Oleh: Dr. Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate
_______
SELAMA berabad-abad, nama Ternate telah mencuat dalam narasi besar perdagangan global. Cengkeh, pala, dan fuli yang tumbuh subur di tanah vulkaniknya bukanlah sekadar barang dagangan. Ia adalah denyut yang menghubungkan Nusantara dengan Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Karena itu, ketika Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) menetapkan Ternate sebagai tuan rumah Rakernas XII dengan tema “Ternate Episentrum Rempah Dunia”, kita harus mendukungnya dengan serius.
Menyambut Sejarah
Rakernas yang berlangsung pada 24–28 Agustus 2026 menjadi kesempatan emas bagi Ternate untuk kembali merebut panggung nasional dan internasional. Namun daya tarik utama dari perhelatan ini bukanlah pada aspek teknis penyelenggaraannya, melainkan pada pesan mendalam yang dibawanya bagi masa depan upaya pelestarian pusaka di Indonesia.
Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana kota pusaka mengelola segala sumber daya yang dimilikinya untuk mendorong kesejahteraan rakyat. Melles, Sosna, dan Jehlička (2026, 1) mengingatkan bahwa “menggunakan dan menghargai sumber daya adalah komponen penting dari kehidupan manusia.” Rempah-rempah Ternate bukanlah komoditas ekonomi belaka, tetapi sumber daya peradaban yang membentuk identitas.
Sebagaimana yang mereka tegaskan bahwa sumber daya “muncul dari hubungan material dan konseptual antara manusia dan lingkungan, menawarkan wawasan tentang apa yang dianggap baik dan berharga oleh masyarakat” (Melles, Sosna, dan Jehlička 2026, 1). Dalam konteks Ternate, rempah adalah sumber daya yang merangkai masa silam, masa kini, dan masa depan.
Pusaka yang Hidup
Salah satu sisi menarik dari Rakernas ini adalah pendekatannya yang jauh dari sekadar birokrasi. Rencana kegiatan mencakup sembilan agenda besar yakni Rapat Kerja Nasional, Simposium Internasional, Pentas Budaya, Expo/Pameran, Festival Gastronomi, Penyerahan Pataka, Pawai Budaya dan Karnaval, Heritage City Tour, serta City Tour. Begitu beragamnya agenda ini menunjukkan bahwa pelestarian pusaka tidak bisa hanya bermuara pada pertemuan formal di ruang tertutup.
Simposium Internasional, misalnya, akan mengusung narasi tentang pulau-pulau penghasil rempah sebagai daya tarik utama. Sejarah rempah dihidupkan kembali, sehingga para peserta tidak hanya menonton acara, tetapi juga memahami posisi strategis Ternate dalam lintasan sejarah dunia. Ternate sejak dulu sampai sekarang tetap menarik, dinamis, dan kreatif.
Sejarah rempah Maluku Utara sesungguhnya adalah sejarah interaksi antarbangsa yang panjang. Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, cengkeh dan pala dari Ternate dan Tidore telah menjadi komoditas yang sangat dibutuhkan oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Pada abad ke-16, Ternate telah menjadi pusat perhatian para pedagang internasional di jalur pelayaran dan perdagangan Indonesia bagian timur. Bahkan, bukti arkeologis menunjukkan bahwa cengkeh Maluku telah ditemukan sebagai arang dalam wadah keramik di kota kuno Suriah yang berusia lebih dari 3.500 tahun lalu, serta digunakan di Mesir sebagai bahan pengawet jenazah raja-raja sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Ini membuktikan bahwa rempah-rempah Nusantara telah menjadi bagian dari rantai perdagangan global jauh sebelum istilah “globalisasi” dikenal.
Rempah-rempah menjadi modal bagi Ternate untuk menjalin hubungan dagang dengan berbagai bangsa. Pedagang dari Arab, Tiongkok, India, dan Jawa sering berkunjung ke Ternate. Bahkan, para pedagang Arab dan China selama berabad-abad sengaja merahasiakan keberadaan kepulauan rempah ini hingga akhirnya maskapai dagang Eropa berhasil membuka tabir misteri tersebut pada abad ke-16.
Kepulauan Maluku bagian utara bahkan diberi nama “Jazirah Al Mulk” (Negeri Raja-Raja) oleh para pedagang Arab, yang merujuk pada empat kerajaan bahari: Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan. Pada abad ke-14, hubungan pelayaran dan perdagangan antara pelabuhan Tuban dan Gresik dengan Ternate sudah sering terjadi. Ini menunjukkan bahwa Ternate bukanlah wilayah terisolasi, melainkan simpul penting dalam jaringan perdagangan Nusantara dan dunia.
Di luar perdagangan, interaksi antarbangsa yang lahir dari rempah juga menjadi wahana transfer pengetahuan yang penting. Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin pernah menegaskan bahwa rempah tidak hanya sekadar komoditas unggulan ekonomi global, tetapi lebih dari itu, rempah adalah bangunan sejarah peradaban yang plural. Jalur Rempah menjadi gerbang pertukaran antarbudaya dan ilmu pengetahuan yang mewadahi berbagai konsep, gagasan, dan praktik yang melahirkan peradaban.
Salah satu contoh paling terkenal adalah surat dari Ternate yang dikirim oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace kepada Charles Darwin pada tahun 1858. Surat dari rumah kecil di Ternate itu berisi uraian tentang teori seleksi alam yang kemudian memaksa Darwin mempublikasikan pemikirannya. Tanpa kekayaan biodiversitas Nusantara sebagai bahan observasi Wallace, teori evolusi mungkin butuh waktu jauh lebih lama untuk ditemukan. Ini membuktikan bahwa Ternate bukan sekadar objek sejarah dunia, tetapi tempat lahirnya gagasan-gagasan besar yang mengubah peradaban.
