Oleh: Asghar Saleh
_______
Saat pohon-pohon terbakar lalu mati, harapan-harapan hidup ikut mati.
SABTU malam 10 Oktober 2026. Tagline “Tumbuhnya Lebih Terasa” makin meriah dengan goyangan Nassar dan centilan lucu Rina Noise di atas panggung utama di pusat ibukota yang memancing gelak tawa dan sorak sorai ribuan orang. Mereka sedang berpesta merayakan 27 tahun usia provinsi ini.
Sementara jauh di ujung Selatan, ratusan mata yang memerah menatap cemas. Tak ada keriangan. Yang menumpuk adalah ketakutan. Api kian tidak terkendali. Seorang warga yang saya kontak di sepertiga malam bercerita, kebakaran hutan dan lahan terus bergerak ke arah utara pulau itu. Kebakaran hebat dalam sebulan terakhir membuat udara tercemar oleh asap. Polusi hitam pekat itu bahkan dibawa angin ke daratan Sulawesi.
“Kebakaran terjadi di dua kecamatan, Taliabu Barat Laut dan Taliabu Utara. Lebih dari 100 hektare hutan terbakar habis”.
Yang bikin sesak, ada sekitar 8.000 pohon cengkih milik petani lokal ikut terbakar. Di tengah kesulitan ekonomi yang kian mencekik dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik, cengkih adalah “deposito pendaman” yang menjaga asap dapur petani tetap mengepul. Meski bukan lagi komoditas unggulan dengan harga tinggi yang diperebutkan seperti tiga-empat abad lalu, cengkih tetap jadi solusi ekonomi. Tapi saat terbakar habis, apa yang tersisa bagi para petani untuk bertahan hidup?
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Maluku Utara mencatat, dalam periode Juli-September 2026, kebakaran hutan dan lahan terjadi sebanyak 178 kejadian. Tersebar di kabupaten dan kota dengan titik api ada di 40 kecamatan dan 121 kelurahan dan desa. Halmahera Utara memiliki kejadian terbanyak yakni 62 karhutla. Hanya Kabupaten Kepulauan Sula yang belum terlaporkan. Data ini belum termasuk karhutla yang terjadi selama bulan Oktober di mana Halmahera Timur juga jadi daerah yang terbilang parah.
Total hutan dan lahan yang terbakar habis adalah sebesar 617,69 hektare. Jumlah ini berpotensi bertambah karena titik api masih terpantau di banyak tempat. Kemarau yang berimbas pada kekeringan juga masih terjadi. Kabut hasil karhutla membuat jarak pandang terbatas. Kemarin saat menggunakan speedboat menyeberangi lautan dari Sofifi ke Ternate, Pulau Tidore, Ternate dan Halmahera sama sekali tak terlihat sepanjang perjalanan. BMKG memprediksi hujan mungkin baru akan turun akhir bulan Oktober.
Jika membedah lebih rinci, sekitar 10 persen dari yang terbakar itu adalah hutan lindung dan hanya 2 persen yang isinya semak belukar. Sama seperti di Taliabu, api tragisnya menghanguskan lebih dari 500 hektare perkebunan warga di daratan Halmahera, Morotai, Ternate, Tidore dan Kasiruta serta sebagian pulau Bacan. Persentase wilayahnya mencapai lebih dari 80 persen karhutla. Apa isi perkebunan itu? Yang paling banyak adalah cengkih, pala dan kelapa.
Belum dihitung secara rinci berapa jumlah pohon cengkih, pala dan kelapa yang gosong. Tapi kerugian dalam skala besar akan terjadi. Ekonomi di level bawah terganggu. Tak ada pendapatan petani -mungkin dalam jangka waktu yang panjang mengingat jenis tanaman ini butuh belasan tahun untuk tumbuh dan berproduksi. Besok lusa, kehidupan petani makin terpuruk, keluarga terancam dan bisa jadi kiriman uang untuk anak-anak mereka yang sedang berkuliah akan terhenti.
Di pasaran Ternate, cengkih dihargai sekitar Rp116 ribu per kg. Untuk biji pala harganya nyaris stabil Rp80 – 95 ribu per kg. Sedangkan bunga atau fuli pala lebih mahal saat dijual. Sekitar Rp250 ribu per kg. Komoditas yang paling murah adalah kopra – dibeli dengan harga Rp16 ribu per kilonya. Jika ditotal secara tidak langsung, kerugian bisa mencapai miliaran rupiah. Dampak langsung dari kebakaran akan terasa di masa depan saat sumber-sumber penghasilan telah raib.
