Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
_______
Hari ini ada sejarah baru. Kita tak salah. Kita hanya mungkin keliru memilih waktu dan tempat untuk “hadir”: Kapan di lapangan terbuka dan kapan di basement masjid.
Ada sebuah metafora populer, bagaimana orang keliru memahami konteks terhadap sesuatu hal. Itu dari Hamid Usman, seorang tokoh senior Partai Golkar dan pejuang Provinsi Maluku Utara: Bersembunyi di lapangan terbuka
MEMBACA berita event Musabaqah Tilawatil Quran (STQ) tingkat provinsi dilaksanakan di ruang basement masjid raya, saya mengingat ungkapan itu. Nalarnya kebalikan: Syiar agama di ruang tertutup.
Ya, beberapa hari terakhir ini, sedang terjadi perdebatan hingga protes warga yang beredar luas. Mulai dari warga biasa, aktivis Islam hingga tokoh agama di Maluku Utara. Tak hanya itu, juga dari anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, dari partai penguasa, Gerindra. Yang dipersoalkan adalah tempat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Maluku Utara di area basement atau lantai dasar Masjid Raya Shaful Khaerat, Sofifi, ibu kota Provinsi Maluku Utara.
Banyak argumen yang melatari protes itu. Mulai dari alasan syiar, pelaksanaannya yang terkesan setengah hati, minim publikasi, hingga membandingkannya dengan kegiatan seremoni berbiaya besar lainnya.
Fungsi utama MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) adalah sebagai sarana syiar Islam dan upaya konkret umat untuk menggali, memahami, serta mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an agar menjadi pedoman hidup.
Memang event semacam ini, dan juga event sama bagi pemeluk agama lain, jika alasannya semata-mata soal syiar agama, itu mungkin terlalu simpel fungsinya di era yang nyaris serba digital ini. Soalnya lebih dari sekadar itu. Itu kata sebagian orang. Tapi sensasi menyaksikan langsung sesuatu objek itu tak bisa digantikan dengan ruang digital. Sama seperti anda yang punya hobi membaca, akan terasa berbeda sensasinya membaca buku fisik dan buku digital.
Tapi poinnya, ini adalah event resmi yang ada regulasinya di tingkat pusat. Bukan di atur-atur atau mengikuti selera daerah. Ada jenjangnya dari tingkat kecamatan hingga nasional. Ada juga even di tingkat internasional. Jadi tentu ada targetnya.
Maluku Utara adalah wilayah yang sejak dulu, karena latar kesultanan, punya kultur Islam yang sangat kental. Jadi, membandingkan reaksi publik Maluku Utara atas tampilan MTQ tingkat provinsi yang berasa kecamatan, itu bisa setara membayangkan reaksi serupa masyarakat Aceh dan beberapa daerah di Indonesia yang berlatar sama. Artinya, ini soal marwah daerah dari sisi akar historisnya.
Di segmen masyarakat tertentu, bahkan gengsinya ada di sini. Punya satu anggota keluarga yang pernah jadi peserta MTQ dan sejenisnya, itu sudah luar biasa. Apalagi jadi juara. Ini kultur positif yang terpelihara di masyarakat kita dan pemerintah berkepentingan merawatnya, meski beda “selera”. Bisa dibilang setara dengan orientasi nilai dominan lainnya, seperti berpendidikan
tinggi dan bisa berhaji. Pemerintah daerah harus peka pada hal-hal begini. Ada logika bagus dari judul berita media, rapat di hotel berbintang tapi event begini di basement masjid.
Ada argumen, tampilan tak selamanya mencerminkan kualitas isinya. Dalam beberapa kasus mungkin bisa benar. Meski faktanya, sulit menemukan bola lampu bermerk philips yang berharga murah. Kecuali produk palsu. Juga, ini berbeda konteksnya. Ini soal kepekaan dan rasa adil dalam mengelola kebijakan.
Sedikit menyelami legasi yang ditinggalkan mantan gubernur KH Abdul Gani Kasuba. Membangun masjid raya yang megah di pusat ibu kota provinsi, dan “meresmikan”nya dengan menggelar STQ, sebuah event berskala nasional, di tengah “belantara”, dalam kondisi serba berkekurangan dan berisiko, itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang memahami akar kultural-religius daerahnya. Lepas dari berbagai kekurangannya sebagai manusia biasa, semua ini bernilai legasi. Suka atau tidak. Yang pasti, fakta Sofifi saat ini, masih berharap sangat banyak orang untuk bisa datang dengan membawa dompet. Dan event MTQ adalah etalasenya.
Kultur Islam yang terbangun sejak awal di wilayah ini, dan sejak pertama kali event MTQ itu digelar secara resmi dan berjenjang, harmoni itu selalu mesra dan beriringan hingga saat. Menyisakan serpihan memori indah yang tak lekang waktu. Banyak dari qari dan qariah daerah ini yang telah mengukir dan merawat marwah daerah ini, bahkan hingga ke panggung internasional. Tentu ini bukan hal biasa, bagi mereka yang tak terbiasa berpikir biasa.
Hari ada sejarah baru. Kita tak salah. Kita hanya mungkin keliru memilih waktu dan tempat untuk “hadir”: Kapan di lapangan terbuka dan kapan di basement masjid. wallahua’lam. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.