Tandaseru — Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk memastikan kepulangan Kamaludin Bunga alias Foni (41 tahun), nelayan asal Desa Sambiki yang sempat hilang saat melaut.

Nelayan yang dinyatakan hilang selama 21 hari sejak 16 September 2026 saat memancing ikan tuna di rumpon tersebut berhasil ditemukan dan diselamatkan kapal berbendera Panama, Navios Pollux, pada jarak 350 mil.

Pihak kapal memberikan pertolongan pertama berupa pakaian, makanan, dan minuman kepada Kamaludin. Saat ini, nelayan tersebut masih berada di atas kapal Navios Pollux yang sedang dalam pelayaran menuju Pelabuhan Shanghai, Tiongkok.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulau Morotai, Alhadar Djaguna, menegaskan Pemkab Morotai di bawah kepemimpinan Bupati Rusli Sibua terus berupaya melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah otoritas kantor penghubung KBRI.

“Pemerintah daerah selalu memantau dan mengawal Kamaluddin Bunga warga desa Sambiki yang hilang saat melaut dan diselamatkan kapal Navios Pollux dengan rute pelayaran ke propinsi Changhai,” kata Alhadar, Sabtu (10/10/2026).

Alhadar menjelaskan, berdasarkan hasil konfirmasi dengan KBRI di Beijing maupun KJRI di Shanghai, kapal Navios Pollux diperkirakan tiba di pelabuhan tujuan pertengahan Oktober.

“Saat ini kapal Navios Pollux rencana akan tiba di pelabuhan Changhai tanggal 13 atau 14 Oktober 2026,” lanjutnya.

Ia menambahkan, KJRI telah menjalin komunikasi langsung dengan otoritas kapal maupun nelayan tersebut.

“Pihak KJRI di Changhai juga sudah berkomunikasi dengan pihak kapal Navios Pollux maupun nelayan tersebut yang saat ini masih di atas kapal dan yang bersangkutan dalam kondisi sehat,” tandas Alhadar.

Pemkab Morotai memastikan akan memantau proses kepulangan Kamaludin secara menyeluruh hingga sampai kembali ke kampung halamannya di Desa Sambiki.

Atas kejadian ini, BPBD Pulau Morotai mengimbau seluruh masyarakat nelayan selalu waspada, melengkapi diri dengan alat navigasi serta perlengkapan keselamatan saat melaut di sekitar rumpon, terutama di tengah cuaca ekstrem. Jika kondisi laut tidak memungkinkan, nelayan diimbau tidak melaut terlebih dahulu.

Sebelumnya, pihak keluarga mengira Kamarudin diselamatkan kapal berbendera China. Padahal, kapal tersebut berbendera Panama dan berlayar ke China.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter