Oleh: Igrissa Majid

Pegiat Antikorupsi

________

ADA ironi besar dalam dunia usaha Indonesia hari-hari ini. Semakin banyak investasi masuk, semakin banyak pula kegelisahan sosial tumbuh. Dan, angka ekonomi hanya dipamerkan melalui statistik dan podium kekuasaan.

Di Indonesia Timur, terutama Maluku Utara, ironi itu terlihat telanjang. Tambang dibuka. Hutan digunduli. Smelter berdiri. Tapi pada saat yang sama, gejala lain pun beriringan, yaitu pengusaha lokal sulit naik kelas, organisasi bisnis kehilangan daya kritis, dan terlalu banyak orang percaya bahwa sukses usaha harus dimulai dari kedekatan dengan kekuasaan.

Di titik itu, bisnis berhenti menjadi kerja intelektual dan hanya berubah menjadi perlombaan mengumpulkan akses serta modal uang. Padahal sejatinya, dunia usaha tidak cukup hanya ditopang oleh kekuatan finansial. Intelektualitas seharusnya menjadi fondasi utama dalam menjalankan usaha: cara berpikir, kemampuan membaca perubahan, etika mengambil keputusan, hingga keberanian membangun nilai.

Peter F. Drucker, yang oleh banyak kalangan mengenalnya sebagai Bapak Manajemen Modern pernah mengingatkan, kemajuan sebuah bangsa lahir dari kemampuan mengolaborasikan tiga kekuatan sekaligus, human capital, social capital, dan intellectual capital. Saya kira gagasan itu tetap relevan sampai hari ini. Sebab tanpa kualitas manusia, tanpa kepercayaan sosial, dan tanpa kedalaman berpikir, bisnis hanya akan melahirkan kerapuhan.

Sejarah bisnis modern menunjukkan perusahaan besar lahir bukan hanya dari kekuatan modal uang, tetapi dari kemampuan membaca perubahan dan membangun inovasi. Kita bisa melihat contoh itu pada banyak pengusaha besar. Bill Gates tidak membangun Microsoft hanya dengan modal uang, tetapi dengan kapasitas intelektual membaca masa depan teknologi.

Di Indonesia, Nadiem Makarim membangun perusahaan Gojek karena mampu membaca problem sosial masyarakat lalu mengubahnya menjadi inovasi. Bahkan Chairul Tanjung sering menekankan bahwa jaringan dan kepercayaan dibangun dari integritas serta kemampuan berpikir jangka panjang, bukan sekadar transaksi sesaat.

Karena itu, pengusaha sejati bukan hanya orang yang mampu mengakumulasi satu modal, tetapi mereka yang mampu mengubah pengetahuan menjadi nilai, mengubah relasi sosial menjadi kepercayaan, dan mengubah usaha menjadi bagian dari kemajuan masyarakatnya.

Menjadi pengusaha bukan hanya menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi untuk merencanakan bagaimana mendapat porsi dari proyek yang bersumber dari dana negara. Juga bukan hanya mengandalkan teknik mencari akses. Dan kalau saja akses lebih penting daripada merit, maka korupsi menemukan habitatnya yang paling nyaman. Korupsi itu bukan cuma soal seberapa tebal amplop coklat yang masuk, baik dari pemberi maupun kepada penerima. Itu definisi paling malas tentang korupsi.

Salah satu jenis korupsi yang paling berbahaya adalah ketika etika perlahan dianggap menghambat pertumbuhan dan pemerataan. Ketika organisasi pengusaha mulai kehilangan independensinya. Ketika kritik dianggap ancaman. Ketika relasi bisnis dan kekuasaan bercampur terlalu intim sampai publik tidak lagi bisa membedakan, mana keputusan ekonomi dan mana transaksi kepentingan.

Saya relevansikan ini sebagai bentuk refleksi sekaligus kacamata pegiat antikorupsi. Sebab, saya mengenal Imran Guricci cukup lama untuk tahu bahwa dia bukan tipe manusia yang nyaman dengan keadaan seperti itu. Saya merasa senang ketika beberapa media online mengabarkan bahwa alumni National University of Singapore ini turut tampil dalam bursa pencalonan Ketua Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Maluku Utara.

Saya dan Imran, kami berasal dari ruang akademik yang sama di Universitas Khairun Ternate, karena saya pernah kuliah di sana, di Fakultas Sastra, walaupun hanya beberapa semester. Di fakultas itu, dipenuhi diskusi, perdebatan, dan keyakinan bahwa intelektualitas masih punya tempat dalam kehidupan publik.

Imran sahabat diskusi saya kala itu. Ada satu hal yang saya lihat dari dulu, dia menjaga cara berpikirnya tetap waras. Dan saya yakin dia akan terus semaikan prinsip itu. Karena memang kewarasan juga integritas adalah titik tertinggi kehormatan sebagai manusia. Mengapa ini penting? Karena dunia usaha kita saat ini terlalu banyak dipenuhi orang yang pintar menghitung keuntungan, tetapi malas memikirkan akibat moral dari kekuasaan ekonomi.

Padahal ekonomi tanpa etika hanya menghasilkan kerakusan yang dilegalkan. Di satu sisi, kita sedang menyaksikan generasi pengusaha yang kadang lebih sibuk mendekati penguasa daripada memperkuat kapasitasnya sendiri. Akibatnya, organisasi bisnis sering kehilangan fungsi intelektual dan moralnya. Hanya menjadi ruang distribusi pengaruh.

Sangat disayangkan, HIPMI mestinya tidak boleh jatuh serendah itu. HIPMI seharusnya menjadi tempat lahirnya pengusaha yang punya keberanian berpikir, bukan sekadar keberanian berjejaring. Sebab daerah seperti Maluku Utara tidak kekurangan sumber daya alam. Yang kurang adalah keberanian membangun peradaban bisnis yang sehat.

Dan saya kira Imran memahami problem itu. Dia bukan tipe manusia yang berisik di depan lalu berubah di belakang meja. Saya yakin Imran mengerti bahwa investasi itu penting, tetapi investasi tanpa etika hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Pada keyakinan saya yang lain, Imran tahu bahwa pengusaha tidak boleh sekadar menjadi broker kekuasaan. Pengusaha harus punya tanggung jawab moral terhadap daerahnya sendiri, juga dirinya sendiri tentunya.

Itu sebabnya, saya tidak melihat pencalonannya sekadar sebagai bagian dari dinamika organisasi biasa. Ada pertaruhan cara berpikir di dalamnya. Apakah organisasi pengusaha masih mau dipimpin oleh orang yang memegang integritas? Atau mau menyerah pada logika paling primitif dalam ekonomi, bahwa siapa paling dekat dengan kekuasaan, dia paling berhak menguasai peluang.

Sebab kalau itu yang terjadi, maka dunia usaha tidak lagi menghasilkan inovasi. Justru hanya menghasilkan oligarki kecil dengan wajah baru. Saya berharap Imran tetap menjadi anak muda yang keren: tenang, waras, dan tidak mudah tergoda.

Berbisnislah dengan etika. Keuntungan bisa dicari. Jaringan bisa dibangun. Tapi integritas adalah modal paling langka dan paling mahal untuk dipertahankan. (*)