Oleh: Fahri Sibua
Pegiat Literasi Yogyakarta
_______
TIKTOK telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, menjadi platform media sosial terkemuka yang memengaruhi cara kita berinteraksi dan berbagi konten. Dengan lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan, TikTok telah mengubah cara kita mengakses hiburan, komunikasi, dan ekspresi diri. Namun, di balik pesonanya yang serba cepat dan menghibur, ada sisi gelap yang mengancam moralitas sosial kita. Platform ini, meskipun memberi kesempatan bagi kreativitas dan kebebasan berekspresi, juga menciptakan ruang di mana viralitas lebih dihargai daripada nilai-nilai adab dan etika. Fenomena ini mengarah pada pertanyaan besar: Apakah TikTok, dengan segala popularitasnya, telah memperburuk keruntuhan moralitas masyarakat, terutama di kalangan generasi muda?
Platform Viral dengan Pengaruh Global
TikTok dikenal dengan kemampuannya membuat konten menjadi viral dalam hitungan jam, bahkan menit. Dengan algoritma yang dirancang untuk memberikan apa yang pengguna inginkan, TikTok mengutamakan keterlibatan tinggi dalam bentuk likes, komentar, dan shares. Namun, algoritma ini juga menempatkan viralitas sebagai tujuan utama, bukan kualitas atau nilai dari konten itu sendiri. Ini menciptakan lingkaran umpan balik di mana konten yang menarik perhatian, meskipun tidak selalu bermoral atau etis, lebih cenderung untuk tersebar luas. Dalam banyak kasus, video sensasional yang mengedepankan kekerasan, body-shaming, atau humor yang merendahkan mendapat lebih banyak perhatian dibandingkan dengan konten yang mengedepankan nilai positif dan edukasi.
Konten yang viral di TikTok sering kali tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga untuk mengejutkan, menggetarkan, atau bahkan mengeksploitasi perasaan penonton. Salah satu contohnya adalah tantangan viral yang berbahaya seperti tantangan fisik yang mengancam keselamatan, atau tantangan mental yang merendahkan martabat individu. TikTok, yang awalnya dimaksudkan untuk menjadi platform kreativitas, justru semakin sering digunakan untuk mengejar perhatian dengan mengorbankan nilai moral dan etika.
TikTok dan Algoritma yang Mendorong Perilaku Sensasional
Algoritma TikTok memainkan peran besar dalam keberhasilan viralitas. Video yang mendapat banyak interaksi terutama yang memicu emosi kuat, seperti rasa jijik, kemarahan, atau kebingungan akan lebih sering muncul di halaman For You pengguna. Algoritma ini, meskipun memberikan pengalaman pengguna yang lebih personal, juga memperburuk degradasi moral. Konten yang provokatif atau kontroversial akan mendapatkan lebih banyak perhatian daripada video yang mendidik atau menginspirasi.
Ini bukan hanya masalah “konten viral” yang menghasilkan hiburan, tetapi lebih kepada bagaimana TikTok menormalisasi perilaku ekstrem dan memperburuk perilaku negatif. Misalnya, video yang menantang pengguna untuk melakukan tindakan berbahaya sering kali menjadi tren di TikTok, meskipun dapat merusak kesehatan fisik dan mental para pelaku. Body-shaming dan seksisme juga sering muncul sebagai bagian dari humor yang dianggap lucu oleh banyak orang, padahal sesungguhnya itu mencerminkan pengabaian terhadap moralitas dasar dalam berinteraksi dengan sesama.
Generasi Muda dan Krisis Moralitas Digital
TikTok sangat populer di kalangan Generasi Z, yang umumnya berusia antara 16 hingga 24 tahun. Generasi ini, yang tumbuh di tengah revolusi digital, sangat bergantung pada media sosial untuk membentuk identitas sosial dan cara mereka berinteraksi dengan dunia. TikTok, dengan segala fitur menariknya, telah mengubah cara mereka mengevaluasi nilai-nilai seperti keberhasilan, kepopuleran, dan pengaruh sosial.
