Oleh: Sofyan Togubu

Jurnalis/Pegiat Literasi

________

RAKYAT Indonesia dan khususnya di Maluku Utara belum lama memperingati 17 Agustus tahun 2022. Merdeka dari renggutan penjajah selama ratusan tahun.

Dalam memeriahkan itu ada tema besar representasi negara ini yakni “Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat”. Sejumlah kegiatan pun digelar mulai dari gigit sendok, tarik tambang, balap sarung berhadiah, gigit kerupuk dan sebagainya. Kebahagiaan tersebut tergolong sesaat.

Pekan berlalu, telah resmi keputusan Pemerintah Pusat terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Di Kota Ternate  Provinsi Maluku Utara, terdengar jeritan masyarakat soal kenaikan BBM. Padahal, kita baru saja memperingati kemerdekaan penuh syahdu dan penuh suka ria, tantangan dihadapi bukan lagi soal penjajahan maupun medan perang tetapi musuh saat ini kenaikan BBM.

Dampaknya kenaikan BBM ini cukup terasa hingga ke pelosok desa, penetapan tarif angkutan laut jenis kapal konvensional yang beroperasi antarkabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Maluku Utara mulai naik begitu pula bahan pokok. Gelombang massa aksi atas nama organisasi dan aliansi terus memprotes kebijakan Pemerintah Pusat tidak berpihak kepada masyarakat kelas bawah.

Walaupun aksi protes khususnya di wilayah Malut bisa dibilang agak terlambat tidak seperti penolakan BBM di tahun-tahun sebelumnya. Namun, gerakan yang dilakukan ini bagian dari keterwakilan rakyat harus diberi apresiasi. Aksi dilakukan setelah putusan kenaikan hingga saat ini masih terus berlanjut dan pihak keamanan terus lakukan tugasnya dengan mengawal massa aksi.