Tandaseru — 10 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Khairun (Unkhair) resmi dilantik Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni Unkhair, Hi. Jamal Hi. Arsyad, SH., MH, di Aula Nuku, Gedung Rektorat, Kampus II Unkhair, Ternate, Jumat (21/8/2026).

Pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah dan janji jabatan, penandatanganan berita acara, serta penyerahan tongkat estafet kepengurusan secara simbolis. Para pengurus baru berkomitmen menjalankan amanah organisasi untuk mendorong kreativitas, riset, prestasi, dan pengembangan potensi mahasiswa.

Jamal menegaskan, pelantikan UKM bukan sekadar seremoni. Masa kepengurusan satu tahun harus dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi dan manfaat nyata bagi Unkhair.

“Pelantikan ini bukan sekadar seremonial. Masa kepengurusan yang singkat harus mampu memberikan manfaat dan semangat luar biasa bagi universitas,” ujarnya.

Jamal mendorong pengurus UKM memperkuat kolaborasi dan mengoptimalkan potensi mahasiswa untuk mendukung prestasi kemahasiswaan, indikator kinerja utama (IKU), dan akreditasi Unkhair.

“Bangun kolaborasi, dan optimalkan potensi untuk memberi manfaat bagi diri sendiri, Unkhair, Maluku Utara, serta Indonesia,” kata Jamal.

Kata Jamal, mahasiswa merupakan bagian penting dari civitas akademika. Karena itu, pengembangan organisasi kemahasiswaan harus berjalan seiring dengan penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ia mengapresiasi semangat mahasiswa yang tetap aktif mengembangkan diri dan lembaga di tengah keterbatasan serta efisiensi anggaran.

“Saya melihat, luar biasa mahasiswa punya semangat untuk mengembangkan dirinya dan untuk mengembangkan lembaga ini,” tuturnya.

Usai prosesi pelantikan, dilanjutkan dengan materi Kepemimpinan Transformasional dalam Penguatan Budaya Ormawa yang disampaikan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Ternate, Syaiful Bahri, S.Psi., MA.

Syaiful mengatakan, organisasi mahasiswa menghadapi tantangan seperti komunikasi yang kurang efektif, konflik internal, kepemimpinan yang tidak demokratis, serta rendahnya keterlibatan anggota.

Menurutnya, kepemimpinan transformasional diperlukan agar pemimpin tidak sekadar memberi instruksi, tetapi mampu membangun visi, memotivasi, memberdayakan, dan memberi teladan kepada anggota.

Syaiful menjelaskan empat dimensi utama kepemimpinan transformasional atau 4I, yakni Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, Individualized Consideration, dan Idealized Influence.

“Pemimpin transformasional tidak hanya memerintah, tetapi mampu mengubah cara berpikir, membangun motivasi, dan menciptakan budaya kerja,” kata Syaiful.

Ia mencontohkan, pemimpin perlu membangun visi bersama dan memberi ruang bagi anggota untuk berinovasi, bukan langsung menyalahkan ketika partisipasi organisasi menurun.

Selain kepemimpinan, Syaiful menekankan pentingnya membangun empat budaya kerja dalam organisasi mahasiswa, yakni budaya integritas, komunikasi terbuka, apresiasi, dan budaya belajar.

“Kalau ada kesalahan, jangan ditutupi, tetapi jadikan feedback untuk perbaikan organisasi. Apa pun masalahnya, perlu kita bicarakan bersama,” ujarnya.

Sebanyak 10 organisasi mahasiswa yang dilantik terdiri dari UKM-KI LDK Babusallam, UKM KSR PMI, UKM Scuba Diving, KM Pramuka, KM Pers Aspirasi, KM Musik Macsadipta, KM Riset Khairun Cendekia, KM Taekwondo, KM Kempo, dan KM PMK.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter