Oleh : Ardy Elhamid
Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Malut dan Relawan Rumah Baca Belo-Belo Haltim
Pesta Perpisahan
Saat itu masih pagi, kesadaran ku belum pulih setelah malamnya aku dan teman-teman mengadakan semacam pesta untuk menghiburku. Aku merasakan pusing yang hebat di kepala. Ku lihat masih ada sisa minuman, aku meraihnya dan menenggak kembali minuman tersebut.
Kembali lagi kesadaranku menurun, teman-teman yang semalaman ngebacot paling jago masih tergeletak tak karuan di mana-mana, isi rumah berantakan. Aku memaksa untuk berjalan menyalakan motor bututku, memacunya dengan kecepatan diatas rata-rata dan berhenti tepat di depan sebuah rumah. Aku mengetuk agak keras tanpa memberi salam.
Seorang wanita yang ku kenal membuka pintu. Dengan berjalan sempoyongan menujunya. Aroma minuman yang tentu menyengat sekali. Aku raih tubuhnya dan memeluknya, lama sekali aku memeluknya. Air mataku jatuh saja. Aku tahu ini memang gila, tapi aku benar-benar hanya ingin memeluknya untuk sesaat. Setelahnya aku pergi tanpa pamit, tanpa suara. Aku tak berniat menyakiti siapapun, tidak akan pernah. Aku hanya ingin memeluknya.
***
Memulai Perjalanan
Aku ingin pergi kemanapun aku mau. Mengunjungi tempat yang jauh dengan wajah orang-orang yang tak ku kenal sama sekali. Dari kota ke kota, hutan, lembah, desa dengan aroma bawang saat kabut tipis menyelimutinya.
Aku memasang tenda di pinggir sebuah danau yang berlawanan dengan sinar matahari ketika terbenam. Menggotong ranting kayu yang telah kering dan membakarnya, hangat terasa. Memanaskan air, meracik kopi terbaik. Ku baca lagi kitab pedoman hidupku berharap jalanku masih yang sama, sebuah headlamp menjadi penerang.
Tubuhku terasa kaku setelah seharian berjalan. Aku tak sengaja menendang kopi terbaik, sial ia tumpah saja di tempat tidur kepompongku. Aku terlalu lelah untuk membereskannya. Perjalananku masih panjang biar saja aku tidur.
***



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.