“Bapak ibu bisa bayangkan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sangat tinggi, tapi tidak diikuti dengan kesejahteraan masyarakat. Semua dikelola oleh orang-orang dari luar,” tukasnya.

Ia menambahkan, belakangan ini ada calon gubernur yang mencoba menjual airmata dan tangisan untuk menjadi gubernur.

“Tetapi negeri ini tidak butuh airmata dan tangisan untuk dibangun. Rakyat butuh pemimpin yang tegas untuk menghadirkan rasa keadilan dan mewujudkan kesejahteraan. Kalo soal airmata dan kesedihan, banyak tangisan orang-orang miskin dan terbelakang, anak-anak yang butuh sekolah, itu yang harus didengar dan dilihat,” ujarnya.

Kepulauan Sula, sambungnya, adalah negeri tempat kapita dan sangaji kesultanan berasal. Mereka terlibat dalam membawa kesultanan menuju masa keemasannya.

“Karena itu, malam ini Waiboga harus memberikan kesaksian, para sangaji-sangaji muda, para kapita-kapita muda, tidak akan meninggalkan sultannya berjuang sendiri. Coblos nomor 1!” tandas Muis.

Sementara Sultan Husain dalam orasinya mengungkapkan alasan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri memberikan rekomendasi partai kepadanya tanpa mahar sepeser pun adalah karena ikatan sejarah.

“Ibu Mega menyatakan NKRI baru disebut NKRI setelah Sultan Zainal Abidin Sjah menyerahkan sebagian wilayah kekuasaannya ke Indonesia,” ungkap Sultan.

Sultan Zainal kala itu diberikan tiga opsi oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia yang juga ayah Megawati. Opsi pertama adalah membawa Tidore dan Papua yang merupakan wilayah Kesultanan Tidore bergabung dengan Belanda. Opsi kedua, Tidore dan Papua mendirikan negara sendiri. Serta opsi ketiga, Tidore dan Papua bergabung dengan Indonesia.