Oleh: Syamsul Bahri Abd. Rasyid
Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pattimura
________
“Kita punya banyak babi dalam politik.”
– Eugene McCarthy –
KONON, manusia adalah makhluk paling mulia karena dianugerahi akal budi. Tapi, di setiap musim politik datang, keyakinan itu sering terdengar seperti janji kampanye: indah di baliho, meyakinkan di pidato, lalu hilang sekejap saat terpilih. Sebab dalam demokrasi modern, manusia tidak hanya memelihara babi, mereka juga belajar terlalu banyak darinya. Kadang, bahkan melampauinya. Babi biasanya hanya makan ketika lapar, sementara manusia, mampu makan sambil berpidato panjang tentang pengorbanan demi rakyat kecil.
Hubungan manusia dengan babi sesungguhnya sudah lama melampaui urusan kandang dan dapur. Di banyak kebudayaan, babi memikul makna sosial yang jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Ia bisa menjadi simbol status, alat diplomasi, bahkan penjamin perdamaian. Dan di Papua, posisi itu mencapai bentuknya yang paling khas.
Di Papua, babi bukan sekadar hewan ternak yang menunggu nasib dari serbuan batu panas dalam ritual Bakar Batu. Ia adalah simbol kehormatan, alat rekonsiliasi, medium solidaritas, mahar perkawinan, hingga penanda relasi sosial. Seekor babi kadang mampu menyelesaikan konflik lebih cepat daripada rapat koordinasi yang dipenuhi ucapan “kita ingin…”, “kita harus…”, “MBG”, hingga “Kopdes”, tetapi pulangnya tetap menyisakan konflik yang sama dengan notulensi yang hanya berguna sebagai arsip birokrasi.
Dalam tradisi Papua, babi tidak dipelihara semata untuk dimakan. Ia dipelihara untuk menjaga hubungan antarmanusia. Film dokumenter “Pesta Babi” memperlihatkan bagaimana babi dirawat dengan kesabaran dan dibagikan dengan penghormatan. Ia bukan instrumen kerakusan individual, melainkan perekat komunitas. Dalam pesta adat, tidak ada konsep “semua untuk saya sendiri”. Bahkan orang paling pendiam tetap mendapat bagian daging. Sebab dalam budaya komunal, pesta bukan tentang siapa yang paling kenyang, melainkan siapa yang tetap dianggap bagian dari keluarga secara sosial.
Namun ironi mulai lahir ketika babi berpindah dari ruang adat ke ruang politik. Di titik itu, maknanya mengalami mutasi ideologis. Dari simbol solidaritas, ia perlahan berubah menjadi alegori kerakusan kekuasaan. Lahirlah apa yang pantas disebut sebagai “babi yang berpesta”: para elite yang makan paling banyak sambil berbicara paling lantang tentang kelaparan.
Mereka mengundang masyarakat ke pesta demokrasi dengan spanduk penuh senyum dan slogan perubahan. Tetapi meja utama ternyata sudah lama dipesan untuk keluarga, kroni, sponsor politik, dan orang-orang yang nomor teleponnya lebih sakral daripada konstitusi. Rakyat dipersilakan masuk ke ruang pesta, tentu saja—asal cukup puas berdiri di dekat pintu sambil memegang kupon harapan.
Di sinilah satire politik menemukan habitat alaminya. Binatangisme yang diterjemahkan Mahbub Djunaidi dari novel alegoris karya George Orwell berjudul Animal Farm, tampaknya terlalu optimistis ketika membayangkan babi hanya menguasai peternakan. Orwell mungkin tidak membayangkan bahwa di abad modern, babi-babi politik sudah belajar memakai jas mahal, mengelola survei elektabilitas, menyewa konsultan pencitraan, lalu berbicara tentang hidup sederhana dari ruang VIP hotel berbintang lima.
