Tandaseru — Menapaki usia 62 tahun, Universitas Khairun (Unkhair) tak ingin berhenti pada catatan capaian akademik. Kampus negeri di Maluku Utara itu didorong mengubah riset dan inovasi menjadi solusi atas persoalan daerah.

Hal itu disampaikan Rektor Unkhair, Prof. Dr. Abdullah W. Jabid, S.E., M.M, pada Rapat Terbuka Dies Natalis ke-62 Unkhair di Aula Banau, Kampus I Unkhair, Kelurahan Akehuda, Kota Ternate, Sabtu (15/8/2026).

Rapat Terbuka tersebut turut dihadiri Ketua dan anggota Senat Unkhair, Wakil Gubernur Maluku Utara bersama jajaran Forkopimda, para kepala daerah, pimpinan DPRD, para Sultan, rektor terdahulu, pimpinan perguruan tinggi, mitra industri dan perbankan, serta sivitas akademika, alumni, tokoh masyarakat, dan tamu undangan.

Dies Natalis ke-62 Unkhair mengusung tema “Sinergi dan Inovasi Menuju Universitas Khairun Berdampak untuk Kemajuan Maluku Utara.”

Prof. Abdullah mengatakan, perjalanan Unkhair sejak berdiri pada 15 Agustus 1964, menjadi perguruan tinggi negeri pada 2004, hingga menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) pada 2020, merupakan bagian dari transformasi kelembagaan yang diikuti perubahan orientasi.

Menurutnya, usia 62 tahun bukan sekadar penanda sejarah, melainkan momentum untuk mengukur capaian sekaligus menentukan arah universitas ke depan.

“Ukuran keberhasilan universitas tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya kegiatan dan keluaran akademik, tetapi sejauh mana ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi, dan seluruh aktivitas Tridharma memberi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan Maluku Utara,” kata Prof. Abdullah.

Saat ini, Unkhair memiliki 1.177 aparatur sipil negara (ASN), terdiri atas 799 dosen dan 378 tenaga kependidikan. Dari jumlah tersebut, 252 dosen berkualifikasi doktor dan 26 di antaranya merupakan guru besar.

Jumlah mahasiswa aktif mencapai 16.415 orang yang tersebar di 54 program studi.
Dari 54 program studi tersebut, sebanyak 40 prodi atau 74,1 persen telah berstatus Baik atau lebih tinggi. Sementara 27 prodi telah mencapai status Baik Sekali atau Unggul.

Prof. Abdullah menilai capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran, relevansi lulusan, produktivitas riset, internasionalisasi, serta kontribusi program studi bagi masyarakat.

Pada 2026, Unkhair mencatat 584 penelitian dan 355 kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Total 939 kegiatan tersebut, menurut Prof. Abdullah, perlu diarahkan untuk menjawab persoalan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan.

Kelautan, pangan, energi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi masyarakat, sumber daya lokal, hingga teknologi tepat guna menjadi bidang yang dinilai perlu mendapat perhatian.

“Kita ingin penelitian Unkhair tidak berhenti pada laboratorium atau di jurnal, tetapi hadir sebagai pengetahuan, teknologi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Produktivitas akademik tersebut menghasilkan 267 luaran, terdiri atas 152 artikel dan 115 buku ber-ISBN. Unkhair juga mencatat 135 kekayaan intelektual serta tiga paten granted dalam dua tahun terakhir.

Prof. Abdullah juga mengingatkan agar kerja sama yang dibangun Unkhair tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman.

Saat ini, Unkhair memiliki 28 mitra, terdiri atas 17 lembaga pemerintah, sembilan industri atau swasta, dan dua perguruan tinggi luar negeri.

“Ukuran keberhasilan kerja sama bukan hanya jumlah MoU atau jumlah mitra. Ukuran keberhasilannya adalah apa yang dihasilkan dari kerja sama tersebut,” katanya.

Menurutnya, kerja sama Unkhair harus bermuara pada hasil nyata, mulai dari peningkatan kompetensi lulusan, riset yang relevan, hilirisasi inovasi, hingga pemberdayaan masyarakat.

Menutup pidatonya, Prof. Abdullah menegaskan arah Unkhair ke depan: bergerak dari orientasi pada aktivitas menuju kampus yang mengutamakan mutu, inovasi, kolaborasi, dan dampak.

“Sinergi harus menghasilkan kinerja, inovasi harus menghasilkan solusi, dan seluruh kinerja Universitas Khairun harus menghasilkan dampak,” tutupnya.

Pesan itu sejalan dengan harapan Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe. Ia mengatakan, selama 62 tahun Unkhair telah menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia daerah.

Sarbin berharap hubungan pemerintah daerah dan Unkhair bergerak dari sekadar kerja sama administratif menjadi kerja bersama yang menghasilkan manfaat nyata.

“Kampus harus hadir di tengah masyarakat. Ilmu pengetahuan harus turun dari ruang akademik menjadi solusi. Dan inovasi harus mampu membuka kesempatan baru bagi masyarakat,” ujar Sarbin.

Ia juga mengajak mahasiswa tidak menjadikan ijazah sebagai tujuan akhir. Maluku Utara, kata Sarbin, membutuhkan generasi muda yang mampu melihat potensi daerah sebagai peluang sekaligus berani menciptakan lapangan kerja.

Rangkaian rapat terbuka dies diisi dengan pemberian cinderamata kepada lima purnatugas, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka di Unkhair.

Cinderamata diserahkan Rektor Unkhair Prof. Abdullah W. Jabid bersama Ketua Senat Unkhair Prof. Johan Fahri, S.E., M.PM., Ph.D., dan anggota senat.

Di akhir acara, Ketua Senat memotong nasi tumpeng sebagai simbol syukur atas perjalanan 62 tahun Unkhair.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter