Kematiannya menyisakan misteri. Seperti kisah Arif Rahman Hakim, tak ada yang tahu peluru siapa yang menghentikan langkah berani Hasan. Desas desus menyebut peluru itu berasal dari pistol seorang aparat negara. Motif penembakan tak jelas seburam siapa yang menarik pelatuk. Tak ada penyidikan. Mungkin karena revolusi tak menyisakan ruang untuk mencari kebenaran. Ernesto Che Guevara melukiskan pasase ini dengan kegetiran yang menusuk kewarasan ; dalam sebuah revolusi, seseorang menang atau mati. Tak peduli Ia adalah seorang demonstran.

Demonstrasi besar menolak PKI di Ternate hari itu bermula dari sebuah apel di lapangan bola di bilangan belakang Benteng. Bupati MS Djahir jadi komandan apel. Meski ia seorang aktivis PNI, sang Bupati bersuara tegas. PKI harus enyah dari tanah Ternate. Din Senen menyebut, arsitek utama di belakang aksi menolak PKI di Ternate adalah Komandan Militer saat itu Suwigno dan Kepala Kantor Kejaksaan, Bahruddin Lopa. Tentara adalah pihak yang paling tersakiti dalam pemberontakan PKI tanggal 30 September 1965. Tujuh Jenderal mereka diculik dan dibunuh dengan keji.

Asghar Saleh (paling kanan) bersama keluarga Hasan Senen. (Istimewa)

Negara dalam situasi genting. Informasi simpang siur. Tanggal 30 September malam, HMI Ternate melakukan malam inagurasi yang dipimpin Dul Safar. Namun tak ada kabar apapun soal makar. Ibu kota Jakarta sedang kacau balau. Kabar memilukan itu baru tiba di Ternate lebih dari seminggu setelah Gestapu. Tentara bergerak cepat menguasai situasi. Mahasiswa, pemuda dan pelajar diajak bergabung. Usai apel akbar, ribuan orang yang marah menelusuri jalan-jalan utama. Kekacauan terjadi saat toko-toko milik orang Cina dilempari dan dirusak. Aksi demonstrasi makin meluas dan kian anarkis.

Di kampus Universitas Khairun – sekarang jadi masjid An Nafii Takoma – mahasiswa dan pelajar berkumpul. Mereka akan melakukan long march ke arah utara. “Banyak sekali yang ikut. Ada anak-anak HMI dipimpin Samdan Tomaito dan banyak organisasi mahasiswa. Saya dan aktivis PII juga ikut. Di situ saya tahu Hasan adalah bagian dari PII,” cerita Din Senen yang ketika itu baru masuk di STM Ternate. Laki laki asal Gurabati Tidore ini menuturkan jika dirinya bergabung dengan PII karena tertarik dengan visi dan pola gerakan yang Islamis.

Dari Takoma, ratusan pemuda pelajar yang marah bergerak. Belum lama berjalan, tragedi berdarah itu terjadi. Hasan yang tertembak dan berlumurah darah dibawa ke Rumah Sakit yang terletak di depan benteng Oranje. Sebagian demonstran tetap bergerak di jalanan. Sebagian aktivis PII berjaga di rumah sakit. Selaksa doa dilangitkan untuk kesembuhan Hasan. Namun Tuhan punya rencana yang lain. Tiga hari dirawat secara intensif, 15 Oktober 1965 yang basah, Hasan mengembuskan nafasnya. Ia gugur dalam usia yang sangat belia. 15 tahun. Zainuddin melukiskan kepulangan pelajar kelas tiga Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Ternate ini dengan “duka se dodara” – kesedihan yang luar biasa rungkup kota.

Asghar Saleh (kanan) bersama saksi sejarah Din Senen. (Istimewa)

Di mata keluarga, Hasan adalah sosok yang tak tergantikan. “Dari cerita kakek Idris, Hasan itu anak yang pintar dan sangat aktif. Malam sebelum tertembak, dirinya sudah berpamitan ke keluarga hendak melanjutkan sekolah ke tanah Jawa,” tutur Salman Senen, ponakan dari Hasan yang saya temui di rumahnya di seputaran Jati Perumnas. Salman yang ditemani saudara dan ponakannya banyak berbagi informasi tentang sosok Hasan. Dari mereka saya jadi tahu jika Hasan adalah putera Tafasoho Makian. Ia lahir di sana. Jadi anak bungsu dari pasangan Muhammad bin Samad Iskandar Alam dan Suria Senen.