Oleh: Suhardy Hamid Rajji
- Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Malut
- Relawan Rumah Baca Belo-Belo Haltim
“SAYA tidak khawatir dengan Buli. Istri dan anak-anak saya akan dijaga oleh orang Buli.”
Yakin Polisi Hamid berangkat di garis terdepan pengamanan, mengarungi jalan jihad yang diyakini kedua belah pihak yang tengah dipenuhi amarah.
Menulis tentang Buli, saya terinspirasi dan beri judul tulisan ini dengan mengutip judul sampul Novelis legendaris sang Maestro Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy; Bumi Cinta.
Di tahun 2000 setiap kampung di Maba juga termakan isu sesat akibat ulah provokator yang bisa saya sebut (maaf) tidak beradab itu.
Para pemuda mengasah parang, merakit senjata, meruncingkan bambu, membuat panah wayar dan sejenisnya dalam rangka menyambut perang yang sangat tidak diinginkan, warga di Buli pun demikian. Karena isu yang semakin liar, keluarga bersepakat untuk mengungsi ke kampung yang kami anggap lebih aman.
Sementara itu Polisi Hamid tetap di Buli, bertugas untuk tetap menjaga kamtibmas. Akhirnya apa yang ditakutkan harus terjadi, warga yang sudah terlanjur percaya dengan provokasi mencoba bertindak anarkis. Beruntung, suasana kembali kondusif setelah aparat turun tangan menindaki.
Para tetua dikumpulkan, bacarita dari hati ke hati. Semua dengan sadar dan lantang bersuara tidak akan ada darah yang tumpah di tanah Iyantoa ini. Ketika azan berkumandang tiba, saudara Kristen menjaga masjid. Begitupun sebaliknya, ketika lonceng gereja berbunyi, telah ada saudara muslim di sana menjaga mereka yang sedang khidmat dalam ibadahnya.
Jihadis yang datang diusir untuk tetap menjaga apa yang memang menjadi kewajiban bersama. Senjata yang telah siap pakai dimusnahkan. Provokator busuk itu gagal memainkan perannya di Bumi Cinta ini.
Cerita di atas masih terngiang saja. Penggalan memori kenapa Buli tidak ikut tergoncang konflik horizontal yang sungguh merugikan itu. Saya menceritakan ini sebagai bentuk ekspresi kesyukuran untuk bisa merasakan kedamaian dan ketenangan hingga sekarang.
Apa kita harus menjadi seperti Ambon ataupun Tobelo dulu untuk merasakan nikmatnya kedamaian ini? Orang Ambon menolak mengulanginya.
Mari menjaga ini, basudara, melanjutkan tradisi saling menghargai sesama manusia. Seruput dulu kopinya. Satu nasehat manusia Agung Imam Ali karamallahu wajhah cukup menjadi renungan bersama.
“Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan” [Ali bin Abi Thalib]
Jika terdapat penulisan sejarah yang salah, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Salam Damai.(*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.