Kalimat Orwell yang terkenal—“All animals are equal, but some animals are more equal than others”—hari ini terdengar bukan lagi seperti satire, melainkan tata tertib tidak tertulis dalam demokrasi modern. Semua warga negara memang memiliki satu suara, tetapi beberapa suara memiliki akses tambahan menuju proyek, kursi komisaris, izin tambang, dan jalur cepat ke lingkaran kekuasaan. Demokrasi akhirnya menyerupai pesta prasmanan: semua diundang, tetapi hanya sedikit yang tahu di mana makanan terbaik disimpan.
Dan sejarah memang berulang dengan selera humor yang aneh. Jauh sebelum politik modern dipenuhi buzzer dan konsultan media sosial, babi sudah digunakan sebagai simbol penghinaan politik. Dalam masa Revolusi Prancis, Raja Louis XVI pernah digambarkan dalam karikatur berkepala babi. Karikatur terkenal tahun 1791 yang dibuat oleh seniman Prancis, Villeneuve, menempelkan wajah sang raja pada tubuh seekor babi. Louis XVI, yang sebelumnya dianggap sebagai “Bapak Bangsa”, didekonstruksi dan diubah secara brutal menjadi “Raja Babi” (Duprat, 1992).
Karikatur itu sesungguhnya menyampaikan pesan yang sangat sederhana: rakyat mulai muak melihat penguasa makan sendirian terlalu lama. Dan memang, sejarah politik selalu memiliki hubungan emosional dengan babi. Dari monarki Eropa hingga demokrasi elektoral modern, babi berkali-kali dijadikan metafora bagi kekuasaan yang rakus. Bedanya, babi sungguhan biasanya jauh lebih jujur. Ia tidak pernah berpidato tentang moralitas sebelum masuk kandang paling mewah.
Dari sinilah kita masuk ke salah satu konsep paling menarik dalam ilmu politik modern: pork barrel politics atau politik gentong babi. Thomas D. Lancaster (1986) menjelaskan bahwa politik gentong babi adalah praktik distribusi proyek dan sumber daya publik demi mempertahankan dukungan elektoral. Dalam praktiknya, jalan mendadak diperbaiki menjelang pemilu, bantuan sosial turun tepat ketika elektabilitas menurun, dan proyek-proyek publik lahir dengan kecepatan yang membuat hukum fisika kehilangan rasa percaya diri. Politik akhirnya berubah menjadi industri pengelolaan rasa terima kasih. Rakyat diberi bantuan lalu diminta bersyukur, padahal uang bantuan itu berasal dari pajak rakyat sendiri. Anda barangkali masih ingat saat Presiden Prabowo memberi bantuan 1.098 ekor sapi dengan dana yang diambil dari APBN pada Idul Adha kemarin. Itulah bentuk nyata dari politik gentong babi, kendati yang dikurbankan adalah sapi.
Lebih jauh lagi, politik patronase tidak bekerja hanya melalui uang atau proyek. Ia bekerja melalui rasa ketergantungan sosial. Penelitian Ward Berenschot (2018) menunjukkan bahwa klientelisme bertahan bukan semata karena rakyat percaya penuh kepada elite, melainkan karena sistem membuat ketergantungan terasa lebih realistis daripada harapan perubahan. Dalam situasi seperti itu, pilihan politik sering kali bukan soal idealisme, tetapi soal bertahan hidup.Karena itulah, politik modern sangat cerdas menyusup ke ruang budaya. Ia tahu pidato ideologis terlalu membosankan bagi masyarakat yang hidup dalam tradisi kolektif. Maka elite datang ke ritual adat, ikut Bakar Batu, menyumbang babi, mengenakan atribut tradisional untuk sesi foto, lalu pulang membawa legitimasi simbolik dan stok konten media sosial. Budaya dijadikan panggung, adat dijadikan dekorasi, sementara rakyat perlahan berubah menjadi latar belakang pencitraan beresolusi tinggi.
Dalam konteks Papua, situasi ini terasa sangat relevan. Tradisi Bakar Batu yang semula berfungsi memperkuat solidaritas sosial dapat direduksi menjadi teknologi mobilisasi politik. Kandidat kepala daerah hadir dalam pesta adat, mendanai ritual, menyumbang babi, lalu memperoleh legitimasi simbolik dari masyarakat. Yang satu membakar batu untuk menjaga relasi sosial; yang lain membakar anggaran demi menjaga relasi elektoral. Aroma daging dan aroma kepentingan kadang bercampur begitu akrab hingga sulit dibedakan mana pesta babi dan mana babi yang sedang berpesta.
