Tandaseru — Pagi itu, Selasa (16/10/2026) sekira pukul 03.00 WIT, dingin dini hari masih menyelimuti daratan Pulau Morotai, Maluku Utara. Sarfa Mangoda (39 tahun) sibuk menyiapkan bekal sederhana untuk suaminya: satu rantang nasi, dua butir telur goreng, sebuah cerek kecil berisi air minum, serta satu botol besar air mineral.
Bekal itu terasa cukup untuk menemani Kamaludin Bunga alias Foni (41 tahun), seorang nelayan tangguh asal Morotai, bertaruh nasib memancing ikan tuna di rumpon.
Namun, tak ada yang menyangka, perpisahan hangat di ambang pintu rumah subuh itu menjadi awal dari ujian hidup dan mati selama 21 hari di belantara Samudera Pasifik.
Ditelan Kabut di Antara Gelombang
Sore harinya, sekitar pukul 16.00 WIT, Foni telah menyelesaikan aktivitasnya di rumpon. Tangkapannya melimpah—11 ekor ikan tuna berukuran besar, seberat 30 hingga 40 kilogram, tersusun rapi di perahunya. Setengah jam berlalu dalam perjalanan pulang menuju daratan, nasib berkehendak lain. Saat berada di perairan depan Pulau Tabailenge, Kecamatan Morotai Utara—sekitar 5 hingga 10 mil dari daratan—perubahan cuaca ekstrem terjadi mendadak.
Ombak bergulung keras dan kabut tebal seketika menutupi pandangan mata. Daratan yang tadinya tampak samar, mendadak hilang ditelan kegelapan.
“Waktu itu mesin tidak mati, tapi begitu saya mendekati daratan tiba-tiba cuaca kabut. Saya sudah tidak lihat daratan lagi. Saya kase mati mesin sambil tunggu-tunggu malam, berharap bisa lihat cahaya lampu. Tapi begitu jam 8 malam cahaya lampu tidak kelihatan satu pun sama sekali, dan saya kase mati mesin sementara,” kenang Foni saat dihubungi tandaseru.com, Minggu (18/10/2026).
Harapan untuk menemukan titik terang lenyap diiringi deru mesin fiber berkekuatan dua unit yang terus dipaksa berjalan pelan. Foni mencoba menyisir laut mencari tanda-tanda kehidupan hingga pukul 02.00 WIT.
Namun haluan perahunya justru makin terseret menjauh ke lautan bebas. BBM yang ia bawa akhirnya ludes tak tersisa. Dalam kegelapan yang pekat, Foni sadar ia telah hanyut sepenuhnya.
Pengorbanan dan Layar Darurat di Laut Lepas
Memasuki hari ketiga mengapung, secercah harapan sempat menyapa. Di tengah sunyinya malam, Foni mendengar deru mesin perahu dari jarak sekitar 25 mil. Dugaannya membuncah—itu pasti rekan-rekan nelayan atau tim SAR yang sedang mencarinya.
Dengan sisa tenaga, ia menyalakan senter, memberi kode, dan berteriak sekuat jiwa. Namun, jeritan itu tersapu angin laut. Tak ada yang mendengar. Tak ada yang berpaling.
Melihat kondisi perahunya yang kian berat dan membahayakan keselamatan akibat terjangan ombak Pasifik, Foni harus mengambil keputusan pahit. Hasil jerat keringatnya membawa pulang rezeki untuk keluarga harus ia korbankan.
“Mungkin mereka tidak lihat saya, karena saya sudah hanyut jauh. Ikan 11 ekor dari hasil tangkapan saya untuk keluarga sudah menunggu di daratan, terpaksa saya buang dengan batu rumpon untuk mengurangi berat. Karena ikan tuna yang saya dapat dari ukuran 30 sampai 40 kilo terlalu berat menambah beban berat perahu,” ungkap Foni dengan nada lirih.
Di tengah laut bebas, naluri bertahannya diuji. Tanpa bantuan navigasi dan baterai ponsel yang telah mati total usai gagal mendapatkan sinyal, Foni memutar otak. Ia memanfaatkan sebatang tongkat kayu dan selembar terpal untuk merakit layar darurat. Layar rakitan itu bukan sekadar pendorong perahu, melainkan benteng pertahanan agar hempasan ombak besar tidak memecah dan membanjiri perahunya.
