Tandaseru — Rencana pengembangan Museum AR Wallace di Kota Ternate, Maluku Utara, mendapat respons positif pemerintah pusat. Museum yang mengabadikan rekam jejak sang naturalis dunia tersebut menjadi salah satu perwakilan dari Maluku Utara yang diundang dalam rapat koordinasi nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Rapat kedinasan virtual yang berlangsung pada Jumat (15/5/2026) lalu itu diinisiasi Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI. Agenda utama pertemuan tersebut membahas Persiapan dan Koordinasi Revitalisasi Museum dan Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia, serta pembahasan data dukung teknis revitalisasi.
Undangan resmi yang ditandatangani langsung Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., diterima Rinto Taib selaku Kepala Museum AR Wallace Ternate.
Menanggapi hal tersebut, Rinto memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas program revitalisasi yang digalakkan kementerian. Menurutnya, program ini merupakan angin segar sekaligus anugerah bagi Maluku Utara dan dunia internasional, khususnya dalam menunjang ilmu pengetahuan, pemajuan kebudayaan, dan sektor pariwisata.
“Indonesia, khususnya Maluku Utara, kaya akan sumber daya alam yang melimpah. Bukan saja sektor pertambangan yang menjadi sorotan, melainkan keanekaragaman hayati dan budaya masyarakatnya yang sejak dahulu kala telah menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dunia,” ujar Rinto.
Rinto menjelaskan, para ilmuwan dunia sejak era kolonial hingga milenial terus menemukan inspirasi global dari kekayaan alam Indonesia. Keberadaan komoditas rempah-rempah hingga kekayaan flora dan fauna telah mendorong berbagai riset penting di bidang medis, biologi modern, geografi, etnografi, hingga studi linguistik.
Argumentasi kuat inilah yang mendorong Rinto untuk menginisiasi keberadaan Museum AR Wallace di Ternate. Alfred Russel Wallace sendiri merupakan naturalis tersohor berkebangsaan Inggris yang menetap di Ternate pada 8 Januari 1858 hingga Januari 1861. Melalui karya intelektualnya yang mendunia, seperti The Malay Archipelago dan The Letter from Ternate, Wallace berhasil mempromosikan kekayaan Indonesia ke panggung sains global.
Lebih lanjut, Rinto berharap program revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan ini dapat terwujud nyata dan didukung penuh oleh seluruh ekosistem budaya di daerah. Langkah ini dinilai krusial di tengah krisis ekologi dan tantangan industrialisasi modern.
“Diperlukan kesadaran ekologis dan komitmen menjaga kelestarian alam (spirit konservasi) demi masa depan dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan,” pungkas Rinto.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.