Penelitian tentang politik gentong babi bahkan menunjukkan bahwa praktik seperti ini sangat efektif di masyarakat dengan identitas kolektif yang kuat. Miroslav Nemčok (2020) menemukan bahwa kedekatan identitas membuat masyarakat cenderung tetap memberi kepercayaan kepada elite politik meskipun kebijakan yang dihasilkan tidak selalu menguntungkan mereka secara langsung. Kedekatan emosional sering kali lebih kuat daripada evaluasi rasional. Dalam politik, perasaan “dia orang kita” kadang lebih menentukan daripada pertanyaan “apa yang sebenarnya sudah dia kerjakan?”
Dan mungkin di sinilah satire terbesar demokrasi modern berada. Semua orang sebenarnya memahami permainan ini. Rakyat tahu elite sedang mencari suara. Elite tahu rakyat sadar sedang didekati demi suara. Tetapi keduanya tetap memainkan pertunjukan itu dengan kesungguhan teatrikal yang mengagumkan. Politikus tersenyum seolah sangat peduli. Rakyat bersalaman seolah sangat percaya. Kamera mengambil gambar. Media membuat berita. Demokrasi pun berjalan khidmat seperti sinetron panjang yang terus ditonton bukan karena ceritanya bagus, melainkan karena penonton merasa tidak punya saluran lain.
Pada akhirnya, ironi menjadi sempurna. Babi dalam budaya Papua justru jauh lebih bermartabat daripada “babi-babi politik” dalam metafora kekuasaan modern. Babi dalam ritual adat, mati untuk dibagikan kepada komunitas. Sementara babi dalam politik, justru hidup dari membagi-bagikan komunitas. Yang satu mengenyangkan banyak orang; yang lain mengenyangkan dirinya sendiri atas nama banyak orang.
Mungkin karena itu tragedi terbesar demokrasi modern bukanlah ketika babi masuk ke politik. Tragedi sesungguhnya adalah ketika politik mulai merasa nyaman hidup sebagai babi. Mereka berpesta tanpa pernah benar-benar kenyang, sambil terus meminta rakyat percaya bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan bersama.
Dan barangkali di situlah satire paling menyakitkan dari zaman ini: dahulu manusia memelihara babi untuk pesta adat. Sekarang, demokrasi modern justru tampak seperti peternakan besar tempat babi-babi kekuasaan memelihara manusia—agar tetap jinak, tetap lapar, tetap bertepuk tangan, dan tetap percaya bahwa remah-remah dari meja makan oligarki adalah sesuatu yang pantas disebut kesejahteraan. (*)
Referensi
Berenschot, Ward. (2018). The Political Economy of Clientelism: A Comparative Study of Indonesia’s Patronage Democracy. Comparative Political Studies,51(12), 1563–1593. https://doi.org/10.1177/0010414018758756
Duprat, Annie. (1992). Du Roi-père au roi-cochon. In R. Bourderon (Ed.), Le Jugement dernier des rois: Actes du colloque tenu à Saint-Denis du 2 au 4 février 1989 (pp. 81–90). Editions de l’Espace Européen.
Laksono, Dandhy. D. (Sutradara), & Dale, Cypri. P. (Sutradara). (2026). Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita [Film Dokumenter]
Lancaster, Thomas. D. (1986). Electoral Structures and Pork Barrel Politics. International Political Science Review, 7(1), 67–81. https://doi.org/10.1177/019251218600700107
Nemčok, Miroslav., Komar, O., Batrićević, N., Tóth, M., & Spáč, P. (2021). The role of ethnicity in the perception of pork barrel politics: Evidence from a survey experiment in Slovakia. Politics, 41(2), 257–275. https://doi.org/10.1177/0263395720920089
Orwell, George. (2020). Binatangisme. (Mahbub Djunaidi, Penerjemah). Yogyakarta: Gading. (Karya asli diterbitkan 1945)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.