Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
“…Mitigasi sejati merupakan kesadaran sehari-hari…
bencana akan datang, tetapi apakah kita masih akan kehilangan
kesadaran yang sama?”
DALAM beberapa hari jelang awal tahun 2026, di permulaan bulan Januari, sejumlah desa di wilayah kabupaten/kota di Maluku Utara (Kota Ternate, Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan beberapa wilayah lainnya), hujan meluah, tercurah demikian besar, berkepanjangan, menghadirkan bencana banjir. Bencana itu datang tanpa mengetuk pintu. Ia hadir saat hujan turun sedikit lebih lama dari biasanya. Saat sungai dan barangka meluap, drainase tersumbat, dan tanah kehilangan daya serapnya. Banjir menjadi peristiwa rutin. Bukan lagi kejutan. Namun ironisnya, kesadaran kita justru tumpul. Kita marah saat air masuk rumah. Kita mengeluh ketika jalan terendam. Tetapi setelah air surut, ingatan ikut mengering. Mitigasi bencana acap dipahami secara sempit. Sebatas tanggap darurat. Logistik. Evakuasi. Tenda pengungsian. Kunjungan pejabat daerah.
Padahal mitigasi merupakan kerja panjang. Ia dimulai jauh sebelum hujan turun, dan berlanjut lama setelah bencana berlalu. Menurut United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR, 2017), mitigasi merupakan upaya sistematis untuk mengurangi risiko dan dampak bencana melalui kebijakan, perencanaan ruang, dan perubahan perilaku masyarakat. Masalahnya, di banyak tempat, mitigasi berhenti di dokumen. Tidak hidup dalam keseharian. Tidak menjadi kesadaran kolektif. Kita kehilangan kepekaan ekologis. Kita lupa bahwa alam memiliki batas. Bahwa sungai, barangka bukan saluran sampah. Bahwa hutan bukan cadangan lahan kosong.
Banjir bukan semata peristiwa alam. Ia merupakan peristiwa sosial. Hasil akumulasi keputusan manusia. Sebagian ahli menyebutkan, masyarakat modern sebagai masyarakat berisiko. Masyarakat yang memproduksi risiko dari kemajuan yang ia banggakan sendiri. Pembangunan yang abai lingkungan akan menciptakan bencana yang terstruktur. Terencana, dan berulang. Setiap tahun, kita menyaksikan banjir di lokasi yang sama. Waktu yang hampir sama. Dengan alasan yang itu-itu saja. Curah hujan tinggi. Cuaca ekstrem. Faktor alam. Narasi ini nyaman. Karena membebaskan kita dari tanggung jawab. Padahal, perubahan tata ruang, alih fungsi lahan, dan hilangnya ruang hijau merupakan faktor dominan. Bukan sekadar hujan.
Menurut Wisner et al., (2004), bencana terjadi ketika bahaya alam bertemu dengan kerentanan sosial. Kerentanan itulah yang kita pelihara. Permukiman tumbuh di bantaran sungai, di pinggir barangka . Gunung dan bukit digerus tanpa pemulihan. Kota disemen tanpa ruang resapan. Lalu kita heran mengapa air tak punya tempat pergi. Kesadaran mitigasi menuntut perubahan cara berpikir. Dari reaktif ke preventif. Dari proyek ke proses. Dari teknokratis ke partisipatif.
Mitigasi bukan hanya tugas pemerintah. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Namun di sinilah masalah berikutnya muncul. Partisipasi acap diminta setelah bencana. Bukan sebelum. Masyarakat hanya dipanggil untuk bersih-bersih, kerja bakti. Bukan untuk merancang. Akibatnya, pengetahuan lokal terabaikan. Padahal masyarakat paling tahu tanda-tanda alam. Pola air. Arah angin. Siklus musim.
Kegagalan negara modern acap terjadi karena mengabaikan pengetahuan lokal demi skema besar yang tampak rapi di atas kertas (Scott, 1998). Mitigasi yang kehilangan konteks sosial akan gagal. Karena bencana tidak hanya merusak bangunan. Ia merusak relasi. Merusak ekonomi, dan mengancam rasa aman. Bencana ekologi lain memperlihatkan pola serupa. Longsor. Kekeringan. Kebakaran hutan. Semuanya terhubung dengan cara kita memperlakukan alam. Ekologi bukan urusan aktivis semata. Ia soal keberlanjutan hidup. Ketika kita menutup mata terhadap peringatan kecil, alam menjawab dengan peringatan besar.
Mitigasi sejati merupakan kesadaran sehari-hari. Tidak membuang sampah sembarangan. Menjaga sungai dan barangka. Menolak pembangunan yang merusak. Ia tampak sederhana. Namun justru di situlah kuncinya. Anthony Giddens (1990) menekankan pentingnya refleksivitas sosial, yaitu kemampuan masyarakat mengevaluasi ulang praktik hidupnya sendiri. Tanpa refleksi, kita hanya mengulang kesalahan. Banjir akan Kembali, dengan air yang lebih tinggi, dan dampak yang lebih luas. Pertanyaannya, bukan apakah bencana akan datang, tetapi apakah kita masih akan kehilangan kesadaran yang sama?
Mitigasi bukan soal alat canggih. Bukan soal sirene atau peta digital semata. Ia soal keberanian untuk berubah. Sebelum alam memaksa kita belajar dengan cara yang paling mahal. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.