Tandaseru — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengusulkan perubahan nomenklatur SMA Negeri 1 Tidore menjadi SMA Negeri 1 Zainal Abidin Syah Tidore Kepulauan. Usulan tersebut disampaikan setelah Abubakar menjadi inspektur upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, mewakili Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.
Menurut Abubakar, usulan itu didasarkan pada nilai historis bangunan SMA Negeri 1 Tidore yang pernah menjadi kantor Gubernur Irian Barat pada masa awal pemerintahan provinsi tersebut.
Ia menjelaskan, pada dekade 1950-an, Soasio di Tidore pernah menjadi pusat pemerintahan Irian Barat. Sultan Zainal Abidin Syah tercatat sebagai gubernur pertama Irian Barat. Setelah pusat pemerintahan berpindah, bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai gedung SMA Negeri 1 Tidore.
Abubakar menilai sejarah tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan Maluku Utara yang perlu dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan.
“Bangunan ini bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Ada jejak sejarah yang melekat di dalamnya. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga ingatan kolektif tentang perjalanan daerah ini,” ujarnya.
Ia meminta pihak sekolah mengkaji, berkonsultasi dengan berbagai pihak, dan mengajukan usulan perubahan nomenklatur secara resmi agar SMA Negeri 1 Tidore menjadi SMA Negeri 1 Zainal Abidin Syah Tidore Kepulauan.
Menurutnya, pemberian nama tokoh sejarah pada satuan pendidikan dapat menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus bentuk penghormatan terhadap tokoh yang berperan penting dalam perjalanan pemerintahan dan daerah.
“Perubahan nomenklatur ini perlu dikaji dengan baik, berkoordinasi dengan tokoh daerah, dan mengikuti mekanisme yang berlaku. Harapannya, nama sekolah tidak hanya menjadi identitas administratif, tetapi juga membawa nilai sejarah dan keteladanan bagi peserta didik,” katanya.
Peringatan Sumpah Pemuda dinilai menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah di lingkungan sekolah. Menurut Abubakar, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu berjalan beriringan dengan pengenalan sejarah lokal sebagai bagian dari identitas kebangsaan.
Ia berharap, melalui kajian dan pengusulan resmi, SMA Negeri 1 Tidore dapat memperkuat identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berprestasi, tetapi juga memahami sejarah, menghargai jasa para pendahulu, dan bangga terhadap daerahnya.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.