Oleh: Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pattimura

_______

Jika ingin menguasai orang bodoh, maka bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama”

Ibnu Rusyd (Averroes) –

KAMIS, 4 Juni 2026 lalu, ada unggahan di Threads oleh seorang agamawan. Bunyinya begini: Allah yg menjamin Rizqimu saat Dollar 6000. Allah juga yg menjamin rizqimu saat Dollar 18000. YakinlahRizkimu tak akan pernah diambil org atau salah alamat yaa Ikhwah“. Saya mendadak garuk-garuk kepala, bahkan sampai sakit perut dan pergi ke toilet. Di dalam toilet, seraya menggerutu, saya bertanya-tanya, kenapa kalimat-kalimat begini sering muncul saat rakyat mengalami kesusahan? Karena wahyu selalu ditemukan dari toilet, demikian kata Sang Hyang Mughni Pancaniti dalam bukunyaToilet dan Wahyu: Catatan-Catatan Tak Suci (2019)“, respons atas unggahan itu juga bermula dari sini.

Makhluk jenis ini, selalu berhasil membuat orang-orang kagum. Bukan karena ilmunya dalam. Bukan karena ilmunya. Bukan karena kesalehannya. Bukan juga karena kedalaman spiritualnya. Tapi kemampuannya mengubah setiap persoalan dunia menjadi kuis agama. Spesies ini unik karena mengira Tuhan menciptakan akal manusia hanya sebagai pajangan, seperti bunga plastik di ruang tamu. Dolar naik? Allah menjamin rezeki. Harga beras naik? Allah menjamin rezeki. PHK di mana-mana? Allah menjamin rezeki. Perusahaan rebut tanah adat dan tanah warga? Allah menjamin rezeki. Lapangan kerja makin sempit? Allah menjamin rezeki. Kalau proyeksinya besok ekonomi tiba-tiba mirip Zimbabwe, saya yakin masih ada yang sempat update status: Tenang ikhwah, Allah menjamin rezeki. Begitulah kira-kira cara kerja agamawan goblok. Bukan karena ia tidak mengerti agama, melainkan karena ia menggunakan agama untuk menolak akal sehat.

Sebagian dari kita, barangkali pernah bertemu dengan agamawan jenis ini. Sewaktu masih di Wamena, saya pernah bersua dengan agamawan seperti ini. Saat konflik berpotensi pecah, saat teman-teman saya mempertimbangkan keselamatan nyawa untuk tidak ikut turun ke pedalaman karena khawatir dengan keberadaan TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat), agamawan ini muncul dengan satu nasehat yang mengguncang Serahkan semua sama Allah”. Seakan-akan, dengan mempercayai dogma itu, peluru bisa berubah menjadi agar-agar. Yang kita inginkan adalah kepastian keamanan, tapi yang dikasih malah kata-kata mutiara.

Persis seperti itulah rasanya ketika rakyat bertanya kenapa dolar naik, kenapa harga barang makin liar, kenapa PHK bertebaran, kenapa mencari kerja sekarang seperti mencari jarum di tengah sawah. Yang ditunggu penjelasan. Yang datang malah pengalihan. Masalahnya bukan kita tidak percaya Tuhan, tapi kita sedang bertanya tentang manusia. Kalau nilai tukar rupiah diserahkan sama Allah, mungkin Kementerian Keuangan bisa dibubarkan. Para ekonom bisa alih profesi menjadi tukang bakso. Fakultas Ekonomi cukup diganti menjadi majelis taklim. Tidak perlu lagi ada pembahasan tentang produktivitas, investasi, kurs mata uang, atau perdagangan internasional. Cukup buka media sosial, ketiktawakal”, lalu selesai.

Ada kebiasaan aneh yang berkembang di negeri ini. Setiap kali ada masalah yang terlalu rumit untuk dipahami, sebagian orang buru-buru menyiramnya dengan air suci retorika agama. Harga cabai naik? Sabar. Pengangguran meningkat? Istighfar. Daya beli turun? Kurang sedekah. Nilai tukar melemah? Imanmu yang lemah. Kalau logika ini diterapkan secara konsisten, maka para nabi tidak perlu berdakwah. Mereka cukup berkata, “Kalau memang Allah mau, kalian pasti berubah sendiri.”

Tetapi sejarah manusia justru dibangun oleh ikhtiar. Orang menanam karena percaya panen tidak jatuh dari langit. Orang berdagang karena percaya rezeki perlu diupayakan. Negara mengatur ekonomi karena percaya kebijakan yang buruk bisa membuat rakyat menderita. Keyakinan kepada Tuhan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berpikir. Yang berhenti berpikir biasanya hanya orang yang merasa dirinya sudah mewakili Tuhan. Di sinilah letak bahayanya. Ketika agama dipakai untuk meninabobokan masyarakat, yang dilahirkan bukan manusia saleh, melainkan manusia pasrah yang kehilangan keberanian untuk bertanya. Orang miskin diminta bersyukur. Orang lapar diminta bersabar. Orang yang mengkritik diminta bertobat.

Sementara mereka yang membuat keadaan menjadi buruk, duduk dengan tenang karena tahu akan selalu ada pasukan pengkhotbah dadakan yang siap mengubah kegagalan kebijakan menjadi ujian iman. Inilah seni sulap paling tua dalam sejarah politik. Masalah dunia diubah menjadi masalah akhirat. Kesalahan manusia dipindahkan ke wilayah takdir. Dan kritik terhadap kekuasaan dibungkus dengan nasihat agama.

Ada sebuah ungkapan populer yang sering dinisbahkan kepada Ibnu Rusyd, yakni Jika ingin menguasai orang bodoh, maka bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama”. Terlepas dari perdebatan tentang asal-usul kutipan itu, praktiknya memang sering kita jumpai. Sebab membungkus sesuatu dengan agama jauh lebih murah daripada membungkusnya dengan data. Data harus diuji. Argumen harus dipikirkan. Tetapi slogan religius? Tinggal diketik, diberi emoji tangan berdoa, lalu dibagikan ribuan kali. Karena itu, masalah terbesar kita mungkin bukan kurangnya orang beragama. Masalahnya justru terlalu banyak orang yang menganggap agama sebagai jalan pintas agar tidak perlu berpikir. Dan ketika kebodohan sudah memakai jubah kesalehan, ia menjadi sangat percaya diri. Ia merasa lebih tinggi daripada ilmu. Lebih suci daripada fakta. Lebih benar daripada kenyataan. Padahal kenyataan memiliki satu sifat yang kejam: ia tidak peduli pada slogan.

Dolar tidak turun hanya karena status di Threads. Harga beras tidak stabil karena kolom komentar. Dan perut yang lapar tidak pernah kenyang hanya karena diberi ceramah tentang tawakal. Mungkin itulah perbedaan antara orang beriman dan agamawan goblok. Orang beriman percaya Tuhan memberi manusia rezeki. Agamawan goblok percaya Tuhan juga akan mengerjakan PR matematika, menyusun APBN, mengendalikan inflasi, memperbaiki kurs, dan menggantikan fungsi akal yang malas dipakai. Barangkali karena itu, Tuhan menciptakan akal, tapi agamawan goblok justru menciptakan alasan untuk tidak menggunakannya(*)