Sekilas Info

Diduga Gunakan Atribut Mendiang Bupati Haltim, Komisioner Bawaslu Bakal Dipanggil

Unggahan oknum Komisioner Bawaslu Haltim yang dipersoalkan. (Istimewa)

Tandaseru -- Badan Pengawas Pemilu Provinsi Maluku Utara bakal memanggil salah satu komisioner Bawaslu Kabupaten Halmahera Timur. Pasalnya, oknum komisioner tersebut mengunggah foto dirinya mengenakan atribut yang diduga bergambar mendiang Bupati Haltim Muh Din Ma’bud. Muh Din merupakan calon bupati petahana sebelum tutup usia, Jumat (4/9).

Ketua Bawaslu Provinsi Maluku Utara Muksin Amrin menyatakan, pihaknya bakal mengambil tindakan terkait penggunaan atribut tersebut yang dilakukan komisioner bernama Kartini Abdullah tersebut. Di mana Kartini telah mengunggah foto dirinya di akun Facebook-nya mengenakan kaos yang diduga bergambar wajah Muh Din.

“Akan kami kaji, akan dipanggil yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasi,” tutur Muksin, Minggu (13/9).

Muksin bilang, almarhum Muh Din merupakan salah satu kandidat Pilkada. Namun karena meninggal dunia ia digantikan calon lain.

"Namun simbol almarhum masih dibawa. Oleh karena itu, namanya penyelenggara pemilu, apalagi sekelas Bawaslu, tidak boleh memakai simbol kayak gitu," tegasnya.

Dia menambahkan, jika seorang komisioner Bawaslu menggunakan atribut seperti ini maka orang akan berpikir yang bersangkutan tidak independen. Meski sudah almarhum namun simbol dukungan masih melekat dan akan dibawa-bawa. Diketahui, sejumlah baliho milik pasangan Ubaid Yakub (pengganti Muh Din, red)-Anjas Taher juga masih memasang atribut wajah Muh Din.

“Karena tidak lepas dari bagian pengganti calon, kita akan pelajari soal upload status kapan dan baju dipakai kapan, untuk kita tindak. Jika hal ini benar adanya maka Bawasku akan bertindak untuk menegakkan kode etik," tandas Muksin.

Sementara itu, Kartini yang dikonfirmasi tandaseru.com hingga berita ini ditayangkan belum memberikan tanggapan. Sedangkan unggahan yang dipersoalkan Bawaslu Malut tersebut tampak sudah dihapus dari linimasanya.

Penulis: Yunita Kaunar
Editor: Sahril Abdullah