Muhammad adalah guru agama yang mengajari sebuah madrasah di pulau Makian. Ia jatuh cinta pada gadis Tafasoho dan kemudian menikahinya. Perkawinan mereka diberkahi tiga anak laki-laki. Yang tertua bernama Latif. Anak kedua diberi nama Gafur – ayah dari Salman. Hasan lahir tahun 1950. Adalah Idris Senen, adik laki-laki dari Suria yang membawa Hasan kecil ke Ternate untuk bersekolah setelah lulus SD di tanah kelahirannya.
“Saat Hasan tertembak, Kakek Idris berjalan kaki dari rumah di Salero hingga Takoma untuk mencarinya, tapi tidak bertemu. Hasan ditemui keluarga saat sudah berada di rumah sakit”, ceita Nurhayati Senen, salah satu ponakan Hasan. Nurhayati menyebut, jenazah Hasan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di pekuburan umum Salero. Pemerintah sempat meminta makam itu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Banau namun pihak keluarga menolak. Di pusara makam itu, tertulis “Pahlawan Ampera”. Ini semacam pengingat penting untuk kiprahnya yang menentang PKI.
Pada tahun 1966, PII melakuan musyawarah wilayah. Basir Samiun terpilih sebagai Ketua yang baru. Setahun setelahnya, PII melakukan pelatihan kader secara besar-besaran, Endang Basri Ananta – seorang kader militan dari pusat datang ke Ternate. Basri ditugaskan mengkonsolidasi kader dan pemantapan organisasi. Tahun-tahun itu, gerakan ganyang PKI masih bergemuruh di berbagai daerah. Republik belum sepenuhnya stabil. Pada saat pelatihan itulah, nama Hasan Senen direkomendasikan untuk diperjuangkan sebagai Pahlawan Ampera. Kelindan Hasan dan PII terus berlanjut. Ia jadi alegori yang terus menghidupkan bara revolusi.
PII sendiri dibentuk di Maluku Utara – saat itu masih kabupaten di bawah Maluku – pada tahun 1962. Belum ada pelatihan kader saat itu. Tapi doktrin “tandang ke gelanggang walau seorang” telah merasuki nadi banyak pemuda dan pelajar. Ini lebih pada sebuah kredo agar semua anggota harus siap berjuang sendirian. Apapun dan bagaimanapun situasi yang dihadapi. Syiar Islam jadi agenda utama. Ketika komunisme menyerang, PII berada di barisan depan untuk melawan. Masa itu, PKI punya banyak organisasi underbow. Ada Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (APPI), Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) hingga Sentralisasi Mahasiswa Indonesia.
Sesepuh PII Maluku Utara, Ali Sabtu menuturkan organisasi mereka bermula dari musyawarah di gedung SD Islamiyah. Sekitar enampuluhan pelajar berkumpul. Ramli Hamid terpilih jadi Ketua pertama. Sekretaris dipercayakan pada Jafar Sandiah. Ali sendiri dipercaya memimpin Departemen Penerangan. Usai musyawarah, rumah Ketua di bilangan Kadato Tidore dijadikan sekretariat. Dari sana diskusi terkait keummatan dan rencana aksi menentang komunisme rutin dilakukan. Mereka bahkan sempat menerbitkan sebuah surat kabar untuk kepentingan propaganda bernama “Sadar”.
Usai masa revolusi, PII tetap berkiprah dalam melayani ummat. Meski berjuang habis-habisan mengubur komunisme, PII justru menolak asas tunggal saat rezim Orde Baru memberlakukannya pada tahun 1984. Tempat kumpul para pelajar dimata-matai. Papan nama sekretariat dikamuflase. Proses pengkaderan dilakukan secara tertutup. Kader datang silih berganti. Sayangnya, yang berganti itu tak menyisakan jejak Hasan untuk orang-orang di luar PII. Anak muda hebat ini mulai terlupakan.
Seorang remaja pulang terlalu pagi
Hasan Senen, pahlawan Ampera
Tak tertulis
Tak disebut
Tak dikenang
Mengapa?
Ciputat, Jumat dinihari awal Juli 2023
Asghar Saleh. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.