Secara makro, kontribusi sektor perkebunan memang hanya 4 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara – hampir setengah dari total sumbangan sektor pertanian sebesar 9,5 persen. Tapi total nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi di sektor ini adalah penopang penting ekonomi warga di desa dan daerah kepulauan. Uang yang didapat juga beredar secara domestik dan digunakan untuk kebutuhan ekonomi warga lokal.
Jumlah kontribusi sektor pertanian memang sangat kecil terhadap PDRB Maluku Utara yang dalam triwulan I tahun 2026 yang tercatat sebesar Rp37,062 miliar -jika dibandingkan dengan dominasi PDRB Maluku Utara di mana sekitar 90 persen disumbangkan oleh sektor pertambangan dan industri pengolahan nikel. Di sini, uang triliunan rupiah berputar keluar Maluku Utara. Tak ada efek langsung terhadap ekonomi warga lokal.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga melahirkan masalah lingkungan yang terbilang serius di Kota Ternate. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru Deru terbakar sejak Sabtu siang dua pekan lalu. Api dengan cepat membesar karena lokasi seluas lebih dari 30 hektare ini berisi sampah dan limbah lain yang mudah terbakar. Udara menjadi tercemar. Operasi pengangkutan sampah yang rata-rata per hari mencapai 100 ton sebagaimana jumlah produksi sampah warga Ternate dengan tujuan pembuangan akhir di lokasi yang sedang terbakar menjadi terganggu. Belum lagi dampak kesehatan, ekonomi dan sosial. Ternate menerapkan kondisi darurat sama seperti Taliabu.
Kebakaran hutan dan lahan yang demikian parah juga meninggalkan catatan serius tentang seberapa besar mitigasi struktural dan non struktural yang telah dilakukan selama ini. Padahal dalam peta kebencanaan Maluku Utara, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan telah ditandai sebagai salah satu potensi bencana. BMKG sendiri sejak lima bulan lalu telah mengeluarkan notice tentang ancaman El Nino di daerah ini. Sebuah fenomena yang diperkirakan sebagai salah satu yang terkuat sepanjang sejarah peradaban manusia.
Fenomena alam ini ditandai dengan kenaikan suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur sehingga menjadi lebih hangat. Akibatnya udara menjadi lebih kering karena awan hujan bergeser menjauh. Terjadilah kemarau panjang terutama di Indonesia bagian timur. Sementara di bagian bumi yang lain, terjadi hujan dalam intensitas yang tinggi terutama di Amerika Latin.
Sepanjang yang saya baca informasinya melalui berbagai platform media sosial, kekeringan masif yang terjadi sejak lima bulan lalu tidak diimbangi dengan mitigasi struktural yang ketat. Misalnya patroli rutin atau pembentukan pos siaga di beberapa titik yang dianggap rawan terbakar. Kekeringan memang masuk kategori bencana alam yang dipicu oleh perubahan cuaca ekstrem, tetapi kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh ulah manusia. Sesuatu yang bisa dicegah. Dan itu tak bisa dilawan hanya dengan ”imbauan” semata.
Kita berulang kali alpa jika siklus penanganan bencana memberi ruang yang sangat besar untuk melakukan mitigasi pada “masa sebelum” terjadinya bencana. Pada kondisi aman ini, tak pernah secara serius dilakukan upaya mitigasi untuk membangun kesadaran, kapasitas dan ketahanan warga. Kita lebih sering panik “saat bencana” terjadi dan kemudian berorientasi pada upaya pemulihan “setelah terjadinya bencana” dengan mengkalkulasi kerugian dalam jumlah yang besar.
Seturut ramalan BMKG, El Nino mungkin baru akan berakhir pada awal tahun depan. Kemarau bisa saja lebih panjang. Hujan bisa juga datang lebih cepat. Tapi hujan yang datang nanti tak lagi mampu memberi kehidupan pada batang-batang pohon cengkih, pala dan kelapa yang sudah hangus menghitam. Butuh belasan tahun agar tunas baru tumbuh menjadi pohon. Dan sejauh itu, kehidupan petani di Maluku Utara akan selamanya terpuruk. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.