Oleh: Ilham Djufri, ST.,M.Kom

Dosen Teknologi Informasi Institut Teknologi Gamalama

_______

DALAM beberapa tahun terakhir, istilah Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu kata yang paling sering digunakan dalam diskusi publik. Di ruang kelas, seminar, media sosial, pemberitaan daring, hingga dokumen kebijakan pendidikan, kita hampir setiap hari menemukan pernyataan seperti: “AI digunakan dalam pembelajaran,” “mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas,” atau “AI membantu dosen menyusun materi kuliah.”

Pernyataan-pernyataan tersebut terdengar benar. Namun, jika ditinjau secara konseptual, sebagian besar sebenarnya mengandung kekeliruan mendasar. Dalam praktiknya, yang digunakan oleh mahasiswa, guru, dosen, peneliti, maupun masyarakat umum bukanlah AI secara langsung, melainkan tools AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Copilot, Perplexity, Canva AI, dan berbagai aplikasi lain yang dibangun di atas teknologi kecerdasan buatan.

Kesalahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam perspektif filsafat ilmu, kesalahan konsep sering kali melahirkan kesalahan berpikir yang lebih besar. Ketika masyarakat gagal membedakan antara AI dan tools AI, maka diskusi akademik, kebijakan publik, bahkan etika teknologi berpotensi dibangun di atas pemahaman yang kurang tepat.

AI itu teknologi, bukan aplikasi. Istilah AI pertama kali diperkenalkan oleh John McCarthy pada tahun 1956 dalam konferensi Dartmouth yang dianggap sebagai titik lahir disiplin ilmu AI modern. Sejak awal, AI dipahami sebagai cabang ilmu komputer yang berupaya menciptakan sistem yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia, seperti belajar, bernalar, mengenali pola, memahami bahasa, dan mengambil keputusan. Dengan kata lain, AI adalah teknologi, metode, algoritma, model matematis, dan sistem komputasi. AI bukan aplikasi tertentu, AI bukan ChatGPT, AI bukan Gemini, AI bukan Copilot, semua nama-nama tersebut adalah produk atau layanan yang memanfaatkan AI.

Perbedaan ini sangat penting, ketika seseorang menggunakan ChatGPT, ia sebenarnya tidak berinteraksi langsung dengan AI sebagai disiplin ilmu atau teknologi dasar. Ia menggunakan sebuah aplikasi yang memanfaatkan model AI untuk menghasilkan jawaban dalam bentuk percakapan. Dalam konteks ini, GPT adalah model AI, sedangkan ChatGPT adalah alat (tool) yang dibangun di atas model tersebut. Kesalahan yang mirip dengan menyamakan internet dan Facebook.

Untuk memahami persoalan ini, bayangkan seseorang berkata “Saya menggunakan internet untuk menulis dokumen.” Secara umum mungkin tidak salah, tetapi yang sebenarnya digunakan adalah aplikasi seperti Microsoft Word, Google Docs, atau perangkat lunak lainnya yang berjalan di atas infrastruktur internet. Demikian pula ketika seseorang mengatakan “Saya menggunakan AI untuk membuat artikel”, dalam kenyataannya, yang digunakan adalah tools seperti ChatGPT, Gemini atau Perplexity. 

Analogi lainnya lebih sederhana, listrik bukanlah kulkas, mesin bukanlah mobil, internet bukanlah Facebook dan sistem operasi bukanlah aplikasi. Begitu pula AI bukan ChatGPT. ChatGPT hanyalah salah satu aplikasi yang dibangun menggunakan AI. Namun, karena masyarakat lebih sering berinteraksi dengan produknya dibanding teknologinya, maka terjadi penyederhanaan yang berlebihan. Lambat laun, produk dianggap identik dengan teknologi yang melahirkannya.

Mengapa kesalahan pemahaman ini perlu diperbaiki? Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa perdebatan ini hanya persoalan istilah, padahal tidak demikian. Dalam dunia akademik, ketepatan konsep menentukan ketepatan analisis. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa sebuah argumentasi hanya dapat berdiri kokoh apabila dibangun di atas definisi yang jelas. Misalnya, banyak institusi pendidikan mengeluarkan kebijakan yang menyatakan “Mahasiswa dilarang menggunakan AI dalam pengerjaan tugas.” Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar. Apa yang dimaksud dengan AI? Apakah yang dilarang hanya ChatGPT? Bagaimana dengan Grammarly yang menggunakan AI? Bagaimana dengan Google Translate yang memanfaatkan model pembelajaran? Bagaimana dengan mesin pencari modern yang menggunakan AI untuk mengurutkan hasil pencarian? Apabila definisinya tidak jelas, maka kebijakan tersebut menjadi problematis dan sulit diterapkan secara konsisten. Di sinilah pentingnya membedakan AI sebagai teknologi dengan tools AI sebagai sarana penggunaan teknologi.

Bahaya reduksi AI menjadi ChatGPT, merupakan salah satu dampak paling serius dari kekeliruan ini adalah munculnya persepsi bahwa AI identik dengan chatbot. Padahal ruang lingkup AI jauh lebih luas. AI digunakan dalam diagnosis penyakit berbasis citra medis, kendaraan otonom, sistem deteksi penipuan perbankan, prediksi cuaca, keamanan siber, pengenalan wajah, sistem rekomendasi media digital, robotika, hingga penelitian ilmiah.

Ketika AI direduksi menjadi sekadar ChatGPT, masyarakat kehilangan pemahaman mengenai kompleksitas dan luasnya penerapan kecerdasan buatan. Akibatnya, diskusi publik tentang AI menjadi dangkal dan terjebak pada persoalan-persoalan permukaan.

Dari sudut pandang filsafat teknologi, kekeliruan ini mencerminkan apa yang oleh Martin Heidegger disebut sebagai kecenderungan manusia modern untuk lebih memperhatikan hasil daripada memahami hakikat teknologi itu sendiri.

Masyarakat menikmati kemudahan yang diberikan oleh tools AI, tetapi jarang memahami mekanisme, logika, dan struktur teknologi yang bekerja di baliknya. Akibatnya, diskusi tentang AI sering kali berubah menjadi diskusi tentang aplikasi tertentu, bukan tentang kecerdasan buatan sebagai fenomena teknologi dan sosial yang lebih luas. Fenomena ini juga berbahaya karena dapat menciptakan ilusi pemahaman. Banyak orang merasa telah memahami AI hanya karena pernah menggunakan ChatGPT, padahal mereka baru berinteraksi dengan salah satu produk yang memanfaatkan AI.

Untuk itu, literasi AI yang harus lebih dewasa, jika Indonesia ingin membangun masyarakat yang benar-benar siap menghadapi era kecerdasan buatan, maka literasi AI harus dimulai dari ketepatan memahami konsep dasar. Kita perlu membiasakan penggunaan istilah yang lebih presisi. Alih-alih mengatakan “Mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas.” Lebih tepat mengatakan “Mahasiswa menggunakan tools AI seperti ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas.” Alih-alih mengatakan “AI digunakan dalam pembelajaran” Lebih tepat mengatakan “Berbagai aplikasi berbasis AI digunakan untuk mendukung pembelajaran.” Perbedaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi secara epistemologis sangat penting karena membantu masyarakat memahami struktur teknologi yang sebenarnya. (*)