Tandaseru — PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) resmi meluncurkan inisiatif KUSO (Kelola Ulang Sampah Organik) di wilayah operasionalnya di Pulau Obi, Halmahera Selatan.

Program ini berhasil mengolah sekitar 7,4 ton sampah organik dari kantin karyawan menjadi pupuk kompos sepanjang periode Maret 2024 hingga November 2025.

Langkah strategis ini diambil perusahaan guna menekan potensi pencemaran lingkungan akibat volume sampah harian yang tinggi dari sekitar 23 ribu tenaga kerja di area tersebut.

​Dari total sekitar 7,4 ton sampah organik yang berhasil diolah di fasilitas Rumah Kompos CAKRA milik perusahaan, sebanyak 60 persen atau setara dengan 4,4 ton berhasil dikonversi menjadi pupuk kompos padat. Selain itu, proses pengolahan ini juga menghasilkan produk sampingan berupa Pupuk Organik Cair (POC) dengan volume berkisar antara 370 hingga 741 liter.

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) resmi meluncurkan inisiatif KUSO (Kelola Ulang Sampah Organik). [Istimewa]

​Nama KUSO sendiri diadopsi dari akronim aktivitas pengelolaan sampah sekaligus terinspirasi dari Kuskus Obi, satwa marsupial nokturnal endemik Pulau Obi yang secara lokal disebut kuso. Satwa ini dipilih manajemen sebagai simbol keharmonisan antara operasional industri skala besar dan komitmen pelestarian keanekaragaman hayati setempat.

​Untuk teknis operasionalnya, proses pengolahan sampah kini dipusatkan di Rumah Kompos CAKRA dengan menerapkan metode aerob.

Assistant Vice President Site Corporate Communications Harita Nickel, Joseph Sinaga menjelaskan bahwa proses pengomposan tersebut dilakukan secara aerob dan membutuhkan pembalikan secara rutin demi menjaga aliran oksigen serta stabilitas kelembapan.

​Alur pengolahannya dimulai ketika sampah organik yang telah dipilah dari sumbernya dicacah, lalu dicampur dengan serbuk kayu atau daun kering guna menyeimbangkan rasio karbon serta nitrogen.

“Jadi campuran material tersebut kemudian dimasukkan ke dalam komposter tertutup untuk menjalani proses fermentasi dengan bantuan Mikro Organisme Lokal (MOL) yang bertindak sebagai bioaktivator,” ujar Joseph, Jumat (05/06/2026).

​Joseph menambahkan, seluruh produk kompos padat dan cair yang dihasilkan dari program KUSO saat ini langsung dialokasikan secara internal untuk mendukung tiga program utama lingkungan perusahaan.

“Diantaranya pemeliharaan ruang terbuka hijau, pengembangbiakan tanaman di fasilitas nursery, serta mendukung kegiatan reklamasi lahan di area bekas operasi tambang,” ungkapnya.

​Menurut Joseph, program KUSO ke depan ditargetkan menjadi percontohan untuk unit bisnis lainnya. Pihaknya berharap program ini dapat direplikasi secara mandiri di berbagai unit bisnis perusahaan agar dampak dan manfaat lingkungannya menjadi semakin besar.

​”Inisiatif KUSO ini sekaligus memperpanjang daftar program ekonomi sirkular yang telah berjalan di lingkungan Harita Nickel,” pungkasnya.

Sebelumnya, perusahaan juga telah mengimplementasikan pemanfaatan botol bekas untuk biofilter Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), konversi sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, serta substitusi bahan bakar batu bara menggunakan minyak jelantah pada fasilitas smelter.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter