Oleh: Fahmi Djaguna

Dekan FKIP UNIPAS Pulau Morotai

 _______

SEBELUM melanjutkan opini ini, penulis mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional, 02 Mei 2026. Pendidikan bukanlah sekadar ruang kelas yang dipenuhi papan tulis dan deretan kursi. Pendidikan bukan pula sekadar angka-angka yang tertulis rapi di dalam rapor. Pendidikan adalah denyut halus yang mengalir dalam tubuh peradaban hidup, bergerak, dan membentuk manusia dari dalam. Pendidikan adalah cahaya yang tidak hanya menerangi jalan pikiran, tetapi juga menghangatkan batin yang kerap membeku oleh realitas. Pendidikan, pada hakikatnya, adalah upaya panjang untuk memanusiakan manusia.

Gagasan ini bukan sesuatu yang lahir hari ini. Sejak lama, para pemikir dunia telah menanamkan akar-akar filosofis pendidikan yang melampaui sekadar transfer pengetahuan. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak. Maria Montessori melihat anak sebagai pusat dari proses belajar yang merdeka. Rabindranath Tagore memadukan pendidikan dengan alam dan seni, sementara John Dewey mengajarkan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Bahkan Ibnu Sina menekankan keseimbangan antara akal, jiwa, dan moralitas. Dari mereka, kita belajar satu halbahwa pendidikan adalah transformasi, bukan sekadar transmisi.

Di ujung timur Indonesia, Pulau Morotai berdiri sebagai lanskap sunyi yang menyimpan gema sejarah dunia. Pulau Morotai bukan sekadar titik geografis di peta, melainkan simpul peradaban yang pernah disentuh berbagai bangsa. Dalam catatan Antonio Pigafetta melalui Relazione del Primo Viaggio Intorno Al Mondo (1525), Maluku, termasuk Morotai, telah menjadi bagian dari narasi global. Namun, sejarah besar itu justru menyembunyikan kekayaan yang lebih halus, sebuah filosofi lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat yaitu Podiki de Porigaho.

Frasa ini sederhana, tetapi ia menyimpan kedalaman makna yang nyaris tak bertepi. Podiki berarti saling menopang, saling menguatkan”, sementara porigaho adalah kebersamaan yang merangkul tanpa sekat. Jika pendidikan diibaratkan sebagai rumah, maka podiki adalah tiang-tiang yang berdiri kokoh, saling menyandarkan beban. Dan porigaho adalah atap yang menaungi semua, tanpa membedakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Tanpa keduanya, pendidikan hanya akan menjadi bangunan megah yang kosong, indah dipandang, tetapi rapuh saat diterpa angin zaman.

Dalam makna yang lebih dalam, Podiki de Porigaho bukan sekadar nilai budaya, melainkan etika pendidikan. Ia mengajarkan bahwa belajar bukanlah perjalanan individual yang penuh persaingan, melainkan perjalanan kolektif yang penuh empati. Pendidikan tidak lahir dari siapa yang paling cepat berlari, tetapi dari siapa yang mau berhenti sejenak untuk menggandeng yang tertinggal. Di sinilah letak keindahannya; pendidikan sebagai ruang berbagi, bukan arena saling mengalahkan.

Namun, realitas hari ini sering kali bergerak ke arah yang berlawanan. Pendidikan perlahan direduksi menjadi kompetisi angka, peringkat, dan seleksi. Kita menyaksikan bagaimana ruang-ruang publik, termasuk media sosial, dipenuhi oleh perdebatan yang kehilangan ruh pendidikan. Kata-kata menjadi tajam, bukan untuk mencerahkan, tetapi untuk melukai. Argumen bukan lagi jembatan pemahaman, melainkan senjata untuk memenangkan ego. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bertanya dengan jujur: masihkah kita memeluk Podiki de Porigaho, ataukah kita telah menanggalkannya tanpa sadar?

Padahal, dalam perspektif pendidikan kritis, seperti yang digaungkan oleh Paulo Freire, pendidikan seharusnya membebaskan manusia dari dehumanisasi. Pendidikan tidak boleh menjadi alat penindasan yang halus, tetapi harus menjadi jalan pembebasan yang manusiawi. Dan di Morotai, nilai pembebasan itu sesungguhnya telah lama hidup dalam Podiki de Porigaho. Ia hadir sebagai kearifan yang memastikan tidak ada anak yang tertinggal sendirian, tidak ada suara yang tenggelam dalam keramaian.

Di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan, kearifan lokal seperti Podiki de Porigaho adalah jangkar yang menjaga identitas kita tetap utuh. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus berarti kehilangan akar. Bahwa modernitas tidak harus meniadakan tradisi. Justru sebaliknya, pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang berakar pada nilai-nilai lokal, tetapi mampu menjulang ke cakrawala global.

Maka, memaknai pendidikan hari ini adalah memaknai kembali kebersamaan. Pendidikan bukan tentang siapa yang paling unggul, tetapi tentang bagaimana kita tumbuh bersama. Ia adalah ladang tempat empati ditanam, bukan ego yang dipanen. Ia adalah ruang di mana manusia belajar untuk menjadi manusia utuh, peduli, dan beradab.

Podiki de Porigaho mengajarkan kita bahwa pendidikan sejatinya adalah pelukan yang luas. Sebuah pelukan yang tidak menanyakan siapa kita, tetapi memastikan kita tidak berjalan sendiri. Dan mungkin, di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi menghidupkan kemanusiaan di dalamnya. (*)