Tandaseru — Mahasiswa magang Program Studi Sastra Inggris Universitas Khairun bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku Utara sukses menggelar webinar edukatif bertajuk “Bahasa di Tengah Perubahan Zaman: Menjaga Jati Diri Bangsa dalam Semangat Sumpah Pemuda”, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube di kanal SalbatBPSDM ini diikuti 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa Unkhair, pelajar SMA/SMK, pemuda, pendidik, aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat umum.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Khairun Ternate, Yunus, S.S., M.Hum. Sementara itu, Kepala BPSDM Provinsi Maluku Utara Fachruddin Tukuboya hadir sebagai keynote speaker membawakan materi berjudul “Guardians of Our Language: The Role of Young People in Preserving Language and Literature”.

Dalam arahannya, Fachruddin menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai young guardians dalam menjaga kelestarian bahasa dan sastra di era digital. Ia menyatakan, Bulan Bahasa dan Sastra merupakan jembatan sejarah yang menghubungkan komitmen Sumpah Pemuda 1928 dengan tantangan riil generasi digital masa kini.

“Pemuda dituntut memiliki 5 peran aktif: menggunakan bahasa Indonesia secara santun di ruang formal, membudayakan membaca dan menulis, aktif dalam kegiatan sastra, mengunggah konten positif di media sosial, serta menghargai bahasa daerah,” ujar Fachrudin.

Ia menambahkan, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi dan menangkal disinformasi di ruang siber.

Webinar ini juga menghadirkan tiga narasumber ahli, yakni Nur Lienda, M.T., M.Sc. yang membahas “Language in the Digital Era”, Dr. Faradila Masuara, S.S., M.Ed. (TESOL Int’l) yang memaparkan kondisi kritis kebahasaan di Maluku Utara, serta praktisi sekaligus PNS Dinas Pariwisata Malut, Kurniati, yang membagikan kisah inspiratif terkait pemberdayaan bahasa Inggris.

Nur Lienda dalam materinya menjelaskan, komunikasi mengalami pergeseran dari tatap muka dan surat yang terukur menjadi interaksi serba cepat, global, namun terfragmentasi dan didominasi oleh singkatan, bahasa gaul, serta emoji.

“Ini menjadi tantangan ‘Digital Double-Edged Sword’, di mana teknologi menyediakan akses pengetahuan tanpa batas, tetapi juga menimbulkan hambatan seperti Context Collapse (percampuran bahasa informal ke ranah formal), hilangnya intonasi (Tone Loss), penyebaran hoaks, dan fenomena toxic communication,” jelasnya.

Menurutnya, generasi muda wajib membagi ranah kebahasaan secara seimbang: Outer Layer (Menguasai Bahasa Asing untuk akses pengetahuan global), Middle Layer (Mengutamakan Bahasa Indonesia untuk komunikasi resmi dan persatuan), serta Core Layer (Melestarikan Bahasa Daerah untuk menjaga identitas budaya lokal).

“Ini disebut dengan penerapan Framework Trigatra Bahasa,” imbuhnya.

Lienda juga membahas tentang Cetak Biru Komunikator Bertanggung Jawab (Responsible Communicator Blueprint), di mana setiap pengguna internet harus mempraktikkan Critical Mind (verifikasi sebelum berbagi), Polite Tone (menyesuaikan gaya bahasa dengan audiens), dan Responsible Action (berpikir jernih sebelum mengunggah pesan).

Sementara dalam pemaparannya, Dr. Faradila menyoroti tantangan nyata di daerah, di mana dari 19 bahasa daerah yang ada di Maluku Utara, sebanyak 8 di antaranya kini berstatus terancam punah. Ia mengajak pemuda menerapkan empat langkah pelestarian, yakni Ground Yourself, Dig Deep, Reach Out, dan Promote.

Di sisi lain, Kurniati membagikan pengalaman bertema “English Opened Doors for Me: From Scholarship Opportunities to Building a Homestay in North Maluku”. Ia mengungkapkan, kemampuan bahasa Inggris membuka jalan meraih beasiswa prestisius Australia Awards dan Netherlands Fellowship Program (NFP) untuk jenjang Master.

Pengalaman internasional juga dimanfaatkan untuk mendirikan homestay pertama di Maluku Utara yang dipasarkan secara daring dan masuk dalam panduan wisata dunia Lonely Planet, dengan ~80% tamu berasal dari mancanegara.
“Selain itu, penguasaan bahasa asing memfasilitasi hubungan diplomatik dan studi banding antara Pemerintah Halmahera Utara dengan Pemerintah Polandia pada tahun 2024. Pesan saya bagi pemuda, kemampuan bahasa tidak membutuhkan kesempurnaan di awal, melainkan keberanian dan konsistensi untuk terus mencoba (Persistence over Perfection),” tandasnya.

Sesi diskusi interaktif turut mewarnai jalannya acara, membahas isu mulai dari strategi menarik minat Gen Z terhadap bahasa daerah hingga upaya mendongkrak literasi di tengah distraksi digital. Menutup rangkaian kegiatan, BPSDM Provinsi Maluku Utara dan Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Khairun Ternate sepakat menjajaki Nota Kesepahaman (MoU) formal untuk program pengembangan bahasa, pelatihan literasi, dan magang berkelanjutan.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter