Ini saya kutip dari postingan akun Facebook-nya @Hasby_Yusuf, yang diunggah Sabtu, 9 Desember 2023. Unggahan ini menyertakan potongan video pendek pernyataan bupati Halmahera Barat di sebuah acara yang teridentifikasi berlatar komunitas sekeyakinan, screenshot potongan judul berita komentar BAWASLU Halmahera Barat soal ini, di samping ada foto bersama Hasby Yusuf đengan sang bupati.
*******
Sebagai muslim yang lahir dan besar di Sulawesi Utara, saya merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas. Memang di kampung saya, Boroko, Bolmut, Islam adalah agama mayoritas, tapi ketika pindah ke Manado untuk kuliah, saya temukan Islam merupakan agama minoritas.

Mayoritas penduduk Manado (termasuk Bitung, Minahasa, karena kota bertetangga) menganut agama Kristen. Pada zaman Orba dulu, komposisi mahasiswa dan tenaga pengajar di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado sangat timpang, di mana mayoritasnya beragama Kristen (saya tidak tahu kondisi sekarang).

Demikian juga komposisi PNS dan aparat kepolisian dan TNI. Rektor, Gubernur, Kapolda, Pangdam, Kakanwil, harus beragama Kristen, wakilnya boleh beragama Islam.

Ketika saya aktif di HMI Cabang Manado, komposisi yang rigid ini juga terasa. Ketua KNPI Sulut mesti dari kalangan Kristen, wakilnya boleh dari kalangan muslim. Beruntungnya, ketika masih aktif dulu itu, ada semangat intelektual yang cukup bergairah di HMI Cabang Manado. Semangat membaca, mengoleksi buku, berdiskusi, dan menulis di media massa lokal cukup hidup. Sehingga saya tak ragu mengatakan bahwa tradisi intelektual saya dimulai dan dibesarkan di HMI Cabang Manado.

Ketika menuliskan status ini, saya terkenang masa-masa itu. Saya berkhayal bahwa HMI Cabang Manado sesungguhnya paling berpotensi untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran dan tradisi-tradisi keberagamaan Islam yang toleran, terbuka, plural, dan berkemajuan di Indonesia. Itu karena posisinya sebagai minoritas, sehingga mereka lah yang secara nyata merasakan bagaimana hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas berbeda keyakinan dengan mereka. Mereka lah yang sebenarnya paling bisa berempati dengan apa yang dirasakan oleh minoritas agama lain di tempat lain di Indonesia.

Kalangan muslim di luar Manado, bahkan di provinsi tetangganya seperti Gorontalo, tidak merasakan situasi ini, apalagi yang tinggal di tanah Jawa atau pulau-pulau lainnya di Indonesia.