Oleh: Suko Wahyudi
Pegiat Literasi, Tinggal di Yogyakarta
________
DI tengah berbagai pidato optimistis tentang masa depan Indonesia, ada kenyataan yang berjalan berlawanan arah. Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan, gelombang pemutusan hubungan kerja datang silih berganti, daya beli masyarakat melemah, dan kesempatan kerja semakin sulit diperoleh. Pada saat yang sama, Indonesia disebut sedang menikmati bonus demografi, sebuah keadaan yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai pintu menuju kemajuan bangsa. Namun pertanyaannya sederhana: apakah bonus demografi akan benar-benar menjadi berkah ketika ekonomi rakyat justru sedang kehilangan tenaga untuk berdiri tegak?
Kita sering kali terpesona oleh angka-angka statistik. Ketika jumlah penduduk usia produktif meningkat, para perencana pembangunan segera berbicara tentang peluang emas. Seolah-olah banyaknya penduduk muda dengan sendirinya akan melahirkan kemajuan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa manusia bukan sekadar angka. Ia adalah makhluk yang membutuhkan pendidikan, pekerjaan, ruang kreativitas, dan harapan hidup yang layak. Tanpa itu semua, bonus demografi hanya akan menjadi istilah indah dalam dokumen perencanaan negara.
Bonus yang Dipertaruhkan
Bonus demografi sesungguhnya bukan hadiah yang turun dari langit. Ia adalah peluang yang harus diperjuangkan melalui kerja keras sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Banyak negara berhasil memanfaatkannya karena mampu membangun sistem pendidikan yang kuat, memperluas kesempatan kerja, dan menghadirkan keadilan dalam distribusi hasil pembangunan. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang gagal karena membiarkan penduduk mudanya tumbuh tanpa arah dan masa depan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, bonus demografi justru hadir di tengah sejumlah persoalan yang saling bertumpuk. Melemahnya rupiah tidak hanya berarti perubahan angka kurs di pasar keuangan. Ia adalah cermin rapuhnya struktur ekonomi yang masih bergantung pada banyak faktor di luar kemampuan rakyat untuk mengendalikannya. Ketika biaya produksi meningkat dan pasar mengalami perlambatan, yang pertama kali merasakan dampaknya bukanlah para pemilik modal besar, melainkan para pekerja yang hidup dari upah bulanannya.
Di sinilah PHK menjadi lebih dari sekadar persoalan administrasi perusahaan. Ia adalah peristiwa sosial yang mengubah kehidupan keluarga. Ketika seorang pekerja kehilangan pekerjaan, yang terguncang bukan hanya pendapatannya, tetapi juga rasa aman, harga diri, dan harapan tentang masa depan anak-anaknya. Karena itu, angka PHK tidak dapat dibaca sekadar sebagai statistik ekonomi. Di balik setiap angka terdapat manusia dengan segala kecemasan dan impiannya.
Bersamaan dengan itu, daya beli masyarakat yang terus melemah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menyentuh kehidupan rakyat kebanyakan. Pasar mungkin tetap ramai, pusat perbelanjaan mungkin tetap berdiri megah, tetapi banyak keluarga harus menghitung ulang kebutuhan sehari-harinya. Mereka belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan bukan karena kesadaran filosofis, melainkan karena keterbatasan ekonomi.
Yang paling merasakan situasi tersebut adalah generasi muda. Mereka yang baru menyelesaikan pendidikan memasuki dunia kerja yang tidak lagi menjanjikan kepastian. Lapangan kerja yang tersedia semakin terbatas, sementara jumlah pencari kerja terus bertambah. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang harus menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan kompetensinya, atau bahkan menganggur dalam waktu yang panjang.
Ironinya, pada saat itulah bonus demografi terus dirayakan sebagai keberhasilan pembangunan. Kita seolah lebih sibuk menghitung jumlah penduduk produktif daripada memikirkan bagaimana mereka dapat hidup secara produktif. Padahal yang menentukan masa depan bangsa bukanlah banyaknya manusia usia kerja, melainkan kualitas kemanusiaan yang tumbuh dalam diri mereka.
Krisis Harapan
Persoalan terbesar sesungguhnya bukan terletak pada melemahnya rupiah atau tingginya angka pengangguran. Persoalan yang lebih mendasar adalah melemahnya harapan sosial. Ketika generasi muda mulai meragukan bahwa kerja keras dapat mengubah kehidupannya, ketika pendidikan tidak lagi menjamin kesempatan yang lebih baik, dan ketika politik kehilangan kemampuan menghadirkan keadilan, maka yang sedang mengalami krisis bukan hanya ekonomi, melainkan juga masa depan bangsa.
Dalam perspektif kemanusiaan, pembangunan tidak boleh diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi. Sebab pertumbuhan dapat terjadi tanpa keadilan. Angka-angka makro dapat menunjukkan keberhasilan, sementara kehidupan rakyat menunjukkan kenyataan yang berbeda. Di sinilah perlunya melihat pembangunan sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar memperbesar angka-angka produksi dan konsumsi.
Karena itu, bonus demografi seharusnya dibaca sebagai tantangan etis. Ia menuntut negara untuk menyediakan pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar meluluskan. Ia menuntut ekonomi yang membuka kesempatan kerja, bukan sekadar menghasilkan keuntungan. Ia menuntut politik yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar memenangkan perebutan kekuasaan.
Pelemahan rupiah, PHK, lesunya daya beli, dan tingginya pengangguran sesungguhnya merupakan gejala dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu belum terbangunnya sistem sosial yang mampu menjadikan manusia sebagai pusat pembangunan. Selama manusia hanya dipandang sebagai alat pertumbuhan ekonomi, maka bonus demografi akan selalu berada di bawah bayang-bayang kegagalan.
Indonesia kini sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi terdapat peluang besar yang lahir dari melimpahnya penduduk usia produktif. Di sisi lain terdapat ancaman lahirnya generasi yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan keyakinan terhadap masa depan. Pilihan di antara keduanya tidak ditentukan oleh nasib, melainkan oleh kebijakan dan keberanian moral para penyelenggara negara.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah berapa besar bonus demografi yang dimiliki Indonesia, melainkan sejauh mana bangsa ini mampu memelihara harapan generasi mudanya. Sebab suatu bangsa tidak runtuh karena kekurangan sumber daya alam atau jumlah penduduk. Sebuah bangsa runtuh ketika rakyatnya kehilangan keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan. Dan di situlah sesungguhnya makna bonus demografi sedang dipertaruhkan hari ini. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.