Tandaseru — Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku Utara sukses menggelar Workshop Penulisan Artikel Ilmiah bertema “Kupas Tuntas Cara Cepat dan Cermat Menulis Artikel Ilmiah Hingga Publish” secara daring via Zoom Meeting, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan berskala regional dan nasional ini diikuti lebih dari 240 peserta aktif yang mencakup Aparatur Sipil Negara (ASN) pejabat fungsional, dosen pemula, peneliti, serta akademisi lintas perguruan tinggi se-Provinsi Maluku Utara.

Workshop ini terselenggara atas kerja sama strategis antara BPSDM Provinsi Maluku Utara, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI), Journal of Environmental Science and Sustainable Development (JSSD) Universitas Indonesia, serta Institute for Advanced Science, Social and Sustainable Future (IASSSF).

Kegiatan tersebut juga didukung Konsorsium Perguruan Tinggi Maluku Utara—meliputi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, IAIN Ternate, UMMU, Universitas Pasifik Morotai, Universitas Bumi Hijrah Tidore, Universitas Nurul Hasan Bacan, Universitas Halmahera Tobelo, serta HPMS.

Workshop Penulisan Artikel Ilmiah yang digelar BPSDM Maluku Utara. (Istimewa)

Mewakili Gubernur Maluku Utara, Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Nurlaila Muhammad menyatakan, kebijakan publik harus didasarkan pada pendekatan berbasis bukti (evidence-based policy making).

“Di tengah persaingan global, pengambilan keputusan dan kebijakan publik tidak lagi cukup mengandalkan intuisi, kebiasaan, atau pengalaman masa lalu. Kebijakan harus disusun berbasis persoalan nyata, didukung data sahih, dianalisis dengan metode tepat, serta terarah untuk manfaat masyarakat,” ujar Nurlaila.

Ia memaparkan, artikel ilmiah bukan sekadar pemenuhan angka kredit atau rekam jejak profesional semata. Lebih dari itu, karya ilmiah merupakan instrumen untuk mengubah pengalaman kerja birokrasi menjadi pengetahuan teruji, mengubah persoalan pelayanan publik menjadi bahan pembelajaran, serta menghasilkan rekomendasi perbaikan kebijakan.

”ASN setiap hari berhadapan dengan persoalan riil—pendidikan, kesehatan, kemiskinan, ekonomi lokal, lingkungan hidup, hingga tata kelola wilayah kepulauan. Sehingga ASN dituntut tidak hanya mampu melaksanakan kebijakan, tetapi juga menganalisis masalah, menemukan inovasi, dan menyampaikan rekomendasi berbasis bukti.
Menurut Nurlaila, Pemerintah Daerah memiliki data, pengalaman implementasi, dan masalah riil pembangunan; sementara Perguruan Tinggi memiliki kapasitas keilmuan, metode riset, dan tradisi akademik. Pertemuan kedua kekuatan ini akan membangun ekosistem pengetahuan yang kokoh di Maluku Utara.
”Peningkatan kemampuan menulis karya ilmiah menjadi salah satu instrumen pendukung mewujudkan visi Provinsi Maluku Utara: ‘Menjaga keberagaman dan pemerataan pembangunan Maluku Utara bangkit, maju, sejahtera, berkeadilan, dan berkelanjutan’,” tandasnya.

Sementara Kepala BPSDM Provinsi Maluku Utara Fachruddin Tukuboya dalam laporan penyelenggaraannya menyampaikan, penulisan artikel ilmiah kini telah bergeser menjadi kewajiban mutlak bagi ASN, khususnya Pejabat Fungsional, untuk pengembangan karir. Ia juga memastikan kegiatan ini akan berlanjut melalui program pendampingan intensif bersama IASSSF dan JSSD UI hingga artikel peserta terbit di jurnal bereputasi.

“Jika dahulu publikasi ilmiah identik sebagai ranah eksklusif akademisi/dosen, saat ini bagi ASN—khususnya Pejabat Fungsional—penulisan artikel ilmiah pada jurnal terindeks telah menjadi kewajiban mutlak dalam rangka pengembangan karir dan peningkatan jenjang jabatan,” ungkapnya.

Workshop dirancang untuk memberikan pemahaman teknis dan taktis secara efektif-efisien, membekali strategi cepat merumuskan ide riset, memanfaatkan alat bantu digital/AI secara cermat, serta membimbing peserta hingga menghasilkan minimal draf awal artikel ilmiah.
”Kegiatan ini dipastikan bukan merupakan workshop satu hari yang selesai begitu saja. BPSDM Maluku Utara menjalin kerja sama jangka panjang dengan IASSSF dan JSSD UI untuk menyelenggarakan seri pendampingan (asistensi intensif) hingga artikel peserta benar-benar terbit di jurnal bereputasi,” terangnya.
”Kami juga menyampaikan apresiasi mendalam atas partisipasi aktif pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Maluku Utara serta dukungan media massa dalam mengawal publikasi ilmiah daerah,” pungkas Fachruddin.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Unkhair, Dr. Drs. Hasan Hamid, M.Si., dalam arahannya mengingatkan pentingnya menjaga etika akademik dan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara bijak sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar kritis.

“Sebuah artikel ilmiah berkualitas wajib menjawab tiga hal mendasar: (1) Permasalahan apa yang ingin diselesaikan? (2) Bukti ilmiah apa yang digunakan untuk menjelaskan/menjawabnya? (3) Kontribusi nyata apa yang dihasilkan bagi ilmu pengetahuan, perbaikan kebijakan, dan kesejahteraan masyarakat? Tema ‘cepat dan cerdas’ tidak boleh dimaknai sebagai upaya memotong proses ilmiah dengan mengorbankan validitas atau integritas akademik. Kecepatan harus lahir dari penguasaan metodologi, ketepatan strategi, pemanfaatan teknologi, serta kedisiplinan riset,” tegas Hasan.

