(Renungan Menjelang Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026)

Oleh: Ilham Djufri

Dosen Teknologi Informasi Institut Teknologi Gamalama

________

JIKA dunia sedang berlari menuju masa depan berbasis kecerdasan buatan, apakah pemuda Maluku Utara akan ikut berlari, atau justru tertinggal sebagai penonton di tanahnya sendiri? Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita gelisah ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara manusia belajar, bekerja, berbisnis, dan mengambil keputusan, di mana posisi pemuda Maluku Utara?

Apakah mereka akan menjadi pencipta masa depan, atau sekadar pengguna teknologi yang dikembangkan orang lain? Apakah mereka akan memanfaatkan AI untuk mengangkat potensi daerahnya, atau hanya menyaksikan peluang ekonomi baru tumbuh di tempat lain? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana teknologi. Ini adalah pertanyaan tentang masa depan, daya saing, dan keberanian sebuah generasi untuk menentukan nasibnya sendiri.

AI tidak menunggu kita siap, dunia tidak pernah benar-benar berhenti berubah. Namun, revolusi kecerdasan buatan memiliki kecepatan yang berbeda. Jika dahulu seseorang membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyusun laporan, menganalisis data, membuat desain, atau menerjemahkan dokumen, kini sebagian pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan bantuan AI.

AI dapat membantu mahasiswa memahami materi kuliah, membantu pelaku UMKM membuat strategi pemasaran, membantu petani mengakses informasi budidaya, membantu nelayan memperoleh informasi cuaca dari sumber yang tersedia, hingga membuka peluang bagi anak muda untuk membangun bisnis digital tanpa harus memiliki modal besar sejak awal. Tetapi ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan, pekerjaan yang hanya mengandalkan keterampilan rutin berpotensi mengalami perubahan besar. Mereka yang mampu menggunakan teknologi secara produktif akan memiliki keunggulan, sementara mereka yang menolak belajar berisiko kehilangan daya saing.

AI mungkin tidak menggantikan semua manusia, tetapi manusia yang mampu memanfaatkan AI berpotensi mengungguli mereka yang tidak mau beradaptasi. Inilah kenyataan yang harus dihadapi pemuda Maluku Utara. Kita tidak bisa terus-menerus merasa aman hanya karena perubahan teknologi tampak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika perubahan itu benar-benar terasa, bisa jadi peluang terbaik sudah lebih dahulu direbut oleh orang lain.

Maluku Utara memiliki potensi besar, kekayaan sumber daya alam, sektor perikanan, pertanian, pariwisata bahari, perdagangan, serta keragaman budaya merupakan modal penting bagi pembangunan daerah. Namun, kekayaan sumber daya alam tidak otomatis melahirkan keunggulan sumber daya manusia. Daerah bisa kaya secara material, tetapi tetap tertinggal dalam penguasaan teknologi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah.

Di sinilah persoalan mendasarnya, apakah pemuda Maluku Utara hanya akan menjadi tenaga kerja dalam aktivitas ekonomi yang dikendalikan pihak lain? Ataukah mereka mampu menjadi analis data, pengembang aplikasi, kreator digital, wirausahawan teknologi, peneliti, dan inovator yang menciptakan solusi berdasarkan persoalan nyata di daerahnya?

Bayangkan jika anak muda di Ternate mengembangkan layanan digital untuk mempromosikan destinasi wisata lokal. Bayangkan pelaku UMKM di Tidore memanfaatkan AI untuk membuat katalog produk, menyusun strategi pemasaran, dan menjangkau pembeli di luar daerah. Bayangkan mahasiswa di Halmahera Tengah, Halmahera Timur dan Halmahera Selatan menggunakan analisis data untuk membantu memetakan persoalan lingkungan, pertanian, atau perikanan.

Semua itu bukan sekadar khayalan, sebagian dapat dimulai dengan perangkat yang sudah dimiliki, akses internet yang memadai, kemauan belajar, serta kemampuan memilih dan menggunakan alat yang tepat. Akan tetapi, kita juga harus jujur akses internet belum tentu merata di Maluku Utara, kualitas pendidikan digital berbeda-beda, dan tidak semua pemuda memiliki perangkat maupun kesempatan belajar yang sama. Karena itu, ketertinggalan digital bukan semata-mata kesalahan individu. Ada tanggung jawab pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat untuk memastikan bahwa peluang teknologi tidak hanya dinikmati oleh mereka yang sejak awal sudah memiliki keunggulan. Jangan sampai Maluku Utara menjadi pasar bagi teknologi orang lain, tetapi gagal melahirkan generasi yang mampu menciptakan teknologi dan solusi bagi daerahnya sendiri.

