Tandaseru — Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Maluku Utara, dr. Alwia Assagaf mengaku masyarakat Malut masuk kategori paling egois karena tidak mendukung program vaksinasi Covid-19.

Hal ini terbukti dengan capaian vaksinasi di Malut yang baru menyentuh angka 15 persen.

“Bagi yang tidak mau vaksin semata-mata karena ketakutan sendiri adalah suatu tindakan egois karena dia merupakan bagian dari masyarakat yang hidup bermasyarakat sehingga sangat membahayakan orang lain, terutama keluarganya sendiri,” ujar Alwia, Kamis (9/9).

IDI, kata Alwia, mendukung penuh langkah pemerintah menerapkan wajib vaksinasi di seluruh pintu-pintu masuk pelabuhan penyeberangan. Ia mengajak masyarakat untuk tidak perlu takut melakukan vaksinasi karena sudah terbukti dosis vaksin tidak berbatas.

“Apalagi yang membuat ragu? Belum ada hasil penyelidikan KIPI vaksin Sinovac di Indonesia yang sudah terbukti. Jangan dengar hoaks, dengarkan dokter-dokter ahli yang bicara. Sehingga IDI mendukung upaya percepatan vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Alwia bilang, dalam penanganan kondisi wabah mematikan yang melanda seluruh dunia pemerintah merujuk pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah dan UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Imbauan wajib vaksinasi bagi penumpang di Maluku Utara. (Istimewa)

“Para guru besar, profesor yang sudah mengikuti perkembangan Covid-19, kemudian vaksinasi, sudah melakukan riset, bahkan mereka semua sudah divaksin untuk membuktikan keamanan dan keampuhannya. Kita berpacu dengan mutasi virus Covid-19 yang luar biasa sampai menimbulkan kematian luar biasa pula di Juli 202,” tandasnya.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Malut sudah mulai melakukan vaksinasi wajib vaksinasi bagi warga yang hendak bepergian lewat pelabuhan di Ternate. Spanduk-spanduk sosialisasi tampak telah terpasang di Pelabuhan Semut Mangga Dua.