Tandaseru — Malam yang teduh di KM Bunda Maria tiba-tiba berubah gaduh, Kamis (13/8/2026) malam sekira pukul 23.00 WIT. Kapal yang baru sejam lebih berlayar dari pelabuhan Bastiong, Kota Ternate, Maluku Utara, menuju pelabuhan Babang, Halmahera Selatan, itu tanpa aba-aba menabrak pesisir pantai di sekitar Dusun Paceda, Desa Akedotilou, Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan.
Laju kapal bertubrukan dengan tumpukan pasir menciptakan daya tabrak yang mampu membangunkan ratusan penumpang. Sebagian di antaranya sudah lelap.
“Kapal tabrak rompong! Kapal tabrak rompong!” teriakan menggema ke seluruh dek.
Satu per satu penumpang melompat ke arah lemari jaket pelampung. Saling oper alat keselamatan itu segera dilakukan. Sebagian penumpang teriak, sebagian lagi menangis histeris. Awak media tandaseru.com yang kebetulan berada di kapal termasuk golongan yang masih kebingungan mencerna situasi.
Begitu penumpang menyerbu haluan kapal, barulah jelas terlihat. Kapal ternyata tak menabrak rumpon. Sebaliknya, kapal menabrak pulau. Ya, yang ditabrak adalah bagian dari pulau Halmahera, tepatnya dusun Paceda. Mesin kapal langsung dimatikan.
“Kaget sekali, saya kira kapal nae rompong,” ujar Wahib, salah satu penumpang.
Kondisi laut yang surut membuat kapal mustahil melanjutkan perjalanan. Haluan kapal tertanam mantap di pasir, tak jauh dari sejumlah pohon mangrove.
Tak lama setelahnya, warga Dusun Paceda berhamburan ke pesisir pantai, menonton kapal yang karam itu. Saking dekatnya posisi kapal dengan warga Paceda, kami bisa ngobrol dengan sedikit teriak di antara deburan ombak. Kami sibuk merekam mereka, mereka sibuk merekam kami.
Pengelola kapal memberikan pengumuman kapal dalam kondisi baik-baik saja, meminta penumpang tak panik, dan menyatakan harus menunggu air pasang untuk mengapung badan kapal paripurna.
Penumpang kapal tak punya pilihan lain selain menunggu. Sejam dua jam berlalu, belum ada tanda-tanda air pasang sesuai harapan. Pun belum ada kabar penumpang akan dievakuasi ke kapal lain, padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIT.
“Mau tunggu sampai kapan ini?” tukas Wahib lirih.
Sementara di pesisir pantai, warga Paceda kembali teriak:
“Mari turun tong bakar ikan dulu.”




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.