Tandaseru – – Pelaksanaan Ritual Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 yang berlangsung sejak 2 hingga 6 Mei resmi berakhir. Meski secara keseluruhan agenda berjalan lancar, prosesi penutupan diwarnai protes dari sejumlah peserta sesaat setelah dewan juri mengumumkan hasil penilaian, Rabu (6/5/2026).
Kericuhan kecil sempat pecah di lokasi kegiatan lantaran beberapa tim merasa keberatan dengan keputusan juri. Menanggapi hal tersebut, Ketua Panitia GHS 2026, Faruk Bahnan, menegaskan keributan tersebut murni disebabkan oleh miskomunikasi mengenai kriteria penilaian yang sebenarnya telah disepakati saat pertemuan teknis (technical meeting/TM).
“Kalau saya melihat, ini hanya soal miskomunikasi. Seluruh peserta sebelumnya sudah diundang mengikuti meeting untuk menyepakati seluruh ketentuan. Kalau ada peserta yang belum puas, silakan datang ke sekretariat panitia di Desa Fatce. Kami siap memberikan penjelasan, tapi keputusan juri tidak mungkin lagi dianulir,” ujar Faruk.
Senada dengan itu, Koordinator Juri GHS 2026, Alfarabi Umaternate, menjelaskan GHS merupakan ritual budaya, bukan perlombaan lari. Oleh karena itu, tim yang mencapai garis finis paling awal tidak otomatis menjadi pemenang jika tidak memenuhi indikator kriteria yang ditetapkan.
“Kriteria penilaian meliputi kekompakan, keutuhan tim dari start hingga finis, kerja sama, kreativitas, efisiensi waktu, hingga pengetahuan sejarah dan budaya di desa-desa yang dilalui. Tim Desa Fatkauyon memang masuk lebih dulu, tetapi hanya dua orang yang tiba di garis finis sementara anggota lain menyusul. Itu berarti tidak memenuhi syarat keutuhan tim,” jelas Alfarabi.
Panitia menekankan, seluruh kritik dan keberatan yang muncul akan dijadikan bahan evaluasi untuk pelaksanaan di tahun mendatang. Alfarabi berharap para peserta dapat memahami esensi GHS sebagai upaya pelestarian budaya dan promosi pariwisata daerah, di mana hadiah yang disiapkan hanyalah bentuk apresiasi tambahan untuk memotivasi partisipasi masyarakat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.