Tandaseru — Sektor pertambangan modern saat ini kerap dihadapkan pada tantangan lingkungan, salah satunya adalah isu pencemaran lumpur dari area tambang ke sungai hingga laut.
Merespons ancaman tersebut, Harita Nickel memperkuat komitmen menjaga ekosistem di Pulau Obi, Halmahera Selatan, dengan menyediakan lahan seluas 43 hektar khusus untuk sistem kolam pengendapan (sediment pond).
Sediment pond sendiri merupakan kolam penampungan sementara yang berfungsi menahan air limpasan (runoff) dari area penambangan. Kolam ini dirancang agar partikel padat seperti lumpur dan tanah dapat mengendap di dasar kolam, sehingga air yang dialirkan keluar (efluen) menjadi lebih jernih dan memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke perairan umum.
Assistant Vice President (AVP) Site Corporate Communications Harita Nickel, Joseph Sinaga, memaparkan bahwa sistem pengelolaan air tambang ini dijalankan secara masif, terstruktur, dan terintegrasi langsung dengan sistem pemantauan pemerintah.
”Di pabrik konvensional, operator fasilitas pengolahan air (water treatment plant) bisa mengatur pompa inlet secara stabil. Sedangkan di area tambang, alam yang memegang kendali inlet. Tim kami harus selalu siap siaga menghadapi perubahan cuaca yang dinamis,” ujar Joseph saat menjelaskan tingginya tingkat kesulitan operasional di lapangan, Sabtu (06/06/2026).
Saat ini, infrastruktur pengelolaan air tersebut mencakup 52 unit kolam pengendapan di atas lahan 43 hektar. Perusahaan menerapkan metode aliran zigzag guna memperpanjang jarak tempuh air dari pintu masuk (inlet) menuju pintu keluar (outlet).

Metode ini terbukti efektif memperlama waktu tinggal air (Hydraulic Retention Time/HRT), yang memberikan kesempatan optimal bagi partikel tersuspensi untuk mengendap sempurna dengan bantuan bahan koagulan dan flokulan.
Joseph menambahkan, fluktuasi curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim menjadi tantangan utama tim di lapangan. Sebagai gambaran, curah hujan di kawasan Pulau Obi sempat menyentuh angka 4.600 mm pada tahun 2022, kemudian mengalami penurunan ke kisaran 3.300 mm pada tahun berikutnya.
“Ketika hujan lebat terjadi, lonjakan debit air (peak flow) secara mendadak akan membawa beban total padatan tersuspensi (Total Suspended Solids/TSS) yang sangat tinggi ke dalam kolam,” ungkapnya.
Guna mengantisipasi pendangkalan akibat tingginya volume sedimentasi, Harita Nickel mengerahkan armada ekskavator dan dump truck secara aktif untuk mengeruk lumpur. Sedimen tersebut kemudian dipindahkan ke area pengeringan (drying area) sebelum dibawa ke lokasi pembuangan (disposal) untuk keperluan reklamasi lahan.
“Proses pengerukan ini harus berkejaran dengan waktu agar sedimen yang telah mengendap tidak kembali teraduk oleh turbulensi air akibat hujan baru,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, kompleksitas pengelolaan air di Harita Nickel juga dipengaruhi oleh dinamika sosial dan ekosistem lokal.
“Lokasi pemukiman warga pendatang yang semakin dekat dengan jalur kanal menuntut operasional berjalan tanpa kesalahan demi menjaga transparansi publik,” katanya.
Di sisi lain, munculnya satwa liar seperti buaya di sekitar aliran air menjadi indikator ekologis bahwa air hasil olahan tersebut cukup bersih bagi fauna.
“Namun, kehadiran satwa tersebut sekaligus menjadi faktor risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ekstra bagi tim lapangan yang melakukan pemeliharaan kolam,” pungkasnya.
Sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi, seluruh parameter kualitas air di pintu pengeluaran dipantau secara ketat melalui sistem SPARING (Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan). Sistem digital ini terhubung secara real-time ke situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memastikan kadar pH, debit air, dan nilai TSS selalu berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan pemerintah.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.