“Karena itu ketika kita bicara mengenai Melanesia, tidak terfokus pada perbedaan-perbedaan fisik. Sebenarnya banyak sekali implikasi lain, isu lain yang semestinya kita diskusikan dan kita bicarakan sekaligus kita sosialisasikan. Nah, itu menjadi penting sehingga kajian kita itu berbasis dokumen dan data-data bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Ia menambahkan, ada hal penting yang perlu didiskusikan dan penting juga bagi Kementerian Luar Negeri salah satu perpanjangan informasi dari daerah Provinsi Maluku Utara.
“Karena itu, alhamdulilah hari ini bisa tanda tangan MoU, kita akan mengkaji banyak hal dan support dari berbagai pihak terutama teman-teman dari perguruan lain,” terangnya.
Menurut Rektor, pusat studi sudah membicarakan dengan tim dari Kementerian Luar Negeri dan akan mendesain forum untuk menghadirkan perguruan tinggi di kawasan Melanesia.
“NTT, Papua, Unpati bahkan sebenarnya beberapa negara yang menjadi kawasan atau secara geografis daerah Melanesia yang akan datang ke sini. Kita menyediakan forum ini agar bisa menjadi kebijakan penting bagi Kementerian Luar Negeri dan menyampaikan informasi-informasi di daerah perbatasan. Ini penting dan kita harapkan bantuan ke perguruan tinggi di kawasan perbatasan itu menjadi faktor yang harus dibicarakan,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.