Ia menambahkan, teknologi AI harus ditempatkan secara bijak sebagai instrumen pendukung (brainstorming, struktur bahasa, efisiensi teknis), bukan pengganti nalar kritis, penalaran akademik, maupun tanggung jawab intelektual penulis.

”Unkhair berkomitmen memperkuat sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah melalui riset terapan, publikasi kolaboratif, serta pembentukan jejaring komunitas pembelajar yang berkelanjutan bagi kemajuan wilayah kepulauan,” tandas Hasan.

Dari tingkat pusat, Kepala LAN RI Muhammad Taufik melalui rekaman video menyoroti pentingnya menjembatani kesenjangan antara produksi pengetahuan (knowledge production) dan pembuatan kebijakan (policy making).

“Di mana ASN dan fungsional banyak menghasilkan pengetahuan, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pembuatan kebijakan publik,” ujarnya.

Berdasarkan data Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) 2025, rata-rata nasional Pemda baru mencapai angka 59,60 (kategori Cukup), jauh di bawah instansi pusat (79,82). Meskipun kuantitas publikasi Indonesia di ASEAN menempati peringkat ke-1 (522.771 dokumen), rata-rata sitasi per dokumen Indonesia masih rendah (7,26 vs Malaysia 16,45).

“Karena itu, publikasi ilmiah yang dihasilkan ASN harus memiliki lima kunci ini, yakni (1) Menawarkan perubahan cara pandang transformasional, (2) Memiliki kebaruan (novelty), (3) Runtut & sistematis, (4) Didukung bukti data mutakhir, dan (5) Memiliki implikasi kebijakan praktis (actionable),” pungkas Taufik.

Jaga Etika Publikasi

Narasumber Utama dalam workshop ini, Dr. Herdis Herdiansyah (SIL Universitas Indonesia/Top 2% Scientist Worldwide) dalam paparannya memberikan penekanan krusial mengenai integritas dan etika publikasi ilmiah. Ia mengingatkan seluruh ASN dan akademisi agar mewaspadai maraknya praktik publikasi instan yang menyesatkan di media sosial seperti tawaran “Garansi 100% Terbit”, “LOA Cepat 1 Hari”, atau “Jurnal Fast-Track Tanpa Peer-Review”.

“Penulis harus menghindari tawaran menyesatkan seperti itu. Publikasi pada jurnal yang terindikasi predator atau tidak terakreditasi akan melekat secara permanen pada rekam jejak digital penulis dan merusak reputasi akademik,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan pengalaman mengelola JSSD UI yang kini berhasil meraih peringkat Q1 Scopus. Selain itu, ia mengulas portal IASSSF yang mengelola lebih dari 80 jurnal independen dengan prinsip “Morality Before Knowledge”—yaitu membebaskan Biaya Publikasi Artikel (APC) bagi penulis yang tidak memiliki dana demi menjaga inklusivitas ilmu.

Pemateri lain, Direktur IASSSF Nuraeni, S.K.M., M.Kes (kandidat Doktor SIL UI) membekali peserta dengan materi teknis yang komprehensif mengenai struktur standar artikel ilmiah, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga strategi pemetaan jurnal Scopus.

Nuraeni membahas lima kunci penulisan akademik, yaitu:

  1. Fokus menjawab tujuan riset.
  2. Struktur argumen yang logis dan bridging.
  3. Pemisahan yang jelas antara teori dan opini dengan menyertakan sitasi.
  4. Gaya ilmiah yang objektif dan berbasis bukti.
  5. Penggunaan hedging serta kalimat pendek.

“Penulis diimbau untuk menghindari ungkapan subjektif atau kata-kata berwarna-warni yang tidak terukur,” pesannya.

 

Penggunaan alat bantu AI (seperti ChatGPT) diizinkan terbatas untuk fungsi teknis, meliputi pencarian ide riset, membantu penyusunan draf, penyuntingan bahasa (misalnya melalui Grammarly), dan konversi tabel.  

“AI dilarang keras digunakan untuk membuat data palsu atau referensi fiktif. Dengan mengusung tagline ‘AI terdengar pintar, belum tentu benar’, penulis wajib selalu memverifikasi fakta dan sumber rujukan,” tegasnya.

 

Untuk mencegah kemiripan tinggi (di atas 15–25%), penulis dapat menerapkan teknik parafrase mandiri. Hal ini dilakukan dengan menukar posisi subjek-predikat-objek-keterangan (SPOK), memvariasikan diksi, serta melakukan translasi bolak-balik secara beretika.  

“Setiap kalimat kutipan wajib disertai dengan sitasi asli,” imbuh Nuraeni.

 

Peserta juga dibekali langkah praktis pemetaan jurnal SCOPUS meliputi pengecekan nama jurnal, penerbit (publisher), kuartil (Q1–Q4), daftar jurnal predator, status discontinue, riwayat waktu terbit, jumlah artikel, hingga besaran biaya APC.  

“Dalam proses ini, penulis disarankan memanfaatkan portal seperti Scimago, Scopus Content Coverage, dan Beall’s List,” ujarnya.

 

Bagi ASN atau dosen yang memiliki keterbatasan waktu dan dana riset lapangan, disarankan menggunakan metode Bibliometric Analysis atau Systematic Literature Review (SLR) dengan memanfaatkan perangkat lunak seperti VOSviewer atau Biblioshiny.  

Rangkaian acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif serta komitmen BPSDM Provinsi Maluku Utara untuk menghimpun seluruh draf awal peserta ke dalam klinik penulisan ilmiah berkelanjutan guna membentuk Ekosistem Peneliti ASN-Akademisi Maluku Utara.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter