Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
________

“Dan, hanya bermodal beberapa pohon jenis tabebuya [handroanthus chrysotrichus], pihak PLTU dipandang berhasil menjalankan strategi “penjinakan”: area yang dulunya dihindari karena takut terdampak polusi udara, justru beberapa hari terakhir sejak pagi hingga malam, berbalik menjadi public area baru tanpa sungkan, apalagi trauma”

INI gejala “kekagetan” baru di beberapa sudut Maluku Utara. Gejala yang dalam hitungan detik, bisa menyedot ribuan orang berpindah tempat seketika. Gejala yang bisa berimplikasi sosial-ekonomi, hanya dari balik layar ponsel.

Judul berita RRI Co.Id, Sabtu [2/5/2026], Tabebuya Mekar, PLTU Tidore jadi Spot Swafoto. Kutipannya: Halaman depan PLTU Tidore yang sebelumnya hanya difungsikan sebagai area peneduh, kini menjelma menjadi destinasi swafoto baru bagi warga Kota Tidore Kepulauan dan sekitarnya, Sabtu 2 Mei 2026. Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan jalan di sekitar PLTU Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Utara dipadati pengunjung yang datang untuk berfoto dengan latar deretan pohon tabebuya yang tengah bermekaran dengan warna-warni mencolok. Keindahan bunga tersebut pun ramai diperbincangkan di media sosial. Pemandangan tabebuya yang bermekaran itu disebut-sebut menyerupai suasana bunga sakura di Jepang. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri karena tergolong baru di Kota Tidore. Sejak pagi hingga malam hari, pengunjung terus berdatangan. Diketahui, tabebuya merupakan pohon tropis asal Brasil yang kerap ditanam sebagai peneduh jalan. Pohon ini populer karena bunganya lebat dan berwarna cerah, sehingga sering dijuluki sebagai sakura tropis atau golden trumpet tree.

Di tengah euforia bercampur kagum berlebih, saya mengomentarinya di sebuah WAG, andai ini pihak PLTU yang berinisiasi mendatangkan bibit dan menanamnya, maka itu adalah contoh visi. Soal bahwa mungkin saja maksudnya, “membungkus” efek debu dengan kondisi estetik, itu soal lain.

Soal bagaimana meminimalisir efek buruk dan berdampak masal dari aspek lingkungan, pohon menjadi salah satu solusinya. Itu sudah hal yang umum, mengubah image buruk menjadi berkesan ramah lingkungan.

Dalam kasus potensi pencemaran udara akibat berproduksinya PLTU tadi, fungsi pohon bisa menangkalnya. Itu karena, pohon tabebuya memberikan manfaat utama sebagai tanaman hias peneduh kota dengan bunga indah mirip sakura, meningkatkan kualitas udara dengan menyerap polusi, dan mempercantik lanskap taman atau pinggir jalan.

Ahmadi Sofyan, seorang penulis buku dan pemerhati sosial budaya, mengurai istilah kaget sosial. Pergaulan sempit, wawasan dan pengetahuan terbatas, sering menampilkan prilaku merasa hebat dan pintar. Kondisi ini seringkali memunculkan kelompok manusia bermental gampang kaget [terkejut] dengan perkembangan diri dan lingkungannya. Dan salah satunya, kaget sosial. Kaget sosial ini adalah jenis kaget yang paling banyak menimpa kita. Berbeda konteksnya dengan culture shock [gegar budaya].

Korelasinya dengan soal bunga tadi. Ini memunculkan beberapa kondisi reflektif atas fakta. Kita seperti “baru tahu”, kalau ada jenis pohon berbunga estetik ini, bisa menemukan habibatnya di sini. Dan andainya pohon itu belum mengeluarkan bunganya, dan dipandang menggangu area jalan dan kondisi lalulintas, mungkin saja telah lama ditebang. Karena itu bukan jalan perusahaan. Dan juga, kita tak tahu apa manfaatnya.

Andai saja telah diketahui sejak lama, pohon tabebuya dengan keindahan bunganya yang memesona, mungkin telah menghiasi taman kota dan public area, bahkan bisa menjadi icon kota. Tak jelas diwilayah lain di Maluku Utara, yang juga terlihat lagi “demam tabebuya”, sengaja ditanam sejak lama karena basis kesadaran visioner, atau tiba saat tiba akal. Berikutnya, kita di ajak untuk makin menjauh dan melupakan fakta tentang dampak polusi udara, yang menuai protes cukup lama dari wilayah sekitar, lembaga dan aktivis lingkungan.

Dan, hanya bermodal beberapa pohon jenis tabebuya [handroanthus chrysotrichus], pihak PLTU dipandang berhasil menjalankan strategi “penjinakan”: area yang dulunya dihindari karena takut terdampak polusi udara, justru beberapa hari terakhir sejak pagi hingga malam, berbalik menjadi public area baru tanpa sungkan, apalagi trauma. Wallahua’lam(*)