Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag

Penulis, Dosen, Pegiat Filsafat, Small Business Owner

________

BEBERAPA waktu lalu saya mendengar seseorang berkata dengan nada yang sangat yakin. Kalau seseorang semakin religius maka hidupnya pasti semakin tenang.

Terdengar masuk akal. Karena kita memang tumbuh dengan keyakinan seperti itu. Agama diajarkan sebagai jalan menuju ketenteraman. Ia menuntun manusia keluar dari kegelisahan. Bahkan bisa memberi arah ketika hidup terasa gelap.

Tetapi semakin lama saya memperhatikan kehidupan orang-orang di sekitar, keyakinan itu terasa tidak selalu sesederhana yang kita bayangkan.

Kita melihat ada orang yang hidupnya sangat religius. Ia disiplin menjalankan ibadah. Ia hadir dalam banyak kegiatan keagamaan. Ia bahkan tahu bahasa kesalehan dengan baik. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kegelisahan masih begitu mudah muncul.

Hal-hal kecil bisa membuatnya mudah tersinggung. Perbedaan pendapat bisa membuatnya marah. Kenyataan yang sedikit saja melenceng dari harapan sering kali terasa sulit diterima.

Pada situasi seperti itu saya sering bertanya kepada diri. Apakah religiusitas memang dengan sendirinya membawa ketenangan. Ataukah jangan-jangan kita selama ini terlalu cepat menyamakan keduanya.

Dalam tradisi refleksi spiritual Islam, kegelisahan manusia tidak pernah hanya dilihat dari seberapa banyak ia melakukan praktik keagamaan. Al-Ghazali pernah menggambarkan hati manusia sebagai ruang yang mudah dipenuhi oleh dorongan-dorongan ego.

Misalnya, keinginan untuk diakui. Keinginan untuk menang. Keinginan agar dunia berjalan sesuai dengan kehendak diri. Selama dorongan itu masih menjadi pusat kehidupan batin, maka kesibukan religius bisa saja terus bertambah tetapi kegelisahan tetap menemukan tempatnya.

Refleksi yang mirip juga muncul dalam filsafat eksistensial. Søren Kierkegaard melihat religiusitas bukan pertama-tama sebagai identitas sosial, tetapi lebih sebagai pergulatan batin yang sangat sunyi. Pergulatan ketika manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Dengan kecemasan yang tidak selalu bisa ia jelaskan. Atau dengan kesadaran bahwa hidup ternyata tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Mungkin karena itulah, maka religiusitas yang sungguh-sungguh tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah. Ia justru sering membuat seseorang lebih jujur melihat dirinya sendiri. Lebih sadar bahwa hidup ini penuh keterbatasan. Dan lebih hati-hati dalam menilai orang lain.

Dan barangkali dari situlah ketenangan bisa perlahan-lahan tumbuh. Tidak saja karena seseorang terlihat semakin religius. Tetapi lebih karena ia mulai belajar meletakkan egonya sedikit lebih rendah di hadapan kehidupan. (*)