Oleh: Muhlis Ibrahim
Presidium Komunitas Djarod
HANYA sebuah pengandaian tentang virus korona (Covid-19). “Andai saja tidak viral apa yang akan terjadi?”
Jawaban dari pengandaian ini adalah mungkin saja virus korona tak lebih bahaya dari penyakit TBC (tuberculosis) yang juga menular dan tak kalah berbahayanya, dianggap biasa saja, dan direspons pula secara biasa.
Sebagaimana korona, kita tahu persis bahwa penderita TBC juga memiliki batasan-batasan untuk mencegah penularannya. Sampai hari ini, pemilik riwayat TBC tidak mudah masuk ke negara lain, misalnya, pengurusan visa ke UK (United Kingdom) akan dipersulit. Beberapa negara Asia lainnya pun melakukan pengawasan yang ketat. Salah satunya Jepang.
Orang-orang yang berada di sekitar penderita ini juga harus berhati-hati saat berkontak dengan penderita TBC, penggunaan masker diwajibkan, dan menjaga jarak yang dikenal dengan social distancing.
Ruang perawatan penyakit paru ini tidak mudah dikunjungi oleh semua orang. Dan tentu banyak kasus TBC juga mengakibatkan kematian. Untuk diketahui, angka kematian akibat TBC di Indonesia sekitar 67.000 kasus per tahun. Demikian pernyataan dr. Erlina Burhan, Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Akan tetapi TBC tidak ‘sehebat’ Covid-19 yang mengguncang dunia. Tak ada PSBB atau lockdown bagi suatu wilayah tertentu dimana ditemukan penderitanya. Tak ada work from home.
Mengapa demikain? Hipotesa sederhana adalah TBC tidak viral, dan mungkin juga secara medis penanganan terhadapnya lebih siap, karena bukan virus baru walaupun tetap mematikan.
Di era 4.0 ini, viral telah menjadi sebuah fenomena psikologi sosial. Ada apa dengan viral? “Medium is the message” (media adalah pesan itu sendiri), demikian petuah Marshal McLuhan.
Dimana viral adalah permainan media sebagaimana virus yang menular dan berkembang biak. Viral itu seperti virus, yang menjangkit pada satu agen lalu menular pada agen lainnya. Satu informasi disebar ke grup-grup media komunikasi, di-share lagi ke media sosial, lalu diproduksi ulang oleh media lainnya lagi, lalu di-share lagi dan begitu seterusnya. Sehingga terjadi akumulasi dari sekian persebaran itu, lalu menjadi viral.
Dengan cara kerja demikian, “viral” dapat diciptakan oleh yang memiliki kepentingan. Di sinilah para buzzer berperan untuk mengendalikan dunia maya, menciptakan isu-isu, mem-framing data sedemikian rupa sehingga publik yang tak lagi peduli pada isi pesannya lalu dengan sukarela terlibat dalam viralisasi itu.
Dan kenyataannya, viral itu dapat mengubah secara signifikan pandangan publik terhadap suatu hal, tidak hanya pada publik lokal tetapi juga global.
Hal itu jelas terlihat pada peristiwa pandemi korona ini, tentu saja tanpa bermaksud mereduksi bahaya virus asal Cina itu. Bahwa “viral” turut mengambil peran dalam mengacaukan suasana kondusif suatu masyarakat, dengan menciptakan kepanikan. Dimana aneka jenis viral terus terjadi akibat pandemi ini, mulai dari soal lockdown, viral jumlah kematian, serta bahaya puncak pandemi yang membuat kita panik bukan waspada.
Dengan demikian, yang membuat kekalutan saat ini adalah bersatunya virus dan viral, yang terus inseminasikan ke dalam kesadaran kita melalui media. Kita tidak hanya berhadapan dengan virus korona, tetapi juga kepanikan itu sendiri.
Semoga wabah ini segera berakhir dan kita semua kembali beraktivitas seperti sediakala. Karena ada banyak agenda dari kita masing-masing yang tertunda yang mestinya telah selesai, termasuk ada kerinduan yang terpendam akibat karantina.(*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.