Bagi banyak anak muda, menjadi viral di TikTok berarti mencapai status sosial yang tinggi. Namun, ini juga berarti bahwa nilai moral seringkali terabaikan. Apa yang dahulu dianggap tabu atau tidak pantas untuk dipublikasikan, kini bisa dengan mudah menjadi viral dan diterima begitu saja. Perilaku yang tidak etis, seperti mengeksploitasi tubuh atau merendahkan kelompok tertentu, sering kali mendapat lebih banyak eksposur daripada konten yang lebih bermanfaat, mendidik, atau berbasis pada nilai moral yang sehat.
TikTok dan Keruntuhan Etika Akademik
Mengkhawatirkannya, bukan hanya anak-anak muda atau remaja yang terkena dampak dari budaya viral TikTok ini, tetapi juga kaum pelajar di tingkat perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pilar moral dan intelektual bangsa. Ironisnya, banyak dari mereka yang masih tergoda untuk mengejar viralitas di TikTok, mengorbankan integritas akademik dan moralitas yang seharusnya mereka bangun di lingkungan pendidikan tinggi. Mereka yang berada di perguruan tinggi seharusnya menjadi pelopor intelektual, berpikir kritis, dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran sering kali terjebak dalam perburuan likes dan followers, seperti yang dilakukan oleh remaja biasa. Mereka mulai menurunkan standar etika mereka, menyebarkan konten yang mengeksploitasi emosi orang banyak tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap moralitas masyarakat.
Jika mahasiswa yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat malah ikut merendahkan nilai-nilai moral demi viralitas, maka kita sedang menghadapi krisis keruntuhan etika di tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana kita bisa mengharapkan bangsa ini berkembang menjadi bangsa yang beradab jika para pelajar di universitas, yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan, terperangkap dalam godaan TikTok yang hanya mementingkan popularitas semata.
Normalisasi Perilaku Merusak dan Peran TikTok dalam Pembentukan Norma Sosial
Fenomena yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana TikTok secara tidak sadar menormalisasi perilaku yang merusak sebelumnya mungkin dianggap tidak pantas atau kontroversial. Misalnya, video yang mengandung humor kasar, stereotip negatif, atau kekerasan verbal sering kali mendapatkan banyak penonton, sementara konten yang lebih konstruktif dan berbasis moral sering kali kurang mendapat perhatian. Konten-konten seperti ini, meskipun sering kali mengundang kecaman, tetap mendapat engagement yang sangat tinggi, dan itu membentuk norma sosial yang salah di kalangan penggunanya.
TikTok, pada dasarnya, menjadi platform yang mendorong kita untuk menyukai konten yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan konten yang menawarkan nilai etika dan adab yang lebih sehat. Ketika video yang penuh kebencian, penghinaan, dan ketidakpedulian terhadap sesama menjadi populer, kita tidak hanya melihat kerusakan moral individual, tetapi juga pengaruhnya terhadap perilaku sosial yang lebih luas.
Penting untuk diingat bahwa TikTok, seperti semua platform media sosial lainnya, bukan hanya mencerminkan realitas sosial kita, tetapi juga membentuknya. Oleh karena itu, tanggung jawab kita baik sebagai pengguna maupun sebagai bagian dari masyarakat yang lebih besar adalah untuk mulai mempertanyakan konten yang kita konsumsi dan sebarkan, serta dampaknya terhadap nilai moral dan etika kita. Masyarakat digital yang sehat harus dilandaskan pada kesadaran kritis, etika yang kuat, dan komitmen untuk menghargai adab dalam setiap aspek kehidupan kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Untuk itu, sudah saatnya kita bertindak dan mulai mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia digital, agar nilai moral dan etika tetap menjadi fondasi utama yang harus kita pegang teguh dalam menghadapi segala kemajuan teknologi. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.