Walaupun dentuman senapan mengiringi pekik orator muda dan andal ini di jalanan, kebenaran baginya tetaplah kebenaran, harus diperjuangkan agar ditegakkan. Memang, Hamdan bukan anak muda biasa yang bercokol dalam kenikmatan politik sesaat. Tidak selayaknya para aktivis recehan yang dekat dengan penguasa. Memilih jalan sebagai aktivis murni adalah jalan sunyi bagi Hamdan untuk orang-orang lemah.

Suatu hari dia mendatangi saya di tongkrongan, samping Puri Imperium, Jakarta Selatan. Biasa, ia mengawali basa-basi sebagai pengantar, “Akak, pertarungan 2024 ini mangkali ana bisa iko bataru kaapa pigi puncak Gosale. Partai so ada ini, tinggal siap-siap badaftar. Kira-kira menurut Akak bagaimana?”

Saya meresponsnya, “Mainkan dah. Tapi ngana cari partai yang bagus, yang tara cuma lihat latar belakang kandidat karena isi dompet. Badaftar di partai yang mau palihara orang ada isi kapala.”

Waktu terus melintas, Hamdan kembali ke Ternate, dan pertama kali mendaftar di Partai Nasional Demokrat (NasDem). Tapi kemudian pindah ke Partai Bulan Bintang (PBB). Alasannya make sense, PBB adalah partai yang inklusif. Sangat terbuka untuk anak muda. Menggunakan mekanisme seleksi bagi kontestan yang punya gagasan, sekaligus menelusuri rekam jejak. Tidak sekadar datang menyodorkan berkas dan menggunakan jalur ordal (orang dalam).

Politik Falgali

Di hadapan saya, Hamdan pernah menguraikan visi-misinya. Paling menarik adalah gagasan politik falgali. Sebuah diksi dalam bahasa Patani, Halmahera Tengah, tempat Hamdan berasal. Falgali menurutnya, sebagai peta politik yang terbingkai dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Falgali dapat menjadi ruang gagasan yang dapat mengokohkan solidaritas sosial sebagai sentral strategi, dan diorkestrasi langsung anak muda untuk membentuk budaya demokrasi yang suportif dan anti status quo.

Solidaritas sosial dalam konteks falgali tidak bisa mencapai kesuksesan sendirian. Masyarakat kelas bawah merupakan segmen politik yang harus dilibatkan untuk mendobrak hambatan dan ketimpangan ekonomi, ketidakadilan pembangunan, budaya, sosial, termasuk pendidikan akibat kebijakan pemerintah yang serampangan. Dalam manifesto falgali, pada prinsipnya menggabungkan kritik atas prinsip ideasional dan post-material terhadap tradisi politik yang sekadar mengubah nasib ekonomi pribadi politisi naik kelas.