Ada kecenderungan untuk memandang teknologi baru sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan hanya cocok bagi mereka yang belajar komputer atau bekerja di perusahaan besar. Pandangan ini perlu diubah, Tools AI bukan hanya urusan programmer, Guru dapat menggunakannya untuk merancang pembelajaran, mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk mengeksplorasi gagasan dan mengolah data, pegawai dapat menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas, pelaku usaha dapat memakainya untuk memahami pelanggan, seniman dan kreator konten dapat menjadikannya alat untuk mengembangkan karya.

Tentu saja, AI bukan mesin ajaib yang selalu benar, informasi yang dihasilkannya bisa keliru, bias, atau menyesatkan. Pengguna tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kreativitas, dan integritas. Justru di sinilah tantangan sebenarnya, bukan sekadar belajar menggunakan AI, tetapi belajar menggunakannya secara cerdas dan bertanggung jawab.

Pemuda yang hanya menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya mungkin terlihat produktif, tetapi sesungguhnya sedang melemahkan kemampuan berpikirnya sendiri. Sebaliknya, pemuda yang menjadikan AI sebagai alat untuk menguji gagasan, mempercepat pekerjaan, mempelajari keterampilan baru, dan menghasilkan karya nyata akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Kita harus berani mengatakan bahwa ijazah saja tidak lagi cukup untuk menjamin daya saing. Pengetahuan tetap penting, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan, beradaptasi, memecahkan masalah, dan terus belajar akan semakin menentukan.

Persoalannya, apakah kita bersedia keluar dari zona nyaman? Kampus jangan hanya menghasilkan lulusan, tetapi pencipta solusi. Perguruan tinggi di Maluku Utara harus mengambil peran yang lebih strategis. Kampus tidak boleh berhenti pada pengajaran teori, penyelesaian administrasi akademik, dan pencetakan ijazah. Kampus harus menjadi ruang tempat pemuda belajar memahami perubahan, menguasai teknologi, melakukan riset, dan menciptakan solusi.

Dosen perlu mendorong mahasiswa memanfaatkan AI untuk memperkuat proses belajar dan penelitian, bukan sekadar melarang atau membiarkannya tanpa pedoman. Mahasiswa harus dibimbing agar mampu membedakan penggunaan AI yang membantu pembelajaran dari praktik yang merusak integritas akademik. Kurikulum juga perlu bergerak lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui bahwa AI dapat digunakan untuk menganalisis data. Mereka perlu diberi kesempatan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan konkret, mulai dari pemasaran produk lokal, pemetaan potensi wisata, pengolahan data penelitian, hingga pengembangan layanan publik.

Kampus juga perlu membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, komunitas pemuda, UMKM, dan dunia industri. Dari kolaborasi semacam inilah keterampilan digital dapat berubah menjadi manfaat ekonomi dan sosial. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan di era AI bukan hanya berapa banyak lulusan yang dihasilkan, melainkan juga berapa banyak persoalan masyarakat yang mampu diselesaikan oleh para lulusan tersebut.

Tuntutan adaptasi tidak adil jika hanya dibebankan kepada pemuda. Tidak masuk akal meminta generasi muda menguasai teknologi apabila akses internet masih menjadi hambatan, pelatihan berkualitas sulit dijangkau, dan ekosistem inovasi belum berkembang. Pemerintah daerah harus menempatkan transformasi digital dan literasi AI sebagai bagian penting dari strategi pembangunan sumber daya manusia. Programnya tidak harus selalu megah atau mahal. Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tepat sasaran, konsisten, dan dapat diukur hasilnya.

Pertama, perluasan akses internet dan fasilitas belajar digital harus menjadi perhatian, terutama bagi pemuda di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau. Kedua, pelatihan AI harus berorientasi pada keterampilan praktis. Jangan berhenti pada seminar yang ramai peserta dan dokumentasi, tetapi minim tindak lanjut. Ukur keberhasilannya melalui karya, prototipe, usaha yang berkembang, atau persoalan masyarakat yang berhasil diselesaikan. Ketiga, pemerintah dapat mendorong inkubasi bisnis digital bagi pemuda, termasuk pendampingan usaha, akses mentor, jejaring pasar, dan dukungan bagi produk inovatif yang berpotensi dikembangkan. Keempat, pemanfaatan AI dalam pelayanan publik harus disertai tata kelola yang baik, perlindungan data pribadi, transparansi, serta pengawasan manusia. Kelima, perlu ada ruang kolaborasi yang mempertemukan kampus, komunitas teknologi, pelaku usaha, dan pemerintah agar gagasan pemuda tidak berhenti sebagai proposal, tetapi memiliki kesempatan untuk diuji dan diterapkan.

