang memegang kunci keberlanjutan ekosistem. Melalui buah-buahan yang mereka konsumsi, benih-benih pohon tersebar secara alami, meregenerasi hutan, dan menjaga keseimbangan alam yang rapuh di pulau tersebut.

​Namun, harmoni itu kini sedang diuji. Deru pembangunan, pertumbuhan penduduk, kebakaran hutan, hingga masifnya investasi pertambangan dan pembukaan lahan perkebunan kian mempersempit ruang gerak sang satwa endemik. Rumah mereka terfragmentasi, dan sumber pangan mereka perlahan sirna.

​Sebuah penelitian komprehensif oleh Nasir Tamalene, Buyung, dan Said Hasan pada tahun 2019 menyingkap tabir pahit. Dari delapan jalur pengamatan yang disisir, tim peneliti hanya menemukan total 41 individu kuskus. Ironisnya, 39 di antaranya adalah spesies Phalanger ornatus, sedangkan Kuskus Obi (Phalanger rothschildi) hanya ditemukan dua individu saja di satu lokasi pengamatan. Angka ini menjadi alarm keras bahwa persebaran kuskus endemik Obi sudah sangat terbatas di alam liar.

​Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Kawasi, Bambang Bakri, menuturkan bahwa memang ada segelintir warga yang sering berburu kuskus untuk dikonsumsi, namun aktivitas itu sudah sangat jarang dijumpai karena keberadaan satwa tersebut kini sudah sangat langka ditemukan. Pihak pemerintah desa sendiri belum mengetahui secara pasti apakah hilangnya kuskus ini lebih didominasi oleh aktivitas penambangan ataukah akibat ulah perburuan liar dan anggapan masyarakat yang menganggapnya sebagai hama.

“Intinya, pemerintah desa terus membangun komunikasi dengan pihak perusahaan untuk tetap menjaga kelestarian alam di tengah aktivitas industri,” ujar Bambang saat ditemui di Desa Kawasi, Jumat (05/06/2026).

​Merespons ancaman nyata ini, kesadaran kolektif mulai tumbuh di area operasional industri. Harita Nickel, salah satu perusahaan tambang yang beroperasi di Pulau Obi, menyatakan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan pelestarian lingkungan di wilayah operasional mereka.

​Melalui program bertajuk “Sahabat Konservasi” yang rutin dijalankan sejak kuartal II 2025 di Desa Kawasi dan Soligi, upaya menanamkan benih kepedulian pada generasi muda mulai digulirkan. Program edukasi ini menggunakan metode visualisasi satwa, simulasi, diskusi kelompok, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test untuk memutus rantai ketidaktahuan sejak dari ruang kelas.

​Pada tahun 2025, sebanyak 90 siswa TK dan SD di Desa Kawasi telah mendapatkan edukasi mengenai satwa endemik di sekitar wilayah mereka. Langkah ini berlanjut pada 6 Mei 2026, ketika sebanyak 42 siswa SMA Negeri 35 Halmahera Selatan di Desa Soligi mengikuti pembelajaran interaktif yang bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional.

​Assistant Vice President Site Corporate Communications Harita Nickel, Joseph Sinaga, mengatakan bahwa program tersebut bertujuan membangun kesadaran generasi muda terhadap satwa endemik. Hasil evaluasi dari metode pembelajaran ini menunjukkan dampak positif dengan adanya peningkatan nilai rata-rata pemahaman peserta sekitar 30,6 persen.

“Hingga kini, program Sahabat Konservasi telah berhasil menjangkau sekitar 170 siswa dari tingkat SD hingga SMA di Desa Soligi dan Kawasi,” kata Joseph kepada tandaseru.com.

​Langkah mengedukasi anak-anak sekolah tentu tidak berjalan sendiri. Di lapangan, Harita Nickel juga bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara untuk melakukan sosialisasi perlindungan keanekaragaman hayati kepada masyarakat yang lebih luas.

​Bagi para karyawan di area operasional, aturan dan pengawasan ketat juga diberlakukan. Sosialisasi mengenai larangan perburuan satwa liar serta pentingnya menjaga ekosistem rutin diberikan kepada seluruh elemen pekerja.

“Di sisi lain, pemantauan keanekaragaman hayati secara berkala serta pemulihan kawasan terdampak menjadi agenda wajib demi memberikan ruang hidup bagi satwa-satwa endemik,” ungkapnya.

​Meskipun saat ini Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) masih memasukkan Kuskus Obi dalam status Least Concern atau Risiko Rendah, ancaman perburuan dan penyusutan habitat nyata terjadi di lapangan.

Pihak manajemen Harita Nickel menyatakan bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai melalui tanggung jawab ekologis kolektif dari seluruh elemen perusahaan dan masyarakat sekitar. Hanya dengan menjaga rumah Kuskus Obi, masa depan paru-paru hijau Maluku Utara dapat tetap terselamatkan.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter