Prinsip ideasional yang dianut falgali adalah mengurangi kompleksitas, meningkatkan partisipasi anak muda, kaum perempuan, buruh, tani, nelayan, dan kelompok rentan dalam ranah politik formal untuk menciptakan nilai-nilai kesetaraan demokrasi, berdasarkan kearifan lokal masyarakat Halmahera Tengah, Timur dan Tidore Kepulauan. Sedangkan post-material adalah soal nilai yang memprioritaskan kebutuhan atas nilai aktualisasi diri dan kapasitas intelektual sebagai modal mencapai kesejahteraan bersama.

Artinya, kultur yang tertanam di masyarakat terhadap sistem politik selama ini adalah hanya untuk menumpuk harta kekayaan pribadi (material), dan memperluas simpul serta jaringan bisnis. Maka pendekatan post-material menjadi fase atau lompatan baru yang menggantikan nilai material. Karena itu, gagasan falgali yang mendasarkan pada dua kutub pendekatan ini, sejatinya akan menciptakan perubahan epistemologi dan kebaruan paradigma masyarakat, bisa saja menjadi gaya baru dalam politik.

Secara teknis, cita-cita falgali adalah: pertama, politik warga bantu warga. Masyarakat diajak bergerak mengubah keadaannya sendiri melalui kerja cerdas dan tangkas, untuk saling peduli, memperkokoh solidaritas dan soliditas, meningkatkan etos kerja, dan merajut cinta kasih. Kedua, kuasa kebaikan bersama (bonum commune), yang mencakup kuasa partisipatif, responsif, dan kolaboratif yang berpihak pada pengorganisasian pekerjaan rakyat.

Proposisi inti dari gagasan falgali adalah, menguraikan beragam kompleksitas yang terjadi di tengah masyarakat dengan skema yang terarah. Dengan kata lain, falgali dalam konteks ini mengajak masyarakat untuk mengubah kesadaran terhadap pemegang kekuasaan politik yang sudah lama mengakar, tidak responsif, dan korup.

Di samping itu, falgali mendorong supaya kemenangan rakyat dapat tercapai, melalui gerak perubahan dan kekuatan rakyat untuk membeli kesejahteraan dari tangannya sendiri. Salah satunya adalah perlunya pendidikan gratis dan keadilan pembangunan di Maluku Utara.

Pertarungan Gagasan

Memang demikian, agar rakyat tidak kadung salah memilih nanti, maka setiap partai politik harus mengantisipasinya; mengkonfigurasikan kandidat yang bertarung mestinya padat gagasan. Sebab ini prinsip paling fundamental supaya merawat muruah demokrasi tumbuh sehat di hari-hari mendatang. Masyarakat akan memahami kandidat mana yang hanya datang memberi amplop untuk memanipulasi, dan mana yang muncul karena panggilan nurani.