“Saya kase berdiri layar untuk kase bajalang perahu supaya ombak tidak picah dalam perahu. Ada pelampung dan terus saya pakai. Ada HP cuma kehabisan baterai. Sempat hubungi di keluarga tapi tidak ada jaringan, dan saat saya hanyut tidak ada sama sekali dapat nelayan lain. Terus perahu saya dibawa arus. Kalau saya punya feeling sudah berada di luar laut negara Indonesia,” tuturnya.
10 Hari Tanpa Tidur, Kelaparan, dan Halusinasi
Hari demi hari berlalu dalam siksaan cuaca samudra yang ganas. Sejak hari pertama hingga hari kesepuluh, Foni mengaku hampir tidak pernah tidur nyenyak. Ia hanya berani memejamkan mata sesaat, lalu terjaga kembali demi memastikan jika ada kapal yang lewat, ia tidak melewatkan kesempatan untuk diselamatkan.
Pada hari kesepuluh, dua unit kapal besar sempat melintas di kejauhan. Foni berteriak, melambaikan tangan, dan melakukan segala upaya. Namun, kedua kapal itu melaju tanpa henti. Bekal nasi satu rantang dan telur goreng buatan istrinya sudah lama habis sejak hari pertama. Air minumnya pun tak tersisa.
“Entah kapal itu dong tara dengar atau tara liat, saya pasrah saja menangis menatap laut, ingat anak istri, orang tua dan keluarga. Bekal makanan saat pergi ke rumpon hanya cukup untuk satu hari saja, berangkat dan pulang memancing tuna,” ujar Foni mengingat penderitaannya.
Di tengah rasa lapar dan dahaga yang menusuk, Foni terpaksa meringkuk di dalam bak perahu berukuran 1 meter—seukuran badannya—untuk melindungi kulitnya dari sengatan matahari siang dan dinginnya angin malam.
Ketika ditanya mengenai pengalaman mistis selama 21 hari hanyut menuju perairan Filipina, Foni mengaku tidak mengalami hal gaib. Namun, teror alam nyata terus mengintipnya.
“Di pertengahan laut, saya pasrah saja dan hanya berdoa kepada Sang Kuasa. Tapi tidak ada gangguan makhluk laut, hanya ikan paus besar terus sempat ada ikan yang tabrak perahu saya. Entah apa yang tabrak, saya tidak tahu, tapi yang pasti ada yang tabrak makhluk besar dari bawah perahu saat malam,” ungkapnya.
Untuk bertahan hidup tanpa makanan dan minuman, Foni menggunakan metode ekstrem guna menjaga suhu tubuh dan stamina.
“Jadi kalau rasa suak, lapar dan haus saat siang itu saya kase masuk air di dalam bak perahu, saya kase masuk badan setengah untuk tahan stamina agar jangan suak. Setelah itu kalau rasa dingin baru saya keluar dari bak itu,” tuturnya.
Keajaiban di Hari Ke-21: Navios Pollux dan Sirene Pertolongan
Hari demi hari berganti hingga genap 21 hari Foni terombang-ambing. Kondisi fisiknya berada di titik terendah. Kulit tubuh, kaki, dan pergelangan tangannya mulai terkelupas akibat dehidrasi parah dan sengatan panas matahari Pasifik.

Berdasarkan perhitungannya, perahunya telah terseret hingga 300 mil—wilayah yang ia perkirakan sudah sangat jauh mendekati perairan internasional.
“Jadi kalau kapal Panama itu tara dapa saya, ya harapan hidup sudah tidak ada sama sekali dan saya pasrah. Saya sudah hitung tubuh saya masih bisa bertahan empat hari atau satu minggu lagi, karena kulit saya sebagian terkelupas karena panas matahari dan dehidrasi, kaki dan pergelangan tangan saya terkelupas. Jadi satu minggu saya bisa bertahan, kalau lewat dari itu mungkin itu adalah akhir dari hidup saya di laut,” aku Foni.
Di saat batas kemampuan fisiknya tersisa hitungan hari, takdir Tuhan bekerja. Sebuah kapal kargo berbendera Panama, Navios Pollux, melintas hanya berjarak sekitar 50 meter dari perahunya. Saat itu Foni sedang berbaring di dalam bak perahu menghindari terik matahari.
