Oleh: Riski Samsudin
Ketua Karang Taruna Soa Romdidi Desa Saria
_______
DI Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 ini, Karang Taruna Soa Romdidi Desa Saria tidak ingin sekadar upacara, atau merayakan hari sumpah pemuda dan foto bersama. Kami ingin bersumpah untuk menjaga tanah air kami yang sesungguhnya: Pesisir Saria.
Tanah air kami bukan hanya darat. Tanah air kami adalah laut di depan rumah kami. Dan hari ini, laut itu sedang sakit.
Saya, Riski Samsudin, Ketua Karang Taruna Soa Romdidi, bersama seluruh pemuda Soa Romdidi, dengan tegas meminta: HENTIKAN AKTIVITAS MEMANAH IKAN DI PESISIR DESA SARIA.
Kami sudah terlalu lama diam. Setiap malam, pesisir Saria terang oleh lampu-lampu penyelam panah ikan. Mereka menyelam, memanah ikan di karang-karang dangkal, di rumah ikan, di tempat ikan bertelur.
Mereka bilang itu cari makan. Tapi kami, anak nelayan asli Saria, tahu itu adalah perusakan.
Kenapa kami minta dihentikan?
Pertama, panah ikan merusak terumbu karang Saria.
Pemuda Soa Romdidi tahu, ikan di Saria tidak tinggal di laut dalam, tapi di karang-karang dangkal pesisir. Saat aktivitas panah ikan dilakukan dengan menginjak karang, menyorot lampu terang dan memanah secara membabi buta, karang-karang yang butuh puluhan tahun untuk tumbuh itu patah dan mati. Kalau karang mati, ikan hilang. Kalau ikan hilang, nelayan Soa Romdidi mati pelan-pelan.
Kedua, panah ikan mengambil hak nelayan kecil Saria.
Nelayan Soa Romdidi melaut dengan pancing tradisional, dengan perahu Pajeko. Hasilnya pas-pasan untuk makan keluarga. Sementara pemanah ikan mengambil ikan-ikan besar induk yang sedang bertelur di pesisir dengan cara yang tidak adil. Ikan-ikan karang seperti Kerapu, Baronang, dan Lola yang menjadi harapan nelayan pancing, habis disapu malam hari. Ini tidak adil.
Ketiga, ini soal masa depan pemuda Saria.
Sumpah Pemuda 1928 berbunyi: Bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Bagi kami di Soa Romdidi, bertumpah darah yang satu, laut Saria. Jika laut Saria rusak hari ini karena panah ikan, maka 5 tahun lagi pemuda Soa Romdidi tidak punya lagi tempat untuk melaut. Mau jadi apa kami? Jadi pengangguran di kampung sendiri?
Oleh karena itu, pada momentum Sumpah Pemuda ini, Karang Taruna Soa Romdidi Desa Saria menyatakan sikap:
- Meminta kepada Kepala Desa Saria dan Pemerintah Kecamatan Jailolo untuk segera membuat aturan larangan memanah ikan di zona pesisir dan terumbu karang Desa Saria.
- Meminta kepada oknum-oknum pelaku panah ikan, dari luar Desa Saria, untuk menghentikan aktivitas tersebut di pesisir Saria. Cari ikan di tempat lain, jangan merusak rumah kami.
- Mengajak seluruh pemuda Saria untuk bersama Karang Taruna Soa Romdidi melakukan pengawasan pesisir di malam hari. Kita jaga laut kita sendiri.
Kami tidak melarang orang mencari makan. Kami melarang cara mencari makan yang merusak.
Menjadi pemuda di Hari Sumpah Pemuda bukan hanya soal berteriak “Merdeka” di lapangan. Menjadi pemuda adalah berani menjaga tanah lahirmu, menjaga lautmu, meskipun tidak disukai orang.
Jika kita diam hari ini, besok pesisir Saria akan menjadi gurun. Tidak ada karang, tidak ada ikan.
Karang Taruna Soa Romdidi tidak akan diam. Kami bersumpah, kami akan jaga pesisir Saria.
Hentikan Panah Ikan di Pesisir Saria Sekarang!
Hidup Pemuda! Hidup Nelayan Soa Romdidi! (*)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.