Oleh: Akbar Gamtohe

________

Dari Pusat Kekaisaran hingga Tanah Kelahiran SepakBola Modern

Untuk memahami mengapa sepak bola menempati posisi begitu sentral dalam jiwa bangsa Inggris, kita perlu menengok jauh ke belakang, ke masa ketika Inggris bukan sekadar sebuah negara, melainkan pusat dari kekaisaran terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia. Pada puncak kejayaannya di abad ke-19 dan awal abad ke-20, Kerajaan Inggris (British Empire) menguasai hampir seperempat daratan bumi dan seperempat populasi dunia, sebuah dominasi yang melahirkan ungkapan terkenalmatahari tidak pernah terbenam di Kerajaan Inggris“. Ekspansi kolonial ini bukan hanya menyebarkan kekuasaan politik dan ekonomi, tetapi juga budaya, bahasa, dan yang tidak kalah penting, olahraga.

Sepak bola modern lahir di Inggris pada 1863, ketika Football Association didirikan di London dan untuk pertama kalinya menyusun aturan baku yang membedakan sepak bola dari rugbi. Melalui jalur perdagangan, pelayaran, dan administrasi kolonial, para pelaut, pedagang, insinyur, dan tentara Inggris membawa serta permainan ini ke pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota di Amerika Selatan, Afrika, Asia, hingga Eropa daratan. Dengan cara inilah Inggris, meski kemudian tidak selalu menjadi kekuatan terkuat di lapangan, tetap menyandang status sebagaitanah asal” (home of football) yang diakui secara global oleh FIFA maupun oleh sejarah itu sendiri.

Namun ironi sejarah pun muncul: bangsa yang menciptakan permainan ini justru harus menunggu hingga 1966 untuk merasakan gelar juara dunia pertama dan satu-satunya, ketika Inggris menjadi tuan rumah dan mengalahkan Jerman Barat 4-2 di final Wembley yang legendaris di bawah asuhan Sir Alf Ramsey serta gol hat-trick Geoff Hurst yang masih diperdebatkan hingga kini. Kemenangan itu terjadi pada masa Inggris tengah mengalami transisi identitas besar-besaran: kekaisaran sedang runtuh melalui gelombang dekolonisasi pascaperang, dan sepak bola menjadi salah satu ruang di mana kebanggaan nasional yang dahulu bersumber dari kekuasaan kolonial kini dialihkan kepada prestasi olahraga.

Selepas 1966, geopolitik Inggris terus berubah: keanggotaan dalam Uni Eropa pada 1973, ketegangan konstitusional dengan Skotlandia dan Irlandia Utara, hingga Brexit pada 2016 yang menandai babak baru posisi Inggris di panggung dunia sebagai negara yang memilih jalan sendiri di luar blok Eropa. Di tengah semua pergolakan politik ini, tim nasional sepak bola Inggris—yang akrab disapaThe Three Lionsmerujuk pada lambang tiga singa emas pada lambang kerajaan sejak era Richard si Hati Singa—tetap menjadi salah satu simbol pemersatu yang jarang dimiliki oleh institusi lain di negeri itu.

Frustrasi kolektif atas kegagalan berulang menembus final besar sejak 1966 melahirkan lagu ikonik “Three Lions” karya Baddiel, Skinner, dan Lightning Seeds pada 1996, dengan lirik reffrain yang kini menjadi jargon abadi: “it’s coming home“. Lagu ini awalnya ditulis dengan nada getir-penuh-harap menjelang Euro 1996 yang digelar di Inggris, namun tiga dekade kemudian justru berubah menjadi mantra optimisme setiap kali Tim Tiga Singa melangkah ke turnamen besar. Ungkapanfootball’s coming homebukan lagi sekadar klaim historis bahwa sepak bola “pulangke tempat kelahirannya, melainkan telah menjelma menjadi doa kolektif seluruh bangsa untuk akhirnya mengangkat trofi yang sama seperti generasi 1966.

Ada sesuatu yang puitis dalam kenyataan bahwa bangsa yang melahirkan permainan ini, yang pernah menguasai sepertiga dunia melalui kekuatan kolonial, kini justru mendambakan sesuatu yang jauh lebih sederhana namun terasa lebih sulit diraih: mengangkat trofi emas yang sama seperti 60 tahun silam. Piala Dunia 2026 menjadi momentum di mana sejarah panjang Inggris—sebagai pusat kekaisaran, sebagai penemu sepak bola modern, sebagai bangsa yang terus mendefinisikan ulang jati dirinya pascakekaisaran dan pasca-Brexit—bertemu dengan harapan sederhana jutaan pendukung yang menyanyikanit’s coming home” di setiap sudut pub dan ruang keluarga.

Terlepas dari hasil akhir yang belum dapat dipastikan, satu hal yang jelas: setiap kali Tim Tiga Singa melangkah ke lapangan, mereka membawa lebih dari sekadar ambisi olahraga. Mereka membawa beban sejarah sebuah bangsa yang ingin membuktikan bahwa rumah sepak bola sesungguhnya, setelah enam dekade penantian, layak kembali merasakan menjadi juara dunia. (*)