Pawai Budaya dan Karnaval dalam acara ini dirancang dengan rute dari Fort Oranje menuju Kedaton Kesultanan sebagai panggung utama pertunjukan para delegasi. Pilihan ini sarat makna simbolis, yakni masa depan Ternate takkan kokoh jika tak menghormati masa lalunya.
Rinto Taib dalam tulisannya “Refleksi Hari Warisan Dunia” di laman JKPI (20 April 2026) mengingatkan bahwa Ternate memiliki jejak sejarah yang panjang, jauh sebelum bangsa kolonial menginjakkan kaki di awal abad ke-16. Ia menyoroti pentingnya perlindungan kawasan cagar budaya yang di dalamnya terdapat situs-situs rawan rusak atau hilang karena pembangunan.
Kembali pada persoalan sumber daya, menarik untuk menyimak pendapat Melles, Sosna, dan Jehlička (2026, 5) bahwa sumber daya muncul dari hubungan material dan konseptual, yakni apa yang dianggap sebagai sumber daya tidak dapat disimpulkan dari kebutuhan apriori, tetapi harus dilihat dalam praktik penilaian yang spesifik konteks. Dalam kerangka ini, kawasan cagar budaya di Ternate bukanlah benda mati. Ia adalah sumber daya budaya yang sarat makna dan nilai. Nilai itu lahir dari relasi antara masyarakat, sejarah, dan lingkungan yang membentuknya.
Pada Heritage City Tour, konsep jelajah rempah diperkuat dengan narasi sejarah yang terstruktur, termasuk pengemasan kisah Alfred Russel Wallace dan surat dari Ternate sebagai bagian dari promosi ilmiah dan sejarah kota. Cerita Wallace di Ternate perlu dikemas secara menarik dalam berbagai format konten untuk konsumsi masyarakat lokal dan global.
Pusaka yang ada juga harus dimanfaatkan demi keberlanjutan kesejahteraan masyarakat. Rudge (2025, 1) mengingatkan bahwa “keberlanjutan” dalam wacana kekinian kerap “telah menjadi mencakup segala sesuatu.” Namun, pendekatan Ternate justru berusaha keluar dari jebakan itu dengan menghidupkan kembali kearifan lokal yang sesungguhnya telah lama mempraktikkan keberlanjutan. Pusaka tidak boleh menjadi kurungan. Ia harus menjadi sumber kehidupan.
Kesejahteraan dari Pusaka
Dampak ekonomi dari perhelatan ini juga patut dicermati. Dengan ribuan peserta dari berbagai kota di Indonesia, sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan UMKM lokal diproyeksikan merasakan dampak positif yang besar. Ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi tidaklah bertolak belakang. Saat kita merawat pusaka dengan sungguh-sungguh, pusaka itu akan merawat kita pada gilirannya.
Namun, dalam semangat planetary health, Lang dan Meier zu Biesen (2026, 1) mengingatkan agar kita melampaui pendekatan yang terlalu berpusat pada manusia. Pelestarian pusaka Ternate bukanlah sekadar urusan manusia dan ekonominya, melainkan juga menyangkut keseluruhan ekosistem—tanah, laut, rempah, dan semua makhluk yang menghuninya.
Sejalan dengan itu, kawasan cagar budaya dan ekosistem secara umum di Ternate tidak boleh direduksi menjadi sekadar aset ekonomi. Ia memiliki nilai spiritual, sosial, dan kultural yang tak terukur dengan uang. Artinya, kita harus menjaga semuanya yang ada di planet ini.
Festival Gastronomi menjadi salah satu agenda penting yang dikemas secara spektakuler. Penguatan city branding sebagai Kota Rempah diturunkan melalui pengembangan kuliner berbasis rempah, produk industri rumah tangga, dan atraksi masak bersama yang melibatkan masyarakat luas. Ini bukan sekadar atraksi kuliner biasa, melainkan upaya menghidupkan kembali tradisi dan pengetahuan lokal tentang rempah yang telah diwariskan turun-temurun.
Rakernas JKPI 2026 adalah momentum strategis untuk mengangkat kembali martabat Ternate sebagai kota rempah di tingkat nasional dan global. Kehadiran para kepala daerah dari 47 kota anggota JKPI adalah peluang untuk membangun jejaring yang berkelanjutan, bukan sekadar pertemuan tahunan yang usai lalu usang. Kolaborasi antarkota pusaka harus terus diperkuat melalui konsep aglomerasi warisan budaya. Ternate tidak cukup hanya menjadi tuan rumah; Ternate harus menjadi motor penggerak dalam ekosistem pelestarian pusaka nasional.
Sebagai penutup, kita berharap seluruh masyarakat Ternate dan Maluku Utara dapat mengambil bagian dalam peristiwa bersejarah ini. Ini bukan sekadar acara pemerintahan. Ini adalah pesta rakyat. Inilah saatnya bagi kita semua untuk menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa Ternate bukanlah kota mati dalam catatan sejarah. Ternate adalah kota yang hidup, bernapas, dan terus berkarya.
Mempertahankan kota pusaka tidak bisa dilepaskan dari upaya mempertahankan dan merawat alam serta planet kita. Keberhasilan sebuah kota pusaka tidak semata diukur dari seberapa banyak bangunan bersejarah yang dipertahankan, tetapi juga dari seberapa besar warisan tersebut mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.
Rakernas JKPI 2026 diharapkan menjadi ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan upaya pelestarian ekosistem secara umum dan juga kesejahteraan manusia yang berada di kota tersebut. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.