Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah

Penulis, Dosen Filsafat, Pegiat Literasi

________

MASIH tentang buku… Setelah kututup ternyata malah meninggalkan beban yang jauh lebih berat daripada saat ia masih tergeletak bisu di atas rak.

Setelah meminjam mata para pemikir itu, saya lalu menyadari bahwa pengetahuan sejati sebenarnya tidak sedang membebaskan kita dalam arti yang menyenangkan. Melainkan, ia sedang mengasingkan kita dari kerumunan yang selama ini terasa akrab.

Muncul semacam kengerian yang lembut ketika kita mulai melihat retakan pada realitas yang dulu kita anggap utuh dan kokoh. Sementara orang lain di sekitar kita masih sibuk merayakan hal-hal yang kini bagi kita terasa sungguh hampa.

Membaca tidak lagi sekadar pelarian dari keriuhan dunia. Tetapi telah berubah menjadi sebuah kutukan yang indah, tempat kita dipaksa untuk terus terjaga di saat semua orang lebih memilih untuk tidur dalam kenyamanan ilusi yang serba instan.

Di lorong hening ini, saya mulai mengerti bahwa semakin dalam kita menyusuri labirin pikiran orang lain, maka semakin kita akan merasa kesepian karena kita telah kehilangan bahasa untuk menjelaskan kegelisahan batin kepada mereka yang hanya peduli pada permukaan yang mengkilap.

Ketersisihan ini adalah harga yang harus dibayar saat kita mulai tegas mempertanyakan hal-hal yang oleh orang lain dianggap sudah final, dan keraguan yang kita pelihara dari halaman-halaman buku itu, perlahan merobek kenyamanan kita yang dulu begitu kokoh.

Nurani kita sedang diuji apakah kita akan memilih untuk kembali bersembunyi dalam ketidaktahuan yang aman atau berani berdiri tegak memikul tanggung jawab atas setiap kebenaran pahit yang sudah terlanjur kita ketahui.

Menjadi pemikir bukan berarti menjadi orang yang paling tahu segalanya. Tetapi menjadi orang yang paling gelisah karena sadar bahwa setiap jawaban yang ditemukan hanyalah awal dari sebuah pendakian panjang yang tidak pernah menjanjikan puncak yang terang benderang.

Maka hemat saya, buku tidak hanya memberi kita cakrawala baru, tetapi lebih untuk menuntut tumbal berupa kenyamanan lama kita yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali dengan cara yang sama, karena sekali pikiran itu terbuka, dunia tidak akan pernah lagi terlihat sesederhana sebelumnya. (*)