Kita bisa berbeda pandangan, tapi saya ingin menegaskan memori ini: saya adalah bagian dari sedikit orang yang mengantar hingga berbagi empati dan kesedihan, hingga ke kapal dan menyelami mereka, rekan guru dan karib yang beragama Nasrani saat mereka dievakuasi meninggalkan Tidore kala itu, efek kerusuhan bernuansa SARA di Maluku Utara di tahun 1999, di pelabuhan Trikora, Tidore, yang masih diakrabi dengan pelabuhan Goto.

Pengamanannya sendiri hingga menggunakan jasa satuan Brimob dari Manado, dan saya bisa “lolos” hingga ke “dek” penumpang kapal jenis perintis yang berhawa sangat terik di siang itu karena hanya beratap sejenis terpal.

Saya spontan berkhayal “risiko politik” yang bisa saja dituai James Uang. Sebagai kader partai tertentu, tentu ada risiko tak patuh pada “perintah” partai, jika itu ada. Meski karib Hasby ini mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI. Sebagai bupati di periode pertama dan bisa dipastikan berkontestasi lagi di periode berikutnya, beliau berpotensi “diadang” konstituen seimannya yang merasa “terganggu”, apalagi yang punya hajat kontestasi sama dengan Hasby. Hasby sendiri adalah warga kota Ternate. Belum lagi jika menghitung resistensi segmen pemilih atas latar sentimen keyakinan agama di kontestasi periode kedua beliau nanti.

Karib Hasby menyebut pertautannya dengan Bupati James tadi sebagai “persahabatan sejati”. Hasby bisa benar. Disebut persahabatan sejati karena dia melampaui sekat keyakinan suku, ras bahkan agama. Keyakinan atas agama yang kita anut itu sendiri disebut sebagai hak asasi manusia yang paling asasi karena berkaitan dengan eksistensi dan hubungannya terhadap Tuhan yang Maha Esa, sebuah lanskap keberagaman dan keberagamaan yang harus dihormati.

Jika hari ini Bupati James dimintai keterangan oleh lembaga pengawas pemilu, itu karena sedang di momentum kontestasi pemilu karena berkait aturannya, mungkin begitu.

Jika saya menjadi warga Halmahera Barat, saya akan bangga punya kepala daerah seorang James, tidak saja karena menghargai nilai persahabatan “jenis” apa yang dibangunnya bersama seorang Hasby, tetapi lebih pada penghayatan yang hakiki terhadap pesan “cinta kasih” yang diajarkan keyakinannya yang patut menjadi contoh.

Kita terkadang begitu apriori dalam melihat akibat langsung dari sebuah hubungan persahabatan. Dan pernah “menangis bersama”, kesannya lebih kuat tertanam dan membatin ketimbang tertawa bersama, mudah menguap.

Kita tak tahu, atas dasar nilai apa saja, seorang James Uang, rela membela dengan “mempertaruhkan” jabatan bupatinya untuk seorang Hasby, di luar sentimen keyakinan agamanya. Yang kita tahu, banyak juga nilai persahabatan yang tak bertahan lama. Bahkan mungkin berbalik saling berkhianat, meski pernah menangis bersama di masa lalu atas nama “rasa senasib dan sepenanggungan”.

Hasby dan James Uang, mungkin bukan orang pertama dan “satu-satunya” yang “memproklamirkan” makna persahabatan sejati ini, saya dan kawan-kawan di Manado tadi, sekian puluh tahun lalu, telah merasakan, membatin, memelopori hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang “biasa”. Karib Coen menyebutnya tadi, keuntungan religio-demografis. Jika di sini jadi tak biasa, itu yang luar biasa dan memberi saya energi untuk menulisnya. Wallahua’lam. (*)