Tandaseru — Dua orang anak di Provinsi Maluku Utara tercatat terpapar paham radikal-terorisme. Temuan ini menjadi peringatan keras akan maraknya penyebaran ideologi kekerasan dan ekstremisme yang kini makin gencar menyasar kelompok usia muda, khususnya melalui ruang digital.

Data tersebut diungkapkan Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara Densus 88 Antiteror Polri saat menggelar sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), serta Nihilistic Violent Extremism (NVE) di SMP Negeri 2 Kota Ternate, Selasa (20/10/2026).

Bintara Unit (Banit) Pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri, Briptu Fazri, mengungkapkan secara nasional terdapat 112 anak di 26 wilayah yang terpapar paham radikal-terorisme dengan rentang usia 10 hingga 18 tahun.

“Jawa Barat mencatat jumlah tertinggi dengan 18 anak, disusul Jawa Tengah sebanyak 11 anak, sementara untuk wilayah Maluku Utara sendiri tercatat ada dua anak yang terpapar,” ujar Fazri di hadapan 50 siswa perwakilan ketua kelas dan pengurus OSIS SMPN 2 Kota Ternate.

Fazri menjelaskan, proses paparan radikalisme pada anak berlangsung secara bertahap. Salurannya bisa melalui lingkungan keluarga, pergaulan sosial, hingga propaganda di media sosial dan gim daring yang memvisualisasikan kekerasan sebagai bentuk perjuangan.

Selain radikalisme-terorisme, Densus 88 juga membeberkan data 70 anak terpapar kekerasan tipe TCC (True Crime Community) di 18 provinsi, di mana 67 anak di antaranya telah mendapatkan intervensi. Kasus tertinggi berada di DKI Jakarta dengan 15 anak dan Jawa Barat dengan 12 anak, sedangkan Maluku Utara mencatatkan dua kasus.

“Berbeda dari radikalisasi terorisme, kekerasan tipe TCC ini lebih didorong oleh faktor psikososial seperti perundungan, KRT, keterasingan sosial, serta paparan intensif terhadap konten kekerasan di internet,” jelas Fazri.

Melalui kegiatan edukasi ini, Densus 88 mengimbau para siswa lebih bijak menggunakan media sosial, berpikir kritis terhadap informasi di dunia maya, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, serta berani melaporkan konten atau aktivitas mencurigakan kepada orang dewasa yang tepercaya.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter