Sehingga adalah sayang sekali jika keuntungan religio-demografis ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para aktivis dan mantan aktivis atau bahkan kalangan muslim keseluruhan di Manado. Sayang sekali jika mereka malah menyerap pandangan-pandangan kelompok reaksioner yang tertutup, yang sedikit-sedikit bicara kopar-kapir, takut akan Kristenisasi, Yahudisasi, mayoritas yang paranoid, dsb. Karena buat saya, semua narasi itu tidak cocok dengan realitas di Manado. Sehingga di HMI Cabang Manado lah seharusnya pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi politik Cak Nur, Gus Dur, Syafii Maarif dsb itu mendapatkan tanah subur buat persemaiannya.

Tapi karena ini cuma khayalan, ya entah lah gimana jadinya.

Selamat merayakan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Semoga kedamaian, keadilan, dan solidaritas semakin bersemi di antara kita. Amin.*******

Ini adalah salah satu unggahan karib Coen Husain Pontoh di akun facebooknya @Coen_Husain_ Pontoh, di penghujung 2017, kurang lebih 6 tahun lalu, hasil konfirmasi saya dengan kawan Masril Karim, penulis berita investigasi, bermukim di Ternate dan alumni Manado. Coen, pengagum Karl Marx, kini bermukim di AS.

Saya merasa “beruntung” bisa melanjutkan pendidikan di Manado selepas SMA di Tidore, seberuntung bisa menjadi guru SMA yang mengasuh nilai-nilai “toleransi” tadi. Di manado kala itu, di era 80-an hingga awal 90-an, kami “bermetamerforsis” dengan sebuah lingkungan sosiologis baru yang kuat prinsip egaliter dalam kehidupan kesehariannya. Kami yang dari muslim Maluku Utara, ada Rustam Konoras [alm.], Haruna Marsaoly [alm.], Ade Adam Noch, Syaiful Bahri Ruray, Taufik Madjid, Edi Langkara, Ikram Malan Sangadji, Rahmi Husen, Mohammad Ilham Badar, Ridwan Muhammad, Asrul Hayatuddin, Aisyah Bafagih, Muin Sumaila, Ali Yau dan lain-lain, yang sedikit banyak, suasana batinnya bisa dibilang, diwakili oleh tulisan singkat karib Coen tadi. Juga, di deretan muslim di Sulawesi Utara ada Harun Wasolo [alm.], Yoyo Suryana, Marthen Taha, Sarinandhe Djibran, Anang Otoluwa, karib saya Ulyas Taha, Taufik Passiak, Yayat Biaro, Coen Husain Pontoh sendiri, Asripan Nani, Katamsi Ginano, Suhendro Boroma, Liliek Djenaan, Hamzah Latief, Maryam Thawil, Hamka Hendra Noer, Alim Niode, Adil Polontalo, Fitri Latief, Fadly Tantu, Dadang Nugroho, dan masih banyak lagi.

Lantas, apa yang bisa dikomentari dari fakta hebohnya pernyataan bupati Halmahera Barat di berbagai media hingga postingan karib Hasby Yusuf di akunnya di pekan kemarin itu?

Saya pernah menjadi guru di sebuah SMA negeri kurang lebih 8 tahun. Saya mengasuh mata pelajaran yang banyak bersentuhan materinya soal keyakinan beragama, toleransi beragama hingga makna ikhlas dan tulus. Punya sertifikat kompetensi yang memberi hak menjadi narasumber materi tertentu di SMA negeri di mana saja di Indonesia. Jadi sedikit banyak, saya begitu membatin dengan tema yang diunggah karib Hasby ini.