Oleh: Rinto Taib
Kepala Museum AR Wallace & Museum Rempah Kota Ternate
_______
PASCA-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung pada Agustus lalu—yang terbilang sukses, baik dari segi kualitas program acara maupun pelibatan publik—masyarakat mulai bertanya: what is next? Apa yang mesti dilakukan setelah rangkaian acara yang spektakuler tersebut?
Jawabannya, tentu banyak cara yang dapat dilakukan oleh semua pihak sebagai wujud keberlanjutan dan bentuk tanggung jawab bersama untuk terus bergerak dinamis menjawab tantangan masa depan.
Sebagai pengelola Museum Alfred Russel Wallace dan Museum Rempah Kota Ternate, sebuah terobosan sederhana yang dapat kami inisiasi untuk memulainya adalah mengonsep Museum Cafe. Konsep ini berorientasi pada penguatan city branding Ternate sebagai Kota Rempah. Hal ini juga menjadi upaya penguatan kelembagaan lokal dan sumber daya dalam mengembangkan serta melestarikan warisan sejarah dan nilai budaya. Dampaknya, generasi masa depan dapat mengenal lebih jauh sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pengelolaan sumber daya alam, hingga aspek nilai kemanusiaan demi terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang menyejahterakan dan berkeadilan.
Konsep Museum Cafe tersebut dirintis sejak Juni 2026 melalui spirit kolaboratif bersama pelaku UMKM berkonsep street cafe. Kegiatan ini menempati area pelataran Museum Rempah Kota Ternate dan kini berkembang ke sisi belakang Museum Alfred Russel Wallace di kawasan Cagar Budaya Benteng Oranje, yang sejak awal revitalisasi memang diperuntukkan bagi aktivitas UMKM.
Pemanfaatan kawasan ini sebagai zona pengembangan UMKM telah berlangsung sejak masa pemerintahan Wali Kota Ternate, Dr. H. Burhan Abdurahman. Hal itu ditandai dengan dukungan gelaran event Expo Produk Ekonomi Kreatif Lokal oleh Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Maluku Utara, yang dilanjutkan dengan penandatanganan simbolis oleh Wali Kota untuk menjadikan kawasan ini sebagai Pasar Seni, Karya, dan Budaya pada 28 Oktober 2018 lalu.
Pada masa kepemimpinan Wali Kota Ternate, Dr. M. Tauhid Soleman, pengelolaan dan pemanfaatan kawasan tersebut dipertegas melalui regulasi Keputusan Wali Kota Ternate Nomor 03/II,21/KT/2021 tentang Pemanfaatan Kawasan Benteng Oranje untuk Komunitas sebagai Pusat Kreativitas. Langkah ini merupakan implementasi program prioritas Ternate Andalan yang tertuang dalam Visi dan Misi Kota Ternate Tahun 2021–2024, yakni menjadikan Kota Ternate sebagai kota yang mandiri dan berkeadilan melalui pengembangan iklim usaha yang kondusif serta peningkatan daya saing industri kreatif, UMKM, dan IKM.
Berbeda dari konsep kafe pada umumnya, meskipun mengusung brand Museum Cafe, tempat ini mengandalkan kolaborasi dan hubungan kemitraan berbasis program bersama. Tujuannya adalah menghidupkan kawasan bersejarah dan warisan budaya agar dapat diperkenalkan secara lebih dekat kepada para pengunjung yang umumnya didominasi generasi muda milenial, sekaligus wujud penguatan city branding Ternate sebagai Kota Rempah.
Meskipun demikian, sejauh ini konsep tersebut belum mendapatkan hasil yang diharapkan dari sisi peningkatan jumlah kunjungan ke museum, yang secara eksperimental dibuka pada beberapa malam. Hal ini disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk tingkat ketertarikan pengunjung terhadap keberadaan museum itu sendiri.
Keterbatasan koleksi dan sumber daya menjadi latar belakang utamanya. Hal ini akan menjadi catatan penting bagi pengelola untuk terus berusaha meningkatkan kualitas museum dari segi informasi dan edukasi berbasis koleksi maupun variabel teknis lainnya sebagai magnet pengunjung. Penguatan sumber daya dan layanan juga mencakup ketersediaan tenaga kompetensi teknis museum yang memadai, seperti tenaga konservasi koleksi (konservator), edukator, dan lain sebagainya yang diakui masih minim.
Lantaran mengandalkan konsep street cafe, secara visual keberadaan kafe ini tampak sama dengan street cafe di area terbuka lainnya di Kota Ternate. Yang membedakan hanyalah keberadaan museum dengan program edukatif yang melekat pada kafe di kawasan cagar budaya Benteng Oranje ini.
Tanpa dekorasi khusus desainer, kafe ini mengandalkan fasilitas tenan serta kursi dan meja yang memadai bagi para tamu yang mampir menikmati suguhan minuman di tengah pemandangan warisan sejarah bangsa. Meski tanpa lapisan ubin, pintu kaca, ataupun pendingin ruangan (AC), panorama jejak bangunan kolonial seolah menampilkan aura dan daya tarik tersendiri bagi berbagai kalangan—mulai dari akademisi, politisi, aktivis, hingga jurnalis dengan ragam agendanya masing-masing.
Hal itu terlihat pada gelaran dialog yang diinisiasi oleh Forum Dosen Maluku Utara, Museum Alfred Russel Wallace, dan Street Caffe Ternate, serta diliput oleh Gamalama TV pada Sabtu (10/10/2026) malam. Antusiasme pengunjung tampak sejak dialog berlangsung hingga larut malam. Mereka menyaksikan pemaparan para akademisi yang “turun gunung” membedah berbagai isu aktual, mulai dari isu kebudayaan dan kemanusiaan hingga mitigasi kebencanaan.
Kehadiran komunitas street cafe Kota Ternate setelah grand opening beberapa waktu lalu di kawasan ini—yang dihadiri para pelaku UMKM pengaktivasi kawasan serta Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat mewakili Wali Kota Ternate—mendapat respons baik dari berbagai kalangan. Apresiasi datang sebagai wujud sinergisitas dan kolaborasi ekosistem yang didukung Pemerintah Kota Ternate, terutama dalam pemanfaatan cagar budaya yang berdampak pada aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana amanat konstitusi bangsa.
Keberadaan kafe di kawasan ini telah menjadi magnet tersendiri sebagai tempat nongkrong (hangout) baru bagi muda-mudi di Ternate yang humble dan affordable. Dengan beragam menu yang disajikan, Museum Cafe tidak sekadar menjadi tempat nongkrong semata, tetapi juga sarana belajar yang menarik bagi para pengunjung, terlebih pascarevitalisasi Museum Alfred Russel Wallace nantinya oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Dengan area yang luas dan tanpa batasan waktu berkunjung, fenomena ini membawa dampak positif bagi warga Kota Ternate. Signature menu yang disuguhkan semakin membuat pengunjung betah. Gaya arsitektur bangunan kolonial di sekitarnya seolah membawa pengunjung ke periode ratusan tahun silam dengan segala narasi kejayaannya. Realitas ini mengajak pengunjung mengeksplorasi sejumlah koleksi peninggalan historis dan arkeologis sembari menikmati cita rasa makanan dan minuman tradisional, seperti air guraka (air jahe) dan pisang goreng.
Keragaman cita rasa tersebut mempertegas branding “eat & read” bagi siapa saja yang menyempatkan waktu datang ke tempat ini. So, siapa yang akan Anda ajak ke sini? Sepupu? Bisa! Ayo berkunjung dan menikmati keseruan di pusat perdagangan rempah dunia, Fort Oranje Ternate. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.