Jika semua pihak hanya berbicara tentang pentingnya transformasi digital tanpa membangun ekosistemnya, maka yang lahir hanyalah slogan. Padahal, masa depan daerah tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh keputusan, investasi, dan tindakan nyata.

Jangan sampai pemuda Maluku Utara hanya menjadi konsumen kecerdasan buatan. Ada perbedaan besar antara menggunakan teknologi dan menciptakan nilai melalui teknologi. Menjadi pengguna AI berarti memanfaatkan alat yang tersedia. Itu merupakan langkah awal yang penting. Namun, menjadi generasi yang berdaya berarti mampu mengubah penggunaan teknologi menjadi karya, inovasi, lapangan kerja, dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pemuda Maluku Utara tidak harus langsung menciptakan model AI sendiri untuk mengambil bagian dalam revolusi digital. Mereka dapat memulai dengan menguasai alat yang ada, memahami persoalan di sekitarnya, lalu mengembangkan solusi yang relevan. Mulailah dengan mempelajari cara menggunakan AI secara efektif. Tingkatkan kemampuan bahasa, komunikasi, analisis data, pemrograman sesuai kebutuhan, desain, dan pemasaran digital. Bangun portofolio karya, bukan hanya mengumpulkan sertifikat. Ikuti komunitas belajar, kerjakan proyek kecil, uji gagasan dengan pengguna nyata, belajar dari kegagalan dan perbaiki hasilnya.

Yang paling penting, jangan menunggu semuanya sempurna, tidak semua pemuda harus menjadi ahli teknologi. Namun, setiap pemuda perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi yang memengaruhi bidang pekerjaan dan kehidupannya. Revolusi digital membuka kesempatan bagi mereka yang mau belajar, tetapi kesempatan itu tidak menjamin keberhasilan. Dibutuhkan disiplin, kreativitas, kemampuan menilai informasi, dan keberanian untuk terus memperbarui keterampilan.

Mau beradaptasi atau tertinggal adalah pilihan yang tidak bisa ditunda, Maluku Utara sedang menghadapi persimpangan penting. Satu jalan mengarah pada generasi muda yang aktif belajar, produktif, inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat potensi daerah. Jalan lainnya berisiko membawa kita pada ketergantungan, lemahnya daya saing, dan hilangnya kesempatan dalam ekonomi digital. Namun, pilihan ini bukan sekadar urusan individu. Ini merupakan pilihan kolektif tentang bagaimana daerah mempersiapkan masa depannya.

Pemuda harus bergerak, kampus harus berbenah, Pemerintah harus mengambil tanggung jawab, dunia usaha harus membuka ruang kolaborasi. Masyarakat harus membangun budaya belajar yang lebih terbuka terhadap perubahan. Kita tidak perlu takut pada AI, tetapi kita juga tidak boleh memujanya secara berlebihan. Teknologi hanyalah alat, nilainya ditentukan oleh kemampuan manusia menggunakannya untuk tujuan yang benar.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah AI akan mengubah masa depan Maluku Utara. Perubahan itu sudah menjadi bagian dari arah perkembangan dunia. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah apakah kita akan mempersiapkan generasi muda untuk mengambil peran di dalamnya. Jangan sampai suatu hari nanti kita menyadari bahwa peluang itu pernah terbuka lebar, tetapi kita terlalu sibuk berdebat, terlalu lambat bertindak, dan terlalu nyaman dengan cara-cara lama.

Maluku Utara tidak kekurangan potensi, yang harus kita pastikan adalah bahwa potensi itu didukung oleh sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan. Sebab, di era kecerdasan buatan, masa depan tidak hanya menjadi milik mereka yang memiliki sumber daya paling besar, tetapi juga mereka yang paling siap belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai.

Maka, kepada pemuda Maluku Utara, pertanyaannya sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Apakah kalian akan menjadi generasi yang membentuk masa depan digital Maluku Utara, atau generasi yang hanya menyaksikan orang lain membentuknya?

Waktunya bukan nanti. Waktunya adalah sekarang. (*)