Mendengar gemuruh mesin kapal yang begitu besar, Foni bergegas bangun. Dengan sisa tenaga, ia meraih Inflatable Life Jacket (rompi renang tiup) berwarna oranye, meniup peluit, dan melambaikan rompi tersebut ke udara.
Awalnya, kapal itu terus melaju tanpa berputar balik. Rasa depresi dan pasrah kembali melingkupi dadanya. Foni kembali masuk ke dalam bak perahu dengan pasrah. Namun lima menit kemudian, gema suara klakson kapal Navios Pollux memecah keheningan samudra.
“Alhamdulillah dong tolong saya. Saya berupaya berteriak sebanyak 10 kali, terus kapal itu perlahan sandar perahu saya. Dorang lempar tali, saya ikat, terus dong lempar tangga berupa jala dan saya naik dorang yang tarik,” kisahnya penuh haru.
Perpisahan dengan ‘Teman Juang’ dan Jalan Pulang
Saat berhasil menapakkan kaki di atas geladak kapal Navios Pollux, air mata Foni menetes deras. Bukan hanya karena bersyukur selamat, tetapi juga karena harus merelakan perahu dan dua mesin fibernya—penyambung hidup keluarganya selama ini—dilepaskan dan ditinggalkan di tengah samudra karena kapal tidak dapat membawanya hingga ke Cina.
“Perahu dengan dua mesin saya, sebagai mata pencarian, saya kase tinggal hanya menangis tapi ya gimana lagi,” tambahnya.
Di atas kapal Navios Pollux, Foni yang lemas langsung mendapatkan pertolongan pertama: diselimuti, diberi air minum, bubur hangat, pakaian ganti, serta obat-obatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya masih normal.

Kapal berawak multinasional (Filipina, Thailand, Singapura) itu menggunakan bahasa Inggris dalam berinteraksi. Beruntung, ada seorang koki kapal yang memiliki istri Warga Negara Indonesia (WNI). Merekalah yang menghubungkan Foni dengan Kapten Kapal, Katonin Serge, hingga akhirnya dilaporkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cina.
Kapal berlayar selama lima hari menuju Kota Caofeidian (Cangfe), Cina. Setibanya di sana, Foni dijemput pihak Kedubes Indonesia, diuruskan visa kepulangan selama dua hari, lalu diterbangkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Pada Minggu, 18 Oktober 2026, Foni akhirnya tiba kembali di Kota Ternate dan siap bertolak menuju kampung halamannya di Morotai menggunakan Kapal Holly Mary.
Pesan dari Lautan Pasifik
Perjalanan 21 hari menembus maut memberikan pelajaran mendalam bagi Foni. Mengingat rekan-rekan sesama nelayan yang bertaruh nyawa di laut demi menafkahi keluarga, mata Foni kembali berkaca-kaca.
“Untuk rekan-rekan nelayan, pengalaman dari saya, saat keluar melaut, jangan berpikir karena perahu baru dan mesin dan BBM itu banyak, jangan pandang enteng, tetap ikhtiar sebelum berangkat supaya kita dilindungi oleh Allah supaya kita selamat pergi dan pulang melaut di rumpon,” pesan Foni.
Kini, Foni telah kembali ke pelukan istri, anak, dan keluarganya. Sebuah mukjizat nyata dari keteguhan hati, doa, dan uluran tangan manusia di tengah lautan luas.
“Perjalanan 21 hari, kalau memang ini adalah takdir Allah saya ikhlas dan saya hanya berdoa kepada orang tua dan anak dan istri saya termasuk keluarga saya, saya tidak ada niat untuk hilang di laut tapi karena jalannya seperti itu saya minta maaf saya telah membebani mereka,” ucapnya menutup cerita.
“Satu harapan saya di atas perahu, kalau memang saya selamat semua doa dan kerja keras mereka teman-teman nelayan dan Tim SAR yang sudah berupaya mencari saya, saya ucapkan terima kasih atas kerja keras untuk melakukan pencarian. Alhamdulillah saya selamat dan bisa bertemu dengan keluarga kembali.”




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.