Oleh: Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pattimura

 ________

BILA ada satu peristiwa yang dapat menyatukan orang-orang Indonesia Timur melampaui batas agama, suku, partai politik, bahkan kadang-kadang melampaui batas kewarasan, maka itu adalah Piala Dunia.

Setiap empat tahun sekali, Maluku, Maluku Utara hingga Papua berubah menjadi panggung sepak bola internasional. Jalan-jalan dipenuhi konvoi kendaraan. Gang-gang dihiasi bendera negara asing. Tembok-tembok dipenuhi mural para bintang sepak bola. Pos-pos tertentu berubah menjadi kantor cabang FIFA yang tidak pernah terdaftar secara resmi. Orang-orang yang seumur hidup tidak pernah menyentuh bola, tiba-tiba berbicara tentang taktik dan formasi seolah-olah mereka baru saja menolak tawaran melatih klub-klub Eropa.

Para pejabat pun ikut turun gelanggang. Mulai dari gubernur, bupati hingga birokrat dan kepolisian. Bahkan, ada kampung-kampung yang disulap menjadi kampung Piala Dunia. Bagi mereka, Piala Dunia adalah kegembiraan.

Dan di saat kegembiraan kolektif di Indonesia Timur itu meledak, pertanyaan yang lebih dalam mulai muncul. Mengapa orang Maluku begitu antusias dengan Belanda? Mengapa pegunungan Papua merasa begitu dekat dengan Senegal?

Kita mulai dari Maluku lebih dulu.

Hubungan Maluku dengan Belanda tidak berhenti pada masa kolonial. Sejak dekade 1950-an, ribuan orang Maluku bermigrasi ke Belanda dan membangun komunitas diaspora yang besar. Kehadiran komunitas diaspora Maluku yang besar di Belanda ini menciptakan jaringan kekerabatan, pertukaran budaya, dan hubungan sosial yang terus berlangsung hingga saat ini.

Sejarah diaspora tersebut juga berkaitan dengan dinamika politik pascakemerdekaan Indonesia. Dalam artikelnya berjudul Mengkonstruksi Identitas Diapora Maluku di Negeri Belanda, Nur Aisyah Kotarumalos (2010) mencatat bahwa pembentukan diaspora Maluku di Belanda tidak dapat dilepaskan dari perpindahan mantan prajurit KNIL dan keluarganya pada awal 1950-an setelah konflik yang menyertai proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS). Pengalaman migrasi tersebut kemudian menjadi bagian dari memori kolektif yang diwariskan lintas generasi. Meski demikian, identitas Maluku di Belanda berkembang jauh melampaui RMS dan mencakup pengalaman diaspora, hubungan kekerabatan, serta proses integrasi ke dalam masyarakat Belanda.

Itulah kenapa, saat timnas Belanda bermain, sebagian masyarakat Maluku tidak hanya melihat sebuah negara Eropa yang sedang mengejar trofi. Mereka melihat sejarah. Mereka melihat diaspora. Melihat bagian dari diri mereka sendiri. Kehadiran pemain-pemain keturunan Maluku yang pernah bermain bersama timnas Belanda, semakin memperkuat hubungan emosional itu. Oleh sebagian orang Maluku, Belanda bukan hanya tim sepak bola, tapi juga dikenang sebagai alamat tempat keluarga tinggal.

Berbeda dengan Maluku, pegunungan Papua memiliki cerita yang berbeda. Bila mendukung Belanda dianggap wajar karena terhitung sebagai tim besar, maka bagaimana dengan dukungan terhadap Senegal?

Keheranan ini muncul saat lini masa media sosial saya dipenuhi dengan video konvoi pendukung Senegal di Wamena. Orang-orang tumpah ruah di jalanan dengan bendera Senegal. Dukungan ke Senegal juga datang dari beberapa pejabat daerah.

Rasa penasaran mendorong saya berkelana ke internet. Tapi sebagian besar hasil penelusuran hanya postingan-postingan orang Papua di Facebook dan Instagram. Satu-satunya media yang pemberitaannya berkaitan dengan itu adalah Jubi.id.

Ringkasnya, saya menemukan dalam narasi Jubi.id bahwa hubungan Senegal dan Papua Barat telah lama terjalin sejak era 1970 hingga 1980-an. Presiden Senegal waktu itu, Leopold Sedar Senghor (1960-1981), pernah memberi izin untuk membuka kantor perwakilan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Dakkar, ibukota Senegal. Selain itu, Benny Wenda juga pernah diundang ke Dakkar oleh Presiden Senegal, Abdoulaye Wade (2000-2012), pada tahun 2010 untuk memberi sambutan dalam Festival Seni dan Budaya Hitam Dunia. Wade juga mengimbau kepada semua yang hadir untuk memberikan dukungannya kepada masyarakat Papua.

Saya kemudian menghubungi mantan mahasiswa saya di Wamena bermarga Wenda yang juga pendukung Senegal. Saat ditanya alasannya mendukung Senegal, ia menjawab dengan spontan.

Karena mereka punya kulit dengan rambut sama dengan kita, bapa. Makanya kita rasa mereka itu bagian dari kita, bapa.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi penting. Ia menunjukkan bahwa identitas bekerja lebih cepat daripada politik. Saya kembali bertanya mengapa Senegal yang dipilih, bukan Kamerun, Ghana atau negara Afrika lain?

Jawabannya berubah.

Senegal itu dukung Papua Merdeka, bapa. Pak Benny Wenda juga jalan ke sana, dia orasi di sana juga. Makanya kita orang Papua dukung Senegal, bapa.”

Jawaban itu mengulang apa yang pernah saya tulis sebelumnya tentang “Mengajar di Wamena” bahwa pertanyaan seputar Papua Merdeka, adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan. Di mata kuliah, semester dan kelas apapun itu.

Tapi, terlepas dari bagaimana berbagai pihak memandang sejarah dan politik di balik hubungan Senegal-Papua Barat, yang menarik adalah bagaimana narasi itu hidup di ruang sosial pegunungan Papua. Ia beredar dalam percakapan di media sosial, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Yang didukung oleh mereka, bukan hanya sebelas pemain yang akan turun ke lapangan hijau, tapi makna yang dilekatkan pada mereka. Saat mereka mengibarkan bendera Senegal dan berkonvoi menyambut Piala Dunia, itu bukan hanya soal sepak bola. Identitas ikut bergerak. Ingatan kolektif ikut hadir. Solidaritas politik yang dibayangkan ikut mengambil tempat di ruang publik.

Terdengar berlebihan? Tentu saja. Tapi hampir seluruh fanatisme sepak bola di dunia memang dibangun di atas hal-hal yang berlebihan. Tidak ada orang yang rela mengecat kampung, menghias kendaraan, konvoi sambil mengibarkan bendera, dan begadang berhari-hari hanya karena tertarik pada bola yang mengalir dari kaki ke kaki. Mereka melakukan semua itu karena merasa menjadi bagian dari sebuah cerita.

Di Maluku, cerita itu bernama diaspora. Di Papua, cerita itu bernama identitas dan solidaritas politik. Ketika banyak orang berbicara taktik, formasi, hingga peluang lolos, sebagian orang Maluku dan pegunungan Papua berbicara lebih dari itu. Mereka berbicara tentang diaspora, identitas, nostalgia, dan memori politik. Dan Piala Dunia, adalah salah satu jalan untuk merefleksikan kembali semua cerita itu. (*)