Tandaseru — Puluhan warga Kecamatan Loloda Tengah (Loteng), Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, melakukan aksi nekat mencegat kapal perintis KM Sabuk Nusantara 35 di perairan Desa Barataku, Kamis (23/7/2026).

Aksi protes ini dilakukan di tengah cuaca buruk dengan ketinggian gelombang mencapai lebih dari 3 meter demi mendesak pemerintah agar menjadikan Desa Barataku sebagai pelabuhan singgah kapal tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi, warga bergerak ke jalur pelayaran KM Sabuk Nusantara 35 menggunakan delapan unit longboat berukuran 2 hingga 5 GT. Setiap perahu diisi sekitar lima hingga delapan penumpang.

Warga Loloda Tengah mengadang KM Sabuk Nusantara 35 di tengah gelombang. (Istimewa)

Saat kapal melintas, warga mendekat sambil membentangkan papan bertuliskan “Tolong Layani Kami Masyarakat Loteng (Loloda Tengah)” sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara langsung.

Keterbatasan akses transportasi laut selama bertahun-tahun dinilai berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat di 10 desa di Kecamatan Loloda Tengah. Tanpa adanya kapal yang singgah secara rutin, warga menghadapi kesulitan dalam mengurus administrasi, mengakses pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga mendistribusikan hasil pertanian dan perikanan.

Kondisi ini juga memicu tingginya biaya hidup bagi warga yang tinggal di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tersebut.

Warga Loloda Tengah mengadang KM Sabuk Nusantara 35 di tengah gelombang. (Istimewa)

Aksi pengadangan ini bukan kali pertama dilakukan. Warga menegaskan, aksi tersebut merupakan upaya terakhir agar suara mereka didengar oleh pemerintah dan instansi terkait, bukan untuk menghambat pelayaran. Mereka menilai pelayanan transportasi laut di wilayahnya belum setara jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Halmahera Barat yang telah memiliki pelabuhan singgah rutin.

Masyarakat Loloda Tengah berharap pemerintah segera melakukan evaluasi terhadap rute pelayaran KM Sabuk Nusantara 35. Salah satu warga mengungkapkan, selama ini masyarakat kerap menerima janji pembangunan, namun perubahan nyata belum dirasakan. Warga menuntut perhatian konkret dan pemerataan fasilitas transportasi agar mereka tidak lagi hidup dalam keterbatasan.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Mardi Hamid
Reporter