Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag.
Penulis, Dosen, Pegiat Filsafat
_______
SETIAP Lebaran datang, kalimat itu selalu kembali terdengar. Kita mengucapkannya dengan hangat, bahkan hampir tanpa berpikir panjang. Kembali ke fitrah. Seperti sesuatu yang telah lama tinggal dalam tradisi kita.
Tetapi beberapa waktu terakhir saya justru sering memikirkan ulang kalimat itu. Saya bukan meragukannya tetapi karena merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ucapan yang kita ulang setiap tahun. Apa sebenarnya yang kembali?
Lebaran selalu membawa suasana yang khas. Orang-orang pulang. Rumah yang lama sunyi tiba-tiba ramai lagi. Percakapan yang dulu terasa jauh perlahan menjadi lebih dekat. Ada tawa, ada haru, ada juga diam yang hangat di antara orang-orang yang sudah lama saling mengenal.
Lalu di momen seperti itu kita merasa hidup sedikit melambat. Dunia yang biasanya dipenuhi urusan tiba-tiba memberi ruang untuk melihat satu sama lain secara lebih tenang. Mungkin karena itu kata fitrah terasa pas diucapkan pada hari seperti ini. Seolah setelah sebulan menjalani Ramadan, manusia kembali menemukan sesuatu yang sempat jauh dari dirinya.
Tetapi semakin dipikirkan, kata kembali sebenarnya tidak sesederhana yang terdengar. Dalam hidup manusia, kita tidak pernah benar-benar kembali ke titik awal. Kita selalu membawa pengalaman, luka, ataupun perubahan yang secara diam-diam telah lama membentuk diri kita.
Karena itu, saya sering menduga bahwa fitrah lebih dekat pada sesuatu yang lain. Bukan keadaan yang tiba-tiba menjadi bersih, tetapi lebih seperti arah hidup yang kembali diingat. Seperti seseorang yang lama berjalan tanpa benar-benar memperhatikan ke mana ia menuju, lalu pada suatu waktu ia berhenti dan melihat lagi jalannya.
Apalagi dunia kita hari ini bergerak sangat cepat. Kita bekerja, mengejar harapan dan membangun rencana demi rencana. Lama-lama hidup terasa penuh oleh berbagai hal yang harus diselesaikan. Lalu tanpa terasa kita terbiasa hidup seperti itu. Bahkan menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Namun demikian, kadang di tengah semua itu muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Hidup berjalan tetapi ada bagian dari diri yang terasa tidak sepenuhnya ikut hadir. Kita menjalani banyak hal tetapi tidak selalu merasa benar-benar berada di dalamnya.
Dalam banyak perbincangan filsafat, keadaan seperti ini sering kali dipahami sebagai jarak manusia dari pusat dirinya sendiri. Bukan karena pusat itu hilang tetapi karena perhatian kita terlalu lama terserap oleh hal-hal di luar diri.
Ramadan sering kali datang seperti jeda di tengah arus itu. Ritme hidup berubah. Waktu terasa berbeda. Kita mulai memperhatikan hal-hal yang biasanya lewat begitu saja. Lalu dalam keheningan seperti itu kadang muncul kesadaran yang sederhana tetapi cukuo jernih. Bahwa hidup tidak selalu harus berjalan secepat yang kita kira.
Lalu Lebaran datang. Orang-orang saling meminta maaf. Sebuah tradisi yang terlihat sederhana tetapi sebenarnya menyimpan sesuatu yang cukup mendalam. Meminta maaf berarti mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Bahwa ada orang lain di dalam hidup kita yang perasaannya tidak bisa kita abaikan begitu saja.
Barangkali di situlah kata fitrah perlahan bisa dimengerti dengan cara yang lebih tenang. Bukan sesuatu yang tiba-tiba kembali dalam satu hari, tetapi lebih seperti ingatan yang muncul tentang arah hidup yang lebih dalam dari sekadar urusan kita sehari-hari. Namun kembali lagi. Pertanyaannya bahwa: Benarkah Lebaran membawa kita pada fitrah? Atau mungkin Lebaran hanya membuka sedikit ruang agar kita sempat melihat arah itu, sebelum hidup kembali berjalan seperti biasa.
Saya pribadi tidak cukup yakin pertanyaan ini perlu dijawab tergesa. Mungkin cukup dibiarkan tinggal di dalam pikiran kita masing-masing. Karena bisa jadi yang lebih penting bukan apakah kita sudah kembali fitrah tetapi apakah kita masih ingin mencari jalan